Saat Cangkul Berada di Museum

Senin, 22 Juli 2019, 20:12 WIB

Saat Cangkul Berada di Museum | Sumber Foto:menlhk

Ifa, seorang siswa SMA, mendapat tugas dari sekolahnya. Dia harus mengunjungi museum. Lalu membuat tulisan mengenai salah satu koleksi museum yang menarik minatnya. Ia boleh memilih museum mana yang akan dikunjungi. Juga barang apa yang menjadi obyek tulisannya. Ifa lalu memilih-milih museum yang sebaiknya ia datangi.

Museum Pertanian menjadi pilihannya. Alasannya sederhana. Arahnya sejalur dengan perjalanan ayahnya menuju kantor. Jadi, ia bisa nebeng ayahnya ke sana. Untuk pulangnya nanti juga mudah. Ada angkutan umum sekali jalan buat pulang ke rumah. Yang ada di pikirannya adalah mencari obyek apa yang harus dilihat serta ditulisnya. 

Maka, ia pun berkeliling museum itu. Melihat keseluruhannya untuk mendapatkan apa yang mungkin paling menarik buat ditulis. Beberapa kali berputar, ia tak kunjung menemukan sasaran.  Tak ada yang sungguh-sungguh menonjol di museum itu. Tidak ada patung berharga buat menceritakan sejarah masa lampau.

Fosil? Juga tak ada. Padahal fosil asyik buat membantu membayangkan serunya hidup di masa lalu.  Yang banyak di sana adalah koleksi jenis tanaman dari masa ke masa. Seperti koleksi jenis-jenis padi, jagung, dan sebagainya. Selain itu juga dipajang alat-alat pertanian yang kini. Seperti bajak, alat pengetam, dan lain-lain. Hal-hal yang kini makin jarang ditemui di sawah.

Ifa, tak bisa segera memutuskan mana obyek yang hendak ditulisnya. Ia kini duduk di deretan bangku tengah museum. Beristirahat sejenak. Mereguk air dari botol yang dibawanya dari rumah. Lumayan lelah juga berkeliling. Museum sepi. Sambil duduk, ia masih juga dapat menebarkan pandangan ke sana ke mari.

Nah persis berhadapan dengan tempat duduk Ifa itu terpajang cangkul. Ya, cangkul. Biasa saja, tidak ada serunya. Kalah menarik dibanding beberapa perkakas lain. Ada beberapa jenis cangkul yang ada di situ. Ada yang cenderung lebar. Ada pula yang kecil saja. Ada yang berbesi agak tebal, ada pula yang tipis. Dilihat dari posisi yang berjarak, cangkul-cangkul itu tidak jauh berbeda.

Tapi, mata Ifa lalu tertumbuk pada model gagang, atau pegangan, cangkul itu. Dua cangkul bersebelahan menunjukkan bentuk gagang yang berbeda. Yang satu gagangnya pendek, dan membentuk sudut 60 derajad dengan mata cangkul. Satu lagi gagangnya panjang dan bersudut hampir 90 derajad dengan mata cangkul.

“Mengapa berbeda?” Tanya Ifa di dalam hati pada dirinya sendiri.

Ia pun mendekat. Di sana ada keterangan dari daerah mana masing-masing cangkul itu berasal. Cangkul bertangkai panjang dan membentuk posisi siku itu disebut biasa dipakai petani dari tanah Batak, Sumatera. Sedangkan cangkul bersudut tajam itu adalah cangkul dari Jawa. Dua jenis cangkul yang membuat cara pemakaiannya juga berbeda.

Ada foto petani mencangkul yang dipajang di samping kedua cangkul di museum itu. Cangkul Batak dipakai dalam posisi berdiri. Ayunan cangkulnya jauh dari tubuh petani. Sedangkan cangkul Jawa hanya dapap dipakai dalam posisi petani merunduk. Perbedaan yang membuat Ifa makin tertarik pada cangkul biasa-biasa saja di museum itu.

“Saya akan menulis tentang perbedaan cangkul ini,” katanya. Hal yang kemudian dia sampaikan pada ibunya di rumah yang kebetulan sarjana antropologi. Sang ibu pun membantu menjelaskan pada Ifa soal latar perbedaan kedua cangkul tersebut dari aspek kultural.  Aspek budaya Batak serta Jawa yang melatari perbedaan perkakas petanian itu.

Masyarakat Barat, jelas Ibu Ifa, bukan hanya menjunjung tinggi martabat.  Mereka akan cenderung untuk selalu berdiri tegak, dan sedapat mungkin tidak menunduk-nunduk. Di dalam bekerja, mereka juga sangat mengedepankan efisiensi. Dari suatu usaha tertentu, harus mendapatkan hasil sebanyak-banyaknya. Tanah yang terolah oleh cangkul Batak umumnya cetek saja, namun dapat menjangkau hamparan yang luas.

Sebaliknya dengan budaya bekerja bagi petani di Jawa.  “Petani Jawa cenderung sangat tekun,” papar Ibu Ifa. Mereka mencangkul harus sambal menunduk hingga melahirkan tenaga terkuat dan bahkan beresiko. Kadang cangkul bias mengenai kaki sendiri, karenanya. Hasil cangkulan jenis itu umumnya sangat dalam. Itu kerja efektif, namun sulit menjangkau hamparan luas.

“Cangkul seperti apa ya seharus yang cangkulannya dalam, tapi juga bisa cepat luas?” Tanya Ifa. Pertanyaan yang hanya perlu dijawab beberapa tahun mendatang saat cangkul sudah benar-benar berada di museum, lalu ada pelajar seperti Ifa, yang mengkajinya. Saat ini, cangkul belum benar-benar menjadi barang langka. Cangkul masih banyak berada di kebun serta sawah.

Kenyataan itu menunjukkan bahwa secara umum pertanian Indonesia pasca Reformasi pun masih belum cukup maju. Masih belum benar-benar meninggalkan dunia tradisionalnya. Itulah yang antara lain coba diatasi Pemerintahan Presiden Joko Widodo dalam lima tahun terakhir (2014-2019).  Modernisasi yang dilakukan Kementerian Pertanian adalah untuk memecahkan masalah itu.

Selama lima tahun, kementerian yang dipimpin Menteri Andi Amran Sulaiman telah menggelontorkan sekitar 400 ribu sarana pertanian buat membantu petani. Hasilnya nyata. Kini di banyak daerah mulai tidak ada lagi cangkul di sawah. Fungsingnya sudah digantikan oleh traktor dan mesin-mesin pertanian.

Cangkul tangkai panjang bersudut 90 derajad sudah mulai siap masuk museum. Petani Batak dan juga luar Jawa umumnya lebih pragmatis dan rasional. Mereka sudah hampir beralih total pada traktor. Yang ironis terjadi di Jawa. Terikat lebih dengan tradisi lamanya, dan dengan kepemilikan tanah yang jauh lebih sempit, petani Jawa masih banyak bergantung pada cangkul bongkoknya.

Namun, cepat atau lambat, pada akhirnya cangkul bongkok akan menyusul temannya –cangkul jangkung—ke museum. Modernisasi yang dilakukan pemerintah jelas akan memuseumkan segala jenis cangkul. Hal itu merupakan langkah positif yang perlu diapresiasi, walaupun nasib petani gurem tetaplah masih jauh dari makmur. Walaupun pemerintah sukses meningkatkan Nilai Tukar Usaha Pertanian (NTUP) –elemen penting bagi kesejahteraan petani.

Kemakmuran petani kecil hanya akan terwujud jika industri agro ada dalam kendali mereka. Itu yang terjadi di Taiwan dan juga Jepang yang banyak petani kecil dengan lahan sempit. Merekalah –melalui koperasi—yang menjadi pemilik dan pengendali industri.  Lain halnya di sini. Dalam industri agro, petani kecil tetaplah sekadar bagian dari unit produksi yang lemah. Kendalinya ada pada oligarkhi.

Kita sungguh ingin membuat petani kecil makmur? Memberdayakan petani dengan menguatkan koperasi secara mendasar perlu diprioritaskan. Namun hal demikian sangat tidak mudah kita lakukan. Pekerjaan itu memerlukan komitmen mendalam. Sedangkan komitmen yang sungguh mendalam hanya terwujud jika kita jauh ingar bingar apresisasi publik dan politik kepentingan.

Maka, lebih realistis jika kita melanjutkan jalan kemajuan yang sudah ada. Jalan yang sudah terbukti membuat semua gembira, yakni melalui modernisasi. Kita sudah berhasil menyudahi kerja cangkul jangkung dan siap mengirimkannya menjadi pajangan museum. Saatnya pula kita melakukan buat cangkul jongkol. Itu level kita sebagai negara dan negara.* 

Zaim Uchrowi, Ketua Dewan Redaksi AGRONET  

BERITA TERKAIT