Kulonprogo Panen Cabai, Pasokan Nataru Aman

Minggu, 08 Desember 2019, 14:05 WIB

Kegiatan panen raya cabai di Kabupaten Kulonprogo, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jumat (6/12). | Sumber Foto:Agronet/360

AGRONET -- Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo kerap mengingatkan jajaran kementerian yang dipimpinnya agar tidak lengah menjaga ketersediaan bahan pangan bagi 260 juta rakyat Indonesia. Periode liburan Natal dan Tahun Baru (Nataru) yang berbarengan dengan musim liburan sekolah tahun ini diperkirakan akan mendongkrak konsumsi aneka bahan pangan, termasuk cabai.

Kementerian Pertanian (Kementan) pun sejak dini melakukan ancang-ancang pengamanan pasokan cabai di sentra-sentra produksi. Dengan begitu, diharapkan harga cabai bisa terkendali wajar.

“Saya bersama Bupati dan Dinas Pertanian Kulonprogo sudah melakukan panen raya di hamparan lahan cabai seluas 40 hektare. Kalau melihat areal tanam yang ada, kami optimis Kulonprogo mampu amankan pasokan cabai menjelang Natal tahun ini,” kata Kasubdit Cabai Direktorat Jenderal Hortikultura Kementan Mardiyah di sela-sela panen raya cabai di Trisik Banaran, Kecamatan Galur, Kulonprogo, DIY, Jumat (6/12).

Mardiyah menyebutkan, berdasarkan perhitungan pihaknya, Daerah Istimewa Yogyakarta termasuk daerah yang sudah mandiri dalam pemenuhan cabai. Salah satu penyumbang terbesarnya dari Kabupaten Kulonprogo.

“Berdasar data kami, rata-rata kebutuhan cabai besar di DIY sekitar 13 ribu ton per tahun, sedangkan produksi di Kulonprogo 25 ribu ton per tahun. Jadi, sudah mencukupi bahkan surplus,” kata Mardiyah. “Yang membanggakan, Kulonprogo sudah menjadi sentra cabai besar yang diperhitungkan di tingkat nasional karena menduduki urutan ke 12 sentra produksi cabai nasional. Share produksi cabai keriting menyumbang sebanyak 2,1 persen dan cabai rawit 0,17 persen dari total nasional,” sambung Mardiyah.

Bupati Kulonprogo Sutejo mengaku bangga dengan petani hortikultura di wilayahnya yang dikenal ulet. “Desa Banaran yang awalnya daerah miskin, kini telah berubah menjadi daerah makmur. Petani mendapat karunia Allah berupa lahan pasir yang disulap menjadi lahan produktif penghasil cabai dan melon,” tukas pria yang dilantik pada 7 November 2019 lalu setelah sebelumnya menjabat sebagai wakil bupati.

“Kami sangat berterima kasih kepada pemerintah yang telah memberikan banyak bantuan pompa air untuk pertanaman cabai dan melon. Warga sekarang menjadi makmur dan bisa bangun rumah,” ujar Sutejo. “Saya juga akan memberikan tambahan jalan usaha tani menuju lahan cabai. Prinsipnya, kalau bisa tanam sendiri, ya tidak perlu beli,” tambahnya.

Ketua Kelompok Tani Sidodadi Ngatimin mengaku senang dengan perhatian pemerintah yang mendukung budidaya cabai di daerahnya. “Setiap malam, di pasar lelang yang kami dirikan, mampu melakukan transaksi cabai hingga puluhan juta rupiah. Pasar lelang ini sangat membantu petani,” kata Ngatimin yang dikenal sebagai petani cabai sekaligus pengelola tempat lelang cabai di Desa Banaran, Kecamatan Galur.

Dia menyebutkan, di Kampung Trisik, Banaran, pertanaman cabai mencapai 40 hektare dan saat ini memasuki musim panen raya. Bahkan petani mampu menghasilkan cabai keriting 30 ton per hari untuk memasok pasar di Jateng, Jabodetabek, hingga Sumatera.

“Kalau untuk Natal dan Tahun Baru nanti, saya yakin aman,” ujar Ngatimin optimistis. (360)