Sejuta Petani Milenial (2)

Jumat, 25 Januari 2019, 09:59 WIB

Kementerian Pertanian (Kementan) segera meluncurkan program Santri Tani Milenia | Sumber Foto:Dok Kementan

Petani milenial? Sejuta orang? Itu yang telah dicanangkan Menteri Pertanian. Di awal tahun 2019. Siapa pun yang mengenal Andi Amran Sulaiman –sang Menteri Pertanian— pasti paham: itu rencana serius. Jika sudah berkehendak, ia akan mengusahakannya. Sungguh-sungguh. Sampai berhasil. Itu karakternya.

Ya, sejuta petani milenial. Itu mungkin solusi masa depan. Itu mungkin model yang pas buat pertanian Indonesia. Setelah ¾ abad Indonesia  merdeka,  model pertanian kita masih belum jelas. Berbeda dengan Barat sudah mapan.  Yakni model korporasi-korporasi agrobisnis. Tanpa petani gurem.

Situasi Asia berbeda. Sangat banyak petani. Lahannya sempit-sempit. Masyarakat petani Jepang dan Taiwan berhasil menyiasati situasi itu. Semua petani bergabung dalam koperasi. Tanpa kecuali. Koperasi petani itu membantu petani dalam semua urusan. Dari A sampai Z. Dengan sangat profesional.

Thailand sedikit lain. Semua petani dan kelompok tani bermitra dengan pengusaha agrobisnis lokal. Champion di masing-masing daerah. Para champion daerah itu terkoneksi dengan pebisnis besar nasional. Yang terhubung dengan pasar global. Jadilah Thailand –yang seabad silam belajar dari kita—menjadi raja pertanian tropis dunia.

Kita belum punya model sesolid itu. Spektrum pertanian kita sangat melebar. Ada korporasi-korporasi agrobisnis raksasa di sektor perkebunan. Serupa dengan model bisnis perkebunan di zaman penjajahan. Lalu ada 39 juta petani yang berserak. Dengan lahan sempit-sempit.

Itu wajah pertanian kita. Saat ini. Dan masih bisa jadi wajah pertanian kita hingga jauh hari mendatang. Bila kita tak berusaha mengubahnya. Maka Presiden Jokowi mengingatkan. Agar dunia pertanian kita berubah. Agar benar-benar maju. Sesuai posisi kita. Sebagai bangsa agraris.

“Kembangkan orientasi pasar. Jangan menjual hanya terpaku di satu provinsi tetapi juga ke provinsi lain bahkan ekspor. Anak-anak mudanya bisa ikut membantu dengan menjual secara online agar dunia juga tahu produknya,” kata Presiden Jokowi. Januari 2018 silam.

Presiden Jokowi tahu, pertanian tak akan maju bila masih gunakan gaya lama. Bila masih diusahakan secara subsisten. Pertanian akan maju bila dikelola profesional. Dikelola seperti korporasi. Maka, “korporatisasi pertanian” menjadi keharusan.

Penunjukan Andi Amran Sulaiman sebagai Menteri Pertanian menegaskan arah itu. Menteri Amran punya reputasi tinggi. Sebagai pengusaha agrobisnis. Salah satu di antara yang paling berhasil di Sulawesi Selatan. Menteri Amran diharapkan mampu mengkorporatisasi dunia pertanian kita.

Empat tahun terakhir ini Menteri Amran dan Kementerian Pertanian sudah melangkah ke sana. Beberapa program diarahkan buat membangun pondasi korporatisasi pertanian. Seperti program modernisasi pertanian selama ini. Sekarang, saatnya masuk ke hal yang lebih mendasar. Yakni membangun pelakunya. Membangun petaninya.

Sejuta petani milenial menjawab tantangan itu.  Menjawab sebuah pertanyaan dasar. Siapa yang harus menjalankan korporatisasi pertanian?  Siapa pelakunya.  Tentu saja petanilah yang harus jadi pelaku utama korporatisasi itu. Masalahnya, apakah sembarang petani? Tentu tidak.

 Petani milenial menjadi jawabannya. Maka kurang dari sebulan, Menteri Amran sudah beberapa kali menyerbut soal petani milenial. Seperti saat di Lembang. Saat melepas ekspor sayuran. Juga saat di Tasikmalaya. Saat ia menyebut “santri milenial”.  Lalu yang terkait dengan pengembangan lahan rawa di Sumatera Selatan dan Kalimantan Selatan.   

Kita paham apa itu milenial. Yakni mereka yang lahir tahun 1980-1995.  Generasi yang dianggap tumbuh bersama masa kelahiran Revolusi Industri 4.0. Tumbuh bersama gawai, internet, dan media sosial. Mereka pun dianggap ujung tombak peradaban baru dunia. Termasuk pada pertanian.

Istilah petani milenial tentu terkait dengan generasi itu. Yakni ‘Generasi Y’ yang mebuka jalan bagi generasi berikutnya.  ‘Generasi Z’ dan ‘Generasi Alfa’. Tetapi cakupan istilah petani milenial tentu lebih luas. Selama petani itu berusia relatif muda, enerjetik, kreatif, mampu garap pasar nonkonvensional, dan kuasai teknologi digital tentu akan disebut petani milenial.

Sosok seperti itulah yang akan dijadikan lokomotif pembangunan pertanian. Oleh Menteri Amran. Sebuah terobosan yang sungguh pas buat Kementerian Pertanian. Pada tahun terakhir Kabinet Kerja 2014-2019. Walaupun, tantangannya jelas tidak mudah.

Mencetak sejuta petani milenial berarti menggeser titik pusat pembangunan pertanian. Yakni dari orientasi membantu material dan finansial. Menjadi orientasi memberdayakan pelaku. Petani sebagai aktor. Yang ingin dihasilkannya jelas. Yakni petani milenial yang berdaya di era global sekarang.

Merekalah yang diharapkan menjadi champion-champion pertanian kita. Champion-champion yang ada di setiap daerah.  Masing-masing champion akan bermitra dan membina seluruh petani di sekitarnya. Sesuai dengan sektor atau jenis usaha masing-masing. Kemitraan yang solid melalui kelompok dan koperasi petani.

Di sisi lain, para champion setiap sektor usaha juga dapat berkolaborasi satu sama lain. Antardaerah. Kolaborasi petani milenial itulah yang menjadi pelaku utama dunia pertanian kita. Membina petani di sastu sisi. Mengembangkan bsinis dan mengadvokasi kebijakan nasional hingga global di sisi lainnya.

 Kolaborasi petani milenial itulah ujungnya. Kolaborasi itulah yang akan sungguh memajukan pertanian kita. Bahkan memajukan Indonesia. Itulah model usaha pertanian ideal yang realistis untuk Indonesia ke depan. Menteri Amran pun sudah mencanangkannya.

Dukungan anggaran jelas perlu. Lebih perlu adalah perhatian intensif.  Sejuta petani milenial tak semata soal angka. Angkanya bisa 1.000.001 atau 999.999. Atau berapa saja. Berapa pun angkanya, mereka semua haruslah benar-benar jadi petani milenial berdaya. Kompeten dan kolaboratif. Juga harus merata. Terkait daerah, maupun jenis usaha.

Model ini sedikit banyak mirip Thailand.  Bertumpu pada para champion lokal. Yang mengglobal.  Para petani milenial itulah champion-champion kita. Mereka bisa menasional. Bahkan mengglobal. Dengan tetap berakar dan tumbuh bersama para petani akar rumput

Membantu petani untuk tahu, mau, dan mampu mengatasi masalahnya sendiri”.  Itu kaidah penyuluhan. Itulah tantangan ‘mencetak’ sejuta petani milenial.  Bagaimana cara mentransformasi kaum muda? Agar tahu, mau, dan mampu jadi petani milenial profesional.

Untuk itu, Kementerian Pertanian pun perlu menggeser peran. Dari ing ngarso sung tulodo. Menjadi tut wuri handayani. Dari memimpin di depan. Jadi mendorong dari belakang.  Hal yang tentu tak mudah dilakukan. Tapi bukankah, seperti penegasan dalam Qur’an, “bersama kesulitan selalu ada kemudahan?”

Apapun, gerakan mencetak sejuta petani milenial telah dicanangkan. “Sekali layar terkembang, pantang surut ke belakang.”  Itu prinsip Bugis. Itu tampaknya juga prinsip Menteri Amran.  Gerakan itulah yang menyadarkan kita. Ke depan, pertanian kita akan lebih gemilang.

Zaim Uchrowi, Ketua Dewan Redaksi AGRONET

Agro Pilihan