Membangkitkan Kejayaan Rempah

Senin, 06 Mei 2019, 22:04 WIB

Rempah-rempah Indonesia telah terkenal sejak ratusan tahun yang lalu | Sumber Foto:perkebunan.litbang.pertanian.go.id

Pulau Rhun, 1667. Sulit membayangkan betapa penting pulau itu bagi Nusantara. Bahkan bagi dunia, saat itu. Daratan yang kini tak lebih dari dari sebuah pulau kecil seluas 3 km persegi di sebelah Pulau Banda yang bersejarah. Untuk pulau inilah dua kekuatan dunia di masanya, Inggris dan Belanda, berperang sebelum kemudian berkompromi. Semua itu karena rempah.

Tak banyak yang mengenal Rhun. Paling hanya sedikit penyuka sejarah. Juga, tentu, orang-orang Banda Neira. Tetapi riwayat kejayaan Rhun tidak akan pernah terhapus. Kejayaan sebuah pulau sebagai ikon kejayaan rempah Nusantara. Ingatan kejayaan itu terbangkitkan kembali saat Kementerian Pertanian melepas ekspor pala ke sejumlah negara di awal Mei 2019.

Ya, pala menjadi ujung tombaknya. Myristica fragrans tumbuh subur di kepulauan Banda, di Maluku.  Tak sekadar pohonnya meneduhkan, namun –lebih dari itu—buahnya juga memakmurkan. Tetapi karena itulah drama dan tragedi pun tersaji. Tahun 1621, Jan Peterzoon Coen mengerahkan sekitar 1.600 tentara plus 100 samurai Jepang bayaran.

Ribuan penduduk Banda dibantai. Para tokohnya dicincang. Kepala-kepala mereka ditancapkan di tonggak. Kebiadaban itu mengakhiri kemakmuran masyarakat Banda, yang sebelumnya menguasai perdagangan pala ke luar daerah. Perdagangan rempah yang menembus pasar Eropa saat itu, melalui para pedagang Inggris.

BERITA TERKAIT

Pala, dengan kandungan minyak atsirinya, memang diperlukan masyarakat Eropa. Taburan serbuk pala mampu mengawetkan daging untuk jangka waktu yang cukup lama.  Itu hal penting sebelum masa ditemukannya lemari es. Rempah pala pun menjadi komoditas yang sangat menguntungkan buat perdagangan dunia masa itu.

VOC --perusahaan Belanda yang juga menjadi perusahaan patungan bersaham pertama di dunia— makmur karena pala. Maka mereka berusaha mati-matian untuk mengendalikan bisnis pala dengan terus menguasai Banda. Terutama menguasai Pulau Rhun. Pulau yang menjadi pusat pala terbaik di dunia. Penguasaan Pulau Rhun oleh Inggris, tak menyurutkan tekad Belanda.

Saat itu VOC menguasai pulau strategis yang kini dikenal sebagai Manhattan, New York, di Amerika Serikat. Tapi mereka menginginkan Pulau Rhun. Apalagi kalau bukan karena rempahnya. Maka mereka rela menukar Manhattan dengan Rhun. Mereka memberikan Manhattan ke Inggris, dan meminta Rhun. Itu yang terjadi pada tahun 1667. Dan itu karena rempah kita.

Kisah Pulau Rhun dan palanya  bagian dari kisah kejayaan rempah Nusantara. Banyak kisah lain dari kejayaaan rempah kita. Seperti  kisah kemakmuran masyarakat Bangka Belitung karena lada. Piper nigrum.  Walaupun Bangka Belitung juga kaya timah, tapi lada-lah yang lebih banyak menghajikan warganya. Bukan timah.

Keberkahan lada Bangka Belitung itu telah berlangsung sejak lama. Yakni sejak seperempat terakhir Abad 19, hingga sekitar seperempat abad setelah Indonesia merdeka. Sementara itu, di masa Orde Baru, sebuah komoditas rempah pun menjadi lokomotif kemajuan perdesaan Indonesia. Banyak desa makmur karena rempah ini: Cengkih. Syzygium aromaticum. Kebun-kebun cengkih bertebaran di seluruh penjuru Nusantara.

Pala, lada, dan cengkih sempat menjadi lokomotif rempah yang memakmurkan kawasan ini. Peran yang semestinya terus berlanjut. Hingga sekarang, dan bahkan ke masa mendatang. Sayangnya harapan itu tak mewujud sebagai kenyataan. Di lapangan, peran rempah itu perlahan meredup bersama dengan perjalanan bangsa ini.

Situasi itu disadari oleh beberapa kalangan. Terutama para pelaku usaha dan pemerhati rempah. Mereka menyalurkan kesadaran itu dengan membangun komunitas Masyarakat Rempah Indonesia (MARI). Merasa komunitas ini belum cukup buat membangkitkan rempah Nusantara, mereka pun menginisiasi pembentukan Dewan Rempah Indonesia, tahun 2007 lalu.

Yang menjadi tantangan adalah bahwa ini Indonesia. Negeri tempat kenyataan sering tak seindah harapannya. Serupa dengan di ranah politik. Reformasi 1998 diharapkan segera mampu mengubah sistem bernegara. Dari otoritarian menjadi sepenuhnya demokrasi. Setelah 20 tahun berlalu (sekali lagi setelah 20 tahun berlalu), kita masih terjebak di level ’Demokrasi Prosedural’. Masih jauh dari ’Demokrasi Substansial’.

Hal serupa juga dihadapi dunia rempah. Dengan Dewan Rempah-nya, Indonesia juga tak serta merta mampu membangkitkan ’emas hijau’ itu.  Banyak kendala yang masih harus diatasi. Dalam urusan itu, kita masih kalah efektif dibanding pemerintahan penjajahan Hindia Belanda dulu. Tahun 1869 mereka mendatangkan Johannes Elias Teijsmann buat menginisiasi penanaman lada di Bangka. Hasilnya, Bangka segera menjadi pusat lada dunia.

Belum bangkitnya rempah Indonesia itu lalu disadari Menteri Pertanian. Memasuki semester kedua 2018, Menteri Amran menjadikan ’kebangkitan rempah’ sebagai salah satu program prioritas pada setahun terakhir jabatannya di Kabinet Kerja 2014-2019. Itu angin segar buat komunitas rempah Indonesia. Namun sebagaimana cuaca, banyak hal di negeri ini cepat berubah. Angin segar soal rempah itu juga segera terdistorsi.

Pendistorsinya mula-mula adalah debat publik soal data produksi dan ketersediaan beras. Ini menyangkut seberapa perlu Indonesia mengimpor beras. Debat publik itu begitu menyita perhatian. Otomatis rencana membangkitkan rempah pun terdistorsi lagi. Usai ribut-ribut data dan impor beras, semestinya perhatian dapat terfokus kembali pada rempah. Ternyata juga tidak.

Pemilu sudah menunggu. Ini ’pesta demokrasi’. Perhatian kita semua pun tercurah ke sana. Pesta perkawinan saja di di Negara Berkembang seperti kita harus tampak meriah. Agar kita dapat menunjukkan kehebatan status sosial di masyarakat. Apalagi pesta demokrasi nasional. Kita merasa harus tampak hebat di mata-mata bangsa-bangsa. Soal membangkitkan rempah perlu sabar dulu menunggu waktu.

Syukurlah, hajatan publik sudah berlalu. Walaupun ratusan orang baik pun meninggal karenanya. Saatnya untuk kembali bekerja nyata. Maka, memasuki Mei, Kementerian Pertanian pun segera tancap gas bekerja untuk rempah lagi. Itu ditandai dengan ekspor 83 ton pala dan 60 ton bunga pala ke Belanda, Dubai serta India. Direktur Jenderal Perkebunan Kasdi Subagyono melepas ekspor senilai Rp 24 milyar itu.

Hanya beberapa hari kemudian, Menteri Amran turun sendiri melepas ekspor rempah. Kali ini ekspor 30 ton lada putih dari Belitung. Ia bahkan sempat menegaskan komitmen negara buat mengembalikan kejayaan lada di Bangka Belitung. Hal yang menjadi bagian dari kebangkitan kejayaan rempah kita. Pemerintah, disebutnya, telah menganggarkan Rp 5,5 trilyun untuk membangkitkan kejayaan tersebut. Diwujudkan dalam bentuk bibit.

Itu langkah penting buat mengawali kebangkitan rempah Nusantara. Awal yang  perlu kita susul dengan langkah-langkah cermat agar kebangkitan rempah tak sekadar ’prosedural’ melainkan memang akan sungguh ’substansial’. Banyak hal yang masih harus kita lakukan. Hingga saat ini, kita belum mampu melahirkan asosiasi petani rempah yang kuat, yang mampu mengelola usahanya ke perdagangan global tanpa harus bergantung pada perantara.  Bangsa besar ini juga belum mampu melahirkan ahli rempah kelas dunia, yang sungguh menguasai A-Znya urusan rempah.

Asosiasi petani yang kuat serta pakar kelas dunia— yang akan sungguh mampu membangkitkan rempah kita. Inisiasi Kementerian Pertanian yang saat ini berupa bantuan-bantuan material, semoga dapat bertumbuh juga buat melahirkan asosiasi petani kuat dan pakar kelas dunia tersebut. Saat itulah –entah berapa tahun mendatang—kebangkitan rempah akan sungguh terwujud.

Ingatan bersama pada Pulau Rhun dengan aroma Myristica fragrans terbaiknya menjadi penyemangat buat terus melangkah membangkitkan rempah. Mari jaga ingatan itu!

Zaim Uchrowi, Ketua Dewan Redaksi AGRONET

 

BERITA TERKAIT