Buah Naga: Stabilisasi Harga, Hilirisasi dan Akses Pasar

Senin, 04 Pebruari 2019, 09:00 WIB

Dr. M. Rizal Taufikurahman, Peneliti INDEF, Pengurus Pusat PERHEPI, Dosen Universitas Trilogi | Sumber Foto:Dok AGRONET

Kasus buah naga di Banyuwangi dimana harga buah naga sangat rendah.  Hal ini sebagai bukti bahwa saat ini sedang terjadi panen raya buah tersebut. Tidak hanya panen raya di Banyuwangi sebagai salah satu sentra produksi buah naga terbesar.  Di sentra produksi buah naga lainnya juga sedang panen. Seperti di Kediri, Bantul dan wilayah lainnya. 

Menarik dari kasus buah naga ini. Setidaknya terdapat tiga aspek penting sekaligus sebagai masalah yang harus segera dicarikan solusinya baik jangka pendek maupun panjang. Permasalahan tersebut adalah aspek pasar, aspek harga dan aspek industri olahannya.

Pertama, aspek pasar (market).  Pasar buah naga di Indonesia hingga sekarang belum ada data yang menunjukkan jumlah permintaannya. Artinya pasar buah naga tidak diketahui secara pasti berapa jumlah yang diminta oleh pasar. 

Hanya saja, setiap hasil produksi dijual dan diserap yang masih bersifat quasy market. Dimana para produsen/petani buah naga memahami pasar sangat terbuka dan luas tanpa mengetahui jumlah permintaan. Selain itu,  masih banyaknya anggapan petani bahwa market share terbuka sehingga siapa pun bisa masuk ke pasar buah naga ini sebagai  pasar persaingan sempurna. Padahal nyatanya tidak demikian, bahwa pasar sebagai  captive market. Dimana struktur pasar oligopoli yang sifatnya skala lokal. Yaitu terjadi di setiap wilayah sentra produksi terbentuk pasarnya.

Kondisi ini disebabkan adanya  asymetric information dari para petani buah naga terhadap pasarnya. Sehingga menyulitkan petani dalam mengatur produksi. Karena buah naga sebagai buah yang sifatnya musiman, antara November-Januari. Bahkan sangat bergantung juga pada preferensi konsumennya.

Kedua aspek harga. Harga buah naga dipasaran sangat beragam. Bahkan setiap wilayah harganya berbeda-beda. Selain karena perbedaan jenisnya juga kualitasnya. 

Disparitas harga buah naga di setiap wilayah sangat ditentukan oleh biaya produksinya. Juga ditentukan oleh preferensinya. Oleh karena itu jumlah yang diproduksi petani dengan jumlah yang diminta unpredictable. Akibatnya saat musim panen raya sekitar bulan November-Desember produksi melimpah. Dan pasar lokal tidak mampu menyerap semuanya. Hal ini mengindikasikan bahwa jumlah permintaan lebih sedikit dari jumlah persediaan. Akibatnya terjadi pelimpahan (spillover) buah naga yang tidak mampu diserap pasar. 

Apalagi jika dilihat dari jumlah produsen atau petani buah naga, setiap tahun semakin meningkat. Hampir di setiap kabupaten terdapat petani buah naga,  yang jumlahnya kian meningkat. Kondisi ini pun memberikan pengaruh terhadap    jumlah produksi buah naga di setiap wilayah yang akibatnya terhadap harga jual. Selain preferensi konsumen sebagai pembatasnya yang tidak konstan. 

Ketiga aspek pengolahan. Hingga saat ini,  penjualan buah naga masih berupa buah segar. Masih sangat minim buah naga ini dijual dalam bentuk hasil olahan.   Padahal banyak olahan turunan dari buah naga ini. Bisa menjadi kosmetik, selai, kripik, ice cream, dan produk olahan lainnya. 

Ketergantungan terhadap penjualan buah segar mempengaruhi terciptanya preferensi dari konsumen. Artinya industri olahan buah naga menjadi penting dalam mengatasi melimpahnya saat panen raya. 

Berdasar fakta ketiga aspek ini sebagai persoalan yang dihadapi buah naga. Dalam kasus petani buah naga di Banyuwangi ini, maka seyogyanya harus segera dicarikan solusinya dalam jangka pendek maupun jangka panjang. 

Dalam jangka pendek, sebaiknya pemerintah daerah segera melakukan koordinasi dengan: (1) pemerintah pusat mengenai stabilisasi harga buah naga melalui fasilitasi dan aksesibilitasi pasar di luar Banyuwangi terutama pasar yang sangat tinggi permintaannya, (2) para petani untuk memberikan kepastian harga pasar yang tidak merugikan,  (3) asosiasi pengusaha industri makanan dan minuman yang bisa mengolah buah naga segar menjadi olahan yang bernilai tambah tinggi,  (4) pedagang lokal dan eksportir, untuk membuka pasar lokal dan luar negeri. 

Selanjutnya untuk jangka panjang, pemerintah pusat segera: (1) memformulasikan kebijakan fasilitasi hulu dan hilirisasi buah naga yang mampu meningkatkan pendapatan  petani buah naga,  (2) menyusun roadmap optimalisasi pemanfaatan buah naga actionable dan evaluable, (3) melakukan stabilisasi harga dengan memonitor dinamika dan fluktuasi harga pasar secara kontinu dan terkendali, (4) memfasilitasi aksesibilitas pasar lokal dengan menghitung berapa jumlah permintaan buah naga,  dan (5) membuka akses pasar ekspor baik untuk buah naga segar maupun olahannya.

Dr. M. Rizal Taufikurahman, Peneliti INDEF, Pengurus Pusat PERHEPI, Dosen Universitas Trilogi

BERITA TERKAIT

Agro Pilihan