Kapitalisme Agro (Ayam)

Jumat, 23 Agustus 2019, 17:02 WIB

ilustrasi : DOC. Model produksi unggas kita telah mengindustri. | Sumber Foto:Istimewa

 

Kapitalisme agro? Tampaknya itu tak terhindarkan. Setidaknya hal itu saat ini terwakili oleh bisnis peternakan ayam saat ini. Bisnis  yang menggembirakan, namun juga membuat peternaknya sering menjerit.

Coba perhatikan kabar  yang sempat tersiar itu. Kabar yang para peternak pun mendengarnya. Bahwa ayam dari Chili mungkin akan membanjiri Indonesia. Kemungkinan yang belum tentu terjadi. Harga ayam kita sekarang sudah murah. Bagaimana menandinginya? Belum lagi biaya transpor dari sana.

Tetapi, jika itu terjadi, jeritan peternak lokal memang akan terdengar lagi. Seperti jeritan yang terdengar belum lama ini. Yakni sekitar sebulan menjelang Ramadhan lalu. Saat itu, harga jual ayam di pasar jatuh. Tinggal sekitar Rp 28 ribu sekilo di pedagang. Tentu aja jauh lebih rendah lagi di tingkat peternak. Tidak imbang dengan biaya produksinya.

Lalu, sebagian peternak pun memutuskan tidak menjual ayamnya. Mereka memilih membagi-bagikan pada tetangga. Itu protes gaya Jawa. Efektifkah? Entahlah. Yang pasti susahnya peternak jadi diketahui banyak pihak. Lalu harga jual ayam juga meningkat. Karena Ramadhan.

Di dunia perunggasan, cerita semacam ini biasa. Peternak harus pandai-pandai untuk terus mengefisienkan usaha. Biaya pakan pasti. Ayam kan harus terus makan. Tidak dapat dibiarkan tanpa pakan. Sedangkan pakan bergantung pada pabrik. Adapun harga jual ayamnya tidak pasti.

Maka kemungkinan tekor akan terus membayang-bayangi. Terutama pada peternak kecil. Yang jumlah peliharaan kurang dari 10 ribu ekor. Tak mudah bagi mereka meraih untung. Marjin sedikit. Jumlah pengalinya sedikit pula.

Peternakan rakyat berskala besar lebih bisa bernafas. Sedikit marjin tak menjadi masalah. Mereka mengharap hasil kelipatannya lewat volume usaha yang lebih besar. Toh, kadang peternak besar pun menyerah. Marjin kelewat tipis tak lagi memadai untuk menutup upah pekerja. Apalagi kalau harus bermarjin minus. Bila situasinya begitu, apalagi pilihannya kalau bukan menjerit.

**

Keadaan seperti itu sebenarnya ironi buat Indonesia. Negara yang setahun lagi berusia ¾ abad ini. Dari masa ke masa petani telah belajar. Bagaimana caranya agar tidak rugi. Bagaimana caranya untung. Di ladang yang makin menyempit. Mengindustri dengan tingkatnya masing-masing akan menjadi solusinya.

Dengan mengindustri, produk agro tak cukup dijual hanya sebagai komoditas. Komoditas harus dikembangkan sebagai produk industri.  Walaupun masih di tingkat yang sederhana. Itulah yang akan membuat kehidupan petani akan menjadi lebih baik.

Di kalangan masyarakat tani sebenarnya para peternak ayam relatif lebih maju dalam mengindustri. Secara umum mereka memang belum mengolah hasil usahanya agar dapat memberi nilai tambah yang lebih baik. Meskipun demikian, dalam menjalankan usahanya mereka cukup intensif. Bukan lagi ekstensif.

Intensifnya cara beternak unggas tak terlepas dari  dukungan industri. Yakni industri penghasil anak ayam atau day old chick  yang juga biasa disebut DOC; industri pakan; industri obat-obatan; dan juga sarana peternakan. Berkat mereka, . Baik untuk menghasilkan daging maupun telur.

Hal ini telah diawali sejak akhir 1970-an. Saat itu, ‘ayam ras’ mulai diperkenalkan secara gencar. Di kampus-kampus peternakan, para mahasiswa mulai belajar mengenal jenis-jenis ayam yang dianggap unggul. Leghorn, Plymouth Rock, hingga Rhode Island Red adalah jenis-jenis yang banyak disebut.

Lalu mendalami prinsip dasar pemuliaan. Juga soal pentingnya galur murni; adanya grand parent stock; parent stock;  hingga final stock sebagai level yang paling produktif dan efektif untuk hasilkan daging maupun telur.   Itu semua adalah pemahaman dan fenomena baru dalam dunia perunggasan saat itu.

Dengan cepat perunggasan pun mengindustri. Para sarjana peternakan pun direkrut menjadi kepanjangan tangan industri buat  ‘mengedukasi’ masyarakat agar menerima pendekatan baru perunggasan tersebut. Hasilnya luar biasa. Industri peternakan rakyat berkembang pesat.

Para peternak itu pun jadi pasar bagi industri-industri raksasa bidang pakan dan DOC. Seperti Charoen Pokphand dari Thailand dan lain-lain. Tapi, itu bukan persoalan. Para peternak pun gembira. Masyarakat umum juga demikian. Daging dan telur ayam jadi mudah didapatkan. Juga murah.

Yang menjadi persoalan, industri-industri perunggasan itu tidak dikuasai oleh kalangan peternak. Industri-industri itu milik dan dikendalikan para pemodal. Hal yang di satu sisi menguntungkan karena mudahnya urusan kapital, di sisi lain juga gampang membuat peternak menjerit.

Segelintir industri mengendalikan hampir 90 persen dari mata rantai bisnis tersebut. Kendali luar biasa, yang membuat peternak sering  menjadi sekadar “mendapat upahnya sebagai tukang pelihara ayam”. Apakah yang seperti ini arah industri agro yang kita kehendaki?

**

Kapitalisme? Menjelang 17 Agustusan lalu, diskursus soal ini mencuat.  Adalah Surya Paloh yang melontarkannya. Menurut politisi pengusaha ini, Indonesia sekarang sudah menjadi “negara kapitalis yang liberal”.  Hanya saja kita malu-malu mengakui itu. Maka kita masih saja mengatakan bahwa negara ini adalah negara Pancasila.

Paloh mengemukakan itu 14 Agustus silam. Yakni dalam diskusi kebangsaan yang digelar Universitas Indonesia, Jakarta. Tak ada penolakan serius atas pandangannya tersebut. Sepertinya sebagian besar kalangan setuju dengan pendapat itu. Namun tentu tidak bijak kalau membenarkannya.

Kenyataan di lapangan menguatkan itu. Dunia agro mengindustri melalui pebisnis-pebisnis raksasa. Bukan melalui para petani yang berasosiasi sehingga mereka mampu mengindustri. Kekuatan-kekuatan itulah yang memajukan industri agro. Sekaligus menjadi semakin meraksasa, meninggalkan para petani di belakang.

Itu realitas yang tampak jelas di perunggasan dan juga sawit. Itulah yang menjadi model bisnis agro dominan di ‘negara Pancasila’ ini. Kenyataan tersebut sangat berbeda dengan di Jepang.  Negara tempat  agro mengindustri lewat tangan para petaninya sendiri.

Industri pertanian, peternakan, dan perikanan mereka betul-betul dalam kendali para petani, peternak, dan nelayan sendiri.  Bukan di tangan pemodal besar.  Wujud industri agro seperti itulah yang akan sungguh-sungguh memakmurkan petani.

Bisakah keadaan industri agro seperti itu terwujud di Indonesia?  Semoga saja. Industri agro akan ke arah sana setelah negara dan kita semua sungguh-sungguh memberdayakan petani, koperasi serta asosiasi tani. Langkah yang memang tak mudah untuk saat ini, saat kapitalisme agro masih membayangi kita semua. * 

Zaim Uchrowi, Ketua Dewan Redaksi AGRONET  

BERITA TERKAIT