Papua, Modernitas & Pinangnya

Jumat, 04 Oktober 2019, 15:21 WIB

Ilustrasi : Buah Pinang | Sumber Foto:Istimewa

Abdul Kadir tersenyum lebar. Putra asli Papua ini memperlihatkan giginya yang bagus. Tampak kuat. Gigi yang setiap hari mengunyah pinang. Hal yang dipercaya antara lain buat menguatkan gigi. Maka, pinang tak pernah lepas dari kesehariannya. Walau kini ia telah menjadi salah seorang pejabat. Di Stasiun Karantina Pertanian, di Sorong.

Ia mengaku mengonsumsi pinang sejak kecil. Hampir di seluruh wilayah Papua, pinang memang menjadi bagian keseharian masyarakat. Tak terkecuali di di daerah asal Abdul Kadir, di Pulau Domi, Papua. “Menyelam untuk mencari ikan itu kan dingin,“ katanya. “kami akan mengunyah pinang dulu sebelum menyelam agar badan hangat.”

Kebiasaan mengunyah pinang itu dilanjutkan. Saat kuliah di Yogya sekalipun, budaya berpinangnya terus dipertahankan. Caranya, Abdul Kadir ke pasar-pasar tradisional. Tempat para mbok-mbok pedagang pasar zaman dulu berjualan. Sambil mengunyah pinang. Bahkan kadang juga ‘bersusur’ tembakau.

“Saya mencobanya juga,” kata Abdul Kadir. Mengunyah pinang. Plus sirih, plus kapur. Pernah juga ia mencoba mengunyah pinang gaya mbok-mbok Jawa. Yakni dengan tambahan gambir. Namun ia tak melanjutkannya. Menurutnya, makan pinang gaya Jawa yang memakai gambir, terlalu keras. Ia kembali makan pinang gaya Papua. Tanpa gambir.

Ya, pinang dan Papua memang tak dapat dipisahkan. Pinang tumbuh di mana-mana di Papua. Siapa pun mudah mendapatkannya dari lingkungan sekitar. Toh, banyak juga pinang yang dijual. Biasanya oleh mama-mama setempat di pinggir jalan. Orang bisa membeli pinang dan memakannya di situ. Sambal duduk-duduk, berbincang tentang berbagai hal. Seperti kedai kopi sederhana di Sumatera.

Apa istimewanya pinang?

Orang-orang dulu, di berbagai pelosok Nusantara, tentu lebih tahu. Maka mereka pun menggunakannya dalam keseharian mereka. Tanaman ini dikenal dengan berbagai nama di daerah. Seperti penang, pining, pineung, pua hingga jambeAreca sp. menjadi nama latinnya.

Dalam hal tertentu, pinang dapat berperan seperti kopi. Memiliki efek tertentu pada saraf, yang antara lain tak mudah membuat ngantuk. Makan pinang tak sekadar menghangatkan. Namun juga, seperti dikemukakan Kadir, “membuat badan terasa lebih segar”.  Maka ia pun selalu membawa pinang bersamanya. Termasuk saat sedang tugas ke Jakarta.

Kopi mengandung kafein. Pinang mengandung alkaloid serupa, yakni berupa arekaina. Ini yang membuat pinang memiliki manfaat khusus. Yang membuat pinang banyak dimanfaatkan masyarakat tradisional. Setiap daerah memanfaatkannya secara berbeda.

Di satu daerah, pinang dipakai untuk obat diare. Di tempat lainnya untuk memberantas cacing.  Ada juga yang menggunakannya sebagai sebagai obat mata. Dan yang pasti adalah sebagai ‘penyegar badan’.  Fungsi serupa yang ditawarkan oleh ‘minuman enerji’ yang bertebaran di pasar.

Publik mengenal berbagai merek minuman enerji. Seperti Kuku Bima, Hemaviton, hingga M-150. Bahkan merek dari Thailand, dan menggunakan bahasa Thailand, pun dapat menguasai pasar minuman enerji di tanah air. Masyarakat kita dulu tak mengenal produk pabrikan seperti itu.

Mereka menggunakan bahan alami yang jelas sehat. Apalagi kalau bukan pinang. Para perempuan pekerja Jawa di sawah dan pedagang pasar biasa menggendong berat bawaannya. Mereka kuat. Mereka mengunyah pinang.   

Ada pula yang khusus dari pinang. Yakni untuk menjadi pelangsing. Beberapa suku pesisir di Papua memanfaatkannya untuk mengecilkan perut paska kelahiran. Rebusan buah pinang muda diminum selama dua pekan buat menyusutkan rahim. Itu kearifan lokal Papua yang telah terbukti berabad-abad.

Kearifan lokal seperti ini yang perlu ditengok lagi. Dan Papua dengan pinangnya dapat menjadi pintu masuk ke sana. Selama ini, pinang hanya dipandang sebelah mata. Dianggap sekadar komoditas pertanian tradisional belaka. Yang tradisional seolah tak pantas untuk menjadi bagian dari modernitas kita.

Itu terjadi di berbagai aspek. Banyak kearifan yang kita tinggalkan saat kaki kita melangkah dari dunia tradisional ke dunia modern. Banyak manfaat yang jadi terlupakan. Termasuk pada pinang. Itu membuat modernitas kita modah goyah. Tak benar-benar berpijak pada kearifan tradisional.

Di Sumatera misalnya. Kebun-kebun lama, tempat pinang banyak tumbuh, dibabat. Dijadikan perkebunan sawit yang –saat itu—lebih menjanjikan. Tapi kemudian harga sawit ambruk. Sementara permintaan pinang, antara lain dari India, melesat. Ada yang lalu menyesal.

“Lebih baik kita babat lagi sawitnya, tanam saja kembali pinang. Lebih menguntungkan, ” ungkap seorang petani sawit di Riau. Permintaan luar negeri pada pinang kita memang meningkat.

Peningkatan perhatian pada pinang itu dapat dicermati pada aktivitas sebuah lembaga di Ambon. Yakni pada Balai Besar Perbenihan dan Proteksi Tanaman Perkebunan. Sebuah lembaga yang wilayah kerjanya mencakup seluruh wilayah Sulawesi, Maluku, hingga Papua.   

Beberapa tanaman menjadi perhatian Balai Besar ini. Di antaranya adalah kepala, coklat, cengkih, bahkan juga pala. “Kita sedang mendalami satu tanaman lagi, yakni pinang,” kata Ache, salah seorang pejabat di lembaga ini. Permintaan dari Timur Tengah sangat banyak. Sedangkan pinang kita disebutnya sangat bagus. Terutama yang dari Papua.

Maka, tentu selayaknya kita mengangkat pinang sebagai salah satu komoditas andalan. Terutama pinang Papua. Bukan semata karena pinang bernilai ekonomis tinggi. Lebih dari itu, pinang juga memiliki nilai kultural yang luar biasa. Krisis kemanusiaan di Papua di hari-hari terakhir ini jangan-jangan juga karena kita mulai mengabaikan kearifan kultural itu.

Mengunyah pinang lebih berakar pada budaya kita dibanding ngopi. Mengapa kita tidak membangkitkan kembali tradisi ini. Tentu dengan mengemasnya sesuai tuntutan modernitas. Dengan begitu, generasi milenial pun tak canggung untuk berpinang.

Pinang bukan hanya menyehatkan. Lebih dari itu adalah mengeratkan jalinan sosial yang retak karena modernitas. Termasuk di Papua sekarang. Tanah yang kearifannya dijaga baik oleh sosok seperti Abdul Kadir putra Raja Ampat itu.*

Zaim Uchrowi, Ketua Dewan Redaksi AGRONET  

BERITA TERKAIT