Sejuta Petani Milenial Menteri Amran.

Jumat, 04 Januari 2019, 09:49 WIB

Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman. | Sumber Foto: Biro Humas dan Informasi Publik Kementan



“Selamat datang 2019, Maju terus petani Indonesia...!”

Andi Amran Sulaiman, Menteri Pertanian

 

“Sejuta petani milenial.” Merekalah yang diharap jadi ujung tombak ekspor pertanian Indonesia mendatang.  Setidaknya itu  resolusi Menteri  Pertanian Andi Amran Sulaiman buat 2019 ini. Resolusi besar yang ia canangkan pada pekan pertama tahun  baru sekarang.  Persisnya pada saat melepas ekspor sayuran ke Singapura, Hongkong, dan Brunei di Lembang (3/1/2019). 

Ya, mewujudkan sejuta petani milenial. Itu harapan yang memadai buat membuka hari-hari baru. Hari-hari setelah setahun berlalu dari rangkaian empat tahun terakhir kerja kementerian ini.  Kerja di bawah komando Menteri Amran yang telah menjungkirbalikkan paradigma lama pembangunan pertanian selama ini.

Bagi yang mengikuti sepak terjang kementerian ini di bawah kendali Menteri Amran, empat tahun yang berlalu sungguh tahun-tahun yang sangat dinamis.  Dalam kacamata birokrasi konvensional, mungkin malah tahun-tahun yang dramatis. Banyak format lama dibongkar. Lalu, ‘dengan cara saksama dan dalam tempo yang  sesingkat-singkatnya’,  dibangun format baru. 

Orang-orang tercengang dengan manuver kementerian ini. Baik pelaku agrobisnis maupun para ‘orang dalam’.  Seperti peneliti senior, Mat Sukur. Ia sudah merasakan kepemimpinan sepuluh menteri yang berbeda.  Namun, menurutnya, menteri yang satu ini berbeda. “Tak mau (kinerja) yang biasa-biasa saja. Harus luar biasa.”

Di tahun pertama, langkah Amran dan kementeriannya tak banyak diperhatikan publik. Ia memilih melangkah secara sunyi. Seperti membongkar format lama pengadaan barang dan jasa yang harus bergantung  pada  sistem lelang, hingga memungkinkan penjunjukan langsung secara cepat.  Sawah bisa segera dihabisi hama kalau buat membasmi hama menunggu lelang yang lama.  

Promosi , demosi, serta rotasi sumber daya manusia (SDM) pun dilakukan sangat cepat.  Ia tampaknya menginginkan sistem semacam total football di kementeriannya.  Setiap pejabat tak cukup hanya mengurusi  bidang kerjanya masing-masing. Semua harus pula mengawal program bersama.  Seperti  program ‘Pajale’  buat mendongkrak produksi padi, jagung dan kedelai.

Hasil dari gebrakan itu memang nyata. Pada padi sebagai komiditas yang paling sensitif di ranah politik, misalnya. Di tahun 2014, saat kementerian ini baru memulai kerjanya di Kabinet 2014-2019, produksi  padi baru sebesar 70,81 juta ton Gabah Kering Giling.  Produksi itu meningkat hingga mencapai  81,38 juta ton pada 2017. Padahal kemarau  akibat El Nino serius sempat  mengancam.

Lompatan yang paling signifikan adalah pada produksi jagung. “Dulu kita mengimpor jagung 3,6 juta ton setahun,” kata Menteri Amran.  Nilainya setara dengan Rp 10 trilyun. Sekarang Indonesia sudah menjadi eksportir jagung, walaupun akhir tahun ini perlu mengimpor lagi 100 ribu  ton.  Perubahan posisi Indonesia dari importir menjadi eksportir juga  terjadi pada komoditas bawang merah.

Itu hanya sebagian kecil dari hasil gebrakan  Menteri Amran. Gebrakan yang sedikit banyak membangkitkan kembali rasa percaya diri semua bahwa petanian Indonesia bisa maju. Apalagi sejarah juga menunjukkan begitu. Di masa Hindia Belanda, pertanian Nusantara salah satu yang termaju di dunia. Di masa awal Orde Baru, pertanian rakyat kita diapresiasi dunia pula lewat penghargaan dari FAO tahun 1984.

Dunia saat itu tengah meluncurkan gerakan Revolusi Hijau. Gerakan modernisasi pertanian rakyat untuk menjamin kecukupan pangan dunia.  Indonesia meresponnya dengan Gerakan Bimas yang mensosialisasikan  sistem ‘Panca Usaha Pertanian’.  Ditopang pula pembangunan Koperasi Unit Desa (KUD). Melejitlah produksi beras Indonesia.

Setelah melampaui puncak itu, perlahan posisi pertanian di pembangunan Indonesia surut kembali. Apalagi pangan bukan sekadar beras. Pertambahan jumlah penduduk, juga pergeseran permintaan kebutuhan pangan,  merusak ‘swasembada’.   Sedangkan ‘swasembada’  pun terus saja dipolitikkan.  Jadilah Indonesia importir serius berbagai komoditas pertanian.

Indonesia negara agraris. Namun Indonesia lalu jadi importir banyak produk pertanian dalam jumlah besar.  Bawang merah, bawang putih, jagung, hingga kedelai  bergantung pada impor. Cabai buat industri juga bergantung pada impor, sementara di dalam negeri  harga tanaman pedas ini pernah menyentuh Rp 100 ribu/kg.  Belum lagi impor buah-buahan,  daging, hingga gula.

Menteri demi menteri berusaha mengatasi persoalan itu.  Namun belum ada langkah besar yang dapat memberi  hasil signifikan bagi dunia pertanian kita. Hingga kemudian Andi Amran Sulaiman menjadi menteri pertanian. Dia pengusaha sebelum menjadi menteri. Sangat berani  melangkah dan membuat terobosan.

Perang wacana soal ekspor-impor diterjuninya sendiri. Begitu juga debat soal data pertanian yang dipersoalkan beberapa kalangan.  Sistem distribusi beras premium yang telah mapan ia bongkar karena, menurutnya, merupakan bagian praktik mafia pangan. Lalu, bantuan berupa traktor dan mesin-mesin digelontorkan buat modernisasi pertanian.

Modernisasi pertanian itu disebut memangkas biaya produksi hingga 30 persen. Selain itu, Kementerian Pertanian pun memberi petani bibit-bibit unggul. Bantuan yang dapat meningkatkan produksi 10 persen.  Peningkatan hasil dan pengurangan biaya itu itu yang membuat Menteri Amran berani menyebut bahwa “kesejahteraan petani meningkat”.  Apalagi petani  juga dibantu asuransi  buat menutup gagal panen.

 Banyak lagi yang dilakukan Menteri Amran.  Program SIWAB berhasil menjaga keberlangsungan populasi sapi nasional yang ada saat ini. Prosedur ekspor yang berbelit hingga tiga bulan dipangkasnya menjadi tiga jam, bila persyaratannya terpenuhi.  Belum lagi kontribusinya pada nilai inflasi pangan yang berada pada posisi terendah dalam beberapa tahun terakhir. Juga pembukaan lahan-lahan baru pertanian seperti  pada lahan pasang surut.

Semua itu dikomunikasikan dengan sangat gencar pada dua tahun terakhir.  Kegencaran komunikasi yang memang diperlukan buat  membangun optmisme dunia pertanian lebih tinggi lagi. “Delapan dari sepuluh orang terkaya di Indonesia itu berbisnis pertanian dan pangan, “ kata Menteri Amran.  Itu yang sering dipakainya menyemangati pelaku agrobisnis. Terutama menyemangati para milenial.

Ya, mencetak petani milenial sekarang jadi incaran Menteri Amran dan kementeriannya. Tak tanggung-tanggung angka incaran itu.  Yakni, sekali lagi, sejuta petani minelial. Target yang mustahil bila tak ditopang dengan terobosan besar pula. Terobosan yang publik sangat menantikan  dan Menteri Amran tentu telah menyiapkan.  Pada dan untuk 2019 ini. (Berlanjut)

Zaim Uchrowi, Ketua Dewan Redaksi AGRONET

BERITA TERKAIT