Di Balik Sedap Bawang Putih

Kamis, 28 Maret 2019, 16:12 WIB

Ilustrasi : Di Balik Sedap Bawang Putih | Sumber Foto:Dok Kementan

Nggak ada bawang putih di dapur?” Seru lelaki muda itu. “Sungguh terlalu.” Ia memakai ‘istilah Rhoma Irama’ untuk mengomentarinya. Saudaranya baru bercerita, betapa membosankan urusan makan saat ia kuliah di Belanda. Paling selalu menggoreng salmon. Sayurnya hampir pasti brokoli rebus. Itu yang sering. Dari hari ke hari.

“Kenapa brokolinya nggak ditumis saja?”

“Pakai apa?”

“Kan cuma perlu bawang putih dan garam.”

Nggak kepikir beli bawang putih,” jawab saudaranya, sambil tersenyum.

“Wahhh…”

**

Mungkinkah makanan bisa sedap tanpa bawang putih? Sulit membayangkannya. Masakan paling sederhana, tumis, saja perlu bawang putih. Apalagi kalau mau membuat nasi goreng yang sungguh gurih.  Kita perlu bawang putih. Allium sativum. Tak sekadar buat menggurihkan rasa. Juga buat menyedapkan aroma buat melayani keperluan olfactory atau indera penciuman.

Ada yang menyebut asal tanaman ini dari sekitar Asia Tengah. Namun bawang putih juga diyakini sudah menjadi bagian dari peradaban lama Mesir, India, hingga China. Makin sulit lagi untuk melacak sejak kapan bawang putih menjadi bagian dari kehidupan masyarakat di Indonesia. Yang pasti, saat ini, hampir setiap dapur di Indonesia selalu punya bawang putih.

Lalu jumlah kita bertambah. Selera dan tututan terhadap makanan pun berubah. Maka kebutuhan terhadap bawang putih pun meningkat. Per kapita. Apalagi akumulasinya nasional. Dulu, kebutuhan bawang putih dapat dipenuhi secara lokal. Oleh petani sekitar. Lalu impor komoditas ini pun naik, dari waktu ke waktu.

Produksi bawang putih nasional secara umum memang meningkat. Rata-rata 4-5 persen per tahun hingga dapat menghasilkan lebih dari 22 ribu ton pada 2018. Tetapi angka itu hanya memenuhi sekitar 5 persen dari kebutuhan nasional. Sisanya? Dari mana lagi kalau bukan dari impor.

Masalah pun mulai terlihat. Sedapnya bawang putih ternyata menyimpan masalah dalam pertaniannya. Agro bawang putih belum cukup berkembang. Hal yang juga terjadi pada banyak komoditas lain. Bawang putih menjadi salah satu potret terparah dari masalah pertanian kita. Masalah itu terlihat antara lain pada hal-hal berikut:

Pertama, belum cukup terbangun sentra-sentra produksi bawang putih dengan luasan yang memadai. Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur dan Nusa Tenggara memiliki sentra produksi bawang putih. Namun luasan sentra itu pun masih jauh untuk dapat memenuhi tingkat konsumsi nasional. Apalagi lahan pertanian di Indonesia umumnya sempit. Jauh dari ekonomis buat bertani.

Kedua, belum terbangun adanya pelaku-pelaku agro dalam urusan bawang putih yang benar-benar tangguh, yang menguasai aspek produksi hingga pengolahan dan pemasaran. Kurang berkembangnya pertanian bawang putih dapat dipahami.  Biaya produksi relatif mahal dibanding banyak komoditas lain. Sedangkan harga pasarnya fluktuatif.

Ketiga, belum ada dukungan yang benar-benar utuh untuk penguatan petani bawang putih. Bahkan, hingga kini, belum ada ahli bawang putih secara holistik. Ahli yang benar-benar paham seluk beluk bawang putih, dari teknis produksi hingga peta besarnya di bisnis dunia. Ini tak hanya terjadi pada bawang putih. Juga pada hampir semua komoditas lainnya.

Itu potret pertanian bawang putih kita. Potret yang pasti buram bagi sebagian besar petani yang terlibat di sana. Membangun trust sesamanya pun bukan hal mudah. Sering ada saling cidera kesepakatan saat berasosiasi. Potret bawang putih itu hanya cemerlang bagi para importir. Bisnis bawang putih nasional lebih dari Rp 10 trilyun setahun. Berkesempatan impor 95 persen di antaranya, “sungguh sesuatu”.

**

Pemerintah jelas paham persis soal bawang putih ini.  Maka, berbagai upaya pun dilakukan buat mengatasinya. Seperti penyediaan bibit bagi para petani. Juga penetapan kewajiban menanam bagi para importir. Mereka wajib menanam dengan target produksi 5 persen dari kuota impor. Hal yang tentu disambut dengan gembira. Kuota impornya aman.

Target swasembada bawang putih juga telah ditetapkan. Yakni tahun 2021 ini. Waktu yang sangat dekat untuk dapat dipenuhi. Sementara itu --buat memenuhi kebutuhan pasar—Bulog juga telah diberi kuota impor 100 ribu ton pada 2019. Kuota yang juga masih digoyang oleh yang berkepentingan. Tentu menggunakan alasan ‘obyektif’: Masalah persaingan usaha.

Langkah-langkah itu mujarab buat meredakan masalah. Serupa paracetamol yang perlu kita minum saat merasa demam. Paracetamol penting buat meredakan rasa sakit. Namun tak menghilangkan sumber sakit.  Di zaman milenial sekarang, pendekatan paracetamol memang diperlukan. Publik suka hasil instan. Apalagi yang mudah “dimediasosialkan”.

Langkah tersebut tentu tak akan mengatasi sumber penyakit. Paracetamol jelas tidak cukup. Perlu langkah lain yang lebih mendasar. Lebih sistematis, lebih cermat, bahkan juga senyap. Apa langkah tersebut? Abaikan sejenak masalah di balik sedap bawang putih itu.  Biarlah otoritas negara yang menanganinya.

Yang selalu tak boleh diabaikan adalah sedapnya bawang putih. Brokoli akan lebih enak bila ditumis dengan bawang putih. Apalagi Soto Lamongan yang panas dengan kaldu berbawang serta taburan bawang goreng tipis-tipis nan gurih. Wuihhh….!   

 Zaim Uchrowi, Ketua Dewan Redaksi AGRONET

BERITA TERKAIT