Manggis. ’Diplomat’ Buah Kita?

Sabtu, 02 Maret 2019, 16:40 WIB

Buah Manggis, diplomat buah Indonesia | Sumber Foto:manjadda.com

Apa buah Indonesia? Mari tanyakan itu pada orang asing. Di negara mereka masing-masing. Hampir pasti sebagian besar mereka akan mengernyitkan kening. Baru kemudian mencari-cari jawaban, yang mungkin pas. Sulit bagi mereka buat menjawabnya spontan. Apa buah yang jadi ’diplomat’ Indonesia?

Coba tanyakan tentang diplomat buah Thailand. Orang akan cepat menyebut durian.  Diplomat buah Filipina jelas pisang. Atau nanas. Amerika Serikat dapat diidentikkan dengan apel. Jeruk mandarin menjadi identitas Tiongkok. Sesuai namanya. Kalau buah Selandia Baru pasti terbayang kiwi.

Diplomat buah adalah buah andalan. Yang dapat dianggap mewakili identitas suatu bangsa. Di hadapan bangsa-bangsa lain. Jadi, apa sebenarnya diplomat buah kita? Durian-kah? Bukankah  kita punya beragam durian. Mulai dari Durian Petruk, Durian Merah, dan banyak lainnya. Tetapi Dunia lebih mengasosiasikan durian dengan Thailand. Kita pun mengimpor durian Thailand.

Mangga?  Kita punya Mangga Harum Manis, Manalagi, Golek, Gedong, Kopyor dan ratusan lainnya. Namun dunia lebih mengenal mangga India. Ekspor mangga Australia pun lebih banyak ketimbang mangga kita.  Filipina juga berjaya dengan mangga lewat penanganannya yang ’mengindustri’. Padahal Filipina hanya mengandalkan satu jenis mangga: Carabao.

Atau mungkin pisang? Inilah buah dengan produksi terbanyak di Indonesia. Sekitar 7 juta ton per tahun. Tetapi Indonesia tak diasosiasikan dengan pisang. Terlalu banyak ragam pisang di sini. Mulai dari Pisang Ambon, Pisang Barangan, hingga Pisang Batu buat rujak atau Pisang ’Jumbo’ Papua. Namun pisang juga tak diidentikkan dengan Indonesia.

Ya, ini negeri subur makmur. Ragam buahnya sangat banyak. Mungkin paling banyak di dunia. Tetapi belum ada yang sungguh dapat diandalkan. Belum ada yang layak jadi diplomat buah ke kancah global. Hal yang tentu memprihatinkan. Buat bangsa agraris ini.   

Maka, saat pamor manggis naik, menguat pula harapan kita. Inikah calon diplomat buah Indonesia? Dari waktu ke waktu, volume ekspor manggis kita meningkat.  Bukan sedikit demi sedikit, melainkan pesat. Pada 2013, jumlah ekspor buah ini baru sebanyak 7 ribu ton. Lima tahun kemudian telah mencapai 39 ribu ton. Ke berbagai negara.

Ekspor manggis menggelombang dari satu daerah ke daerah lainnya. Pada 2018, gelombang ekspor itu terjadi di Sumatera Barat, Jawa Timur, hingga sampai ke Bali. Memasuki 2019, gelombang ekspor itu bukan surut. Malah terasa lebih kencang. Di Sukabumi akhir Februari ini, misalnya. Menteri Andi Amran Sulaiman pun melepas ekspor manggis.

Belum seminggu berselang, giliran Purwakarta mengekspor manggis. Volumenya tak sedikit. Yakni lebih dari 3 ribu ton. Eskpor yang ikut menegaskan Purwakarta sebagai salah satu sentra manggis terpenting di Indonesia. Budidaya manggis di kabupaten ini disebut mencapai luasan 1.400 hektar. Dan akan terus berkembang. Hal yang menandakan bahwa manggis memang makin mengemuka.

Manggis.  Garcinia mangostana, nama latinnya. Buah ini tersebar di berbagai wilayah Nusantara. Semua mengenalnya. Namun pada umumya manggis tak dianggap sebagai buah populer. Kalah dibanding mangga, pisang, jeruk, durian, maupun papaya dan semangka. Tak ada yang ahli manggis di negeri ini. Baik di lingkungan akademisi maupun lembaga-lembaga milik pemerintah.

Dapat dikatakan, manggis lama menjadi ’buah pinggiran’. Untuk memakannya perlu upaya khusus. Tak banyak orang menjadi penggemar khusus manggis.  Tampilannya cenderung eksotik, ketimbang menggiurkan sebagai buah. Anak-anak suka manggis karena asyik dipakai tebak-tebakan: berapa banyak ’isi’-nya di dalam satu buah.

Ternyata keeksotisan itulah yang justru menjadi kekuatan manggis. Keeksotisan itu yang membuat manggis dapat menjadi ikon buah tropis. Itulah yang membuat pasar manggis di berbagai negara, seperti China, bahkan Amerika Serikat dan beberapa negara Eropa berkembang. Lalu manggis, perlahan  pasti, menjadi buah ekspor andalan Indonesia.

Mulanya manggis tumbuh alamiah di pekarangan atau kebun. Beberapa orang pun mulai membudidayakannya lebih intensif.  Baru sekitar 10 tahun terakhir ini mulai ada perkebunan manggis. Peluang ekspor menjadi pendorongnya. Juga karena menguatnya posisi manggis dalam industri kesehatan herbal: dipandang punya kandungan antioksidan yang baik sebagai pencegah kanker.

Maka, pamor manggis pun meningkat. ”Perkembangannya luar biasa,” kata Syukur Iwantoro, Sekjen Kementerian Pertanian. Ia mewakili Menteri Amran melepas ekspor manggis di Purwakarta. Daerah yang kini punya ’pendekar manggis’ seperti  Dede Mulyana dari Desa Pasirangan, Kecataman Darangdang  serta Wahyu Juhyar daru Desa Babakan, Kecamatan Wanayasa.

Singkat kata, manggis kini telah terdepan untuk menjadi diplomat buah kita. Lalu apa yang diperlukan untuk mengembangkannya lebih jauh lagi? Kementerian Pertanian sudah membantu mempermudah prosedur ekspor buah. Termasuk manggis tentu. Dinas Pertanian juga telah memberikan berbagai dukungan. Apalagi yang diperlukan?

Salah satu kelemahan industri agro hultikutura di Indonesia adalah ketiadaan ahli. Yakni yang benar-benar ahli suatu komoditas tertentu secara komprehensif. Dari urusan A sampai Z. Kita tak memiiki ahli cabai yang paham seluk beluk cabai secara khusus. Mulai dari produksi, pengolahan hasil dan derivasinya, hingga peta bisnisnya secara luas.

Yang kita miliki adalah ahli produksi secara umum, ahli pengolahan secara umum, ahli pemasaran secara umum. Tidak intens untuk komoditas tertentu.  Kita memiliki pusat riset dengan plasma nutfah mangga yang mungkin terbanyak di dunia. Dengan periset-perisetnya yang sangat tekun. Tapi lembaga ini tak akan dapat melahirkan ahli mangga komprehensif kelas dunia. Sistem birokrasi jadi penghalangannya.

Pada beberapa komoditas, kendala ’ketiadaan ahli’ tersebut dicoba untuk diatasi. Yakni oleh komunitasnya masing.  ’Komunitas kopi’, misalnya, sangat aktif mengorganisasikan diri. Itu yang membuat dunia kopi kita berkembang pesat. ’Komunitas durian’ kini juga berupaya untuk itu. Namun upaya itu masih jauh tertinggal dibanding yang semestinya. Dibanding dengan efektivitas asosiasi petani pisang Filipina, misalnya.

Situasi khas negara berkembang itu perlu diakhiri. Saatnya kita melahirkan ahli-ahli komprehsif untuk setiap komoditas unggulan. Saatnya kita melahirkan ahli mangga, pisang, durian, jeruk, hingga cabai kelas dunia. Ahli-ahli yang benar-benar menguasai berbagai hal terkait komoditas masing-masing. Mulai dari aspek kutural terkait produksi hingga keterhubungannya dalam industri global menyangkut komoditas tersebut.

Fenomena buah manggis sekarang tepat untuk menjadi titik awalnya.  Titik awal untuk melahirkan ’ahli-ahli manggis’ berkelas dunia. Ahli-ahli itulah yang akan membantu menemukan model apa yang paling pas buat pengembangan industri agro buah tersebut. Hal yang -jika berhasil- perlu direplikasikan bagi pengembangan buah-buah Indonesia lainnya. Dengan begitu semua akan mudah menjawab:  Apa diplomat buah Indonesia?
Zaim Uchrowi, Ketua Dewan Redaksi AGRONET