UMM Miliki Lembaga Pemeriksa Produk Halal

Selasa, 22 Mei 2018, 11:24 WIB

Kampus UMM | Sumber Foto:ummcampus/Instagram

AGRONET – Mayoritas masyarakat Indonesia adalah muslim. Konsumen muslim tentu sangat pedulu dengan kehalalan produk yang dikonsumsinya. Keamanan produk halal menjadi hal yang tak bisa dipisahkan lagi. Mulai dari produk pangan, obat-obatan hingga kosmetik.

Berawal dari kepedulian terhadap fenomena halal ini, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sebagai universitas muslim terkemuka menaruh perhatian khusus terkait kehalalan produk. Bekerja sama dengan Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, UMM telah membentuk Lembaga Pemeriksa Halal (LPH) sebagai salah satu wujud usaha membangun kesadaran masyarakat terkait pentingnya produk halal.

“Kesadaran masyarakat Indonesia terhadapa pentingnya produk yang aman dana halal belum baik dan meluas,” sahut Elfi.

Elfi Anis Saati, dosen jurusan Ilmu Teknologi Pangan (ITP), merupakan salah satu tokoh yang berperan dalam berdiri dan berjalannya LPH UMM. UMM sendiri untuk mencapai visi misi dari Fakultas Pertanian dan Peternakan (FPP), yakni mengembangkan teknologi pangan yang halal-thoyib (halal dan baik) membentuk mata kuliah baru yaitu Manajemen Pangan Aman dan Halal (MPAH).

UMM pun menjadi satu-satunya kampus yang memiliki kurikulum ini di Indonesia. Mata kuliah MPAH berisi materi yang didukung studi atau suvey, wisata halal pada akhir kuliah pada perusahaan, UKM, hotel, rumah sakit, katering, restoran, pondok pesantren, asrama, balai hingga sekolah full day.

Elfi menjelaskan terdapat beberapa syarat untuk membentuk Lembaga Pemeriksa Halal (LPH). Pertama, mempunyai kantor sendiri, kedua mempunyai minimal tiga auditor halal bersertifikasi MUI. Kedua, memiliki atau bekerjasama dengan laboratorium terakreditasi.

“Makanya saya berusaha mendapatkan lab terakreditasi terlebih dahulu,” jelas Elfi.
Setelah dua tahun berjalan perlahan, cita-cita Elfi untuk mendapatkan laboratorium terakreditasi tersebut terlaksana. September 2017 ia meraih ISO 17025. Ia mengaku, akreditasi laboratorium lebih rumit daripada akreditasi jurusan karena yang dinilai dua hal, yakni aspek manajemen dan aspek tehnis. (UMM/222)

 

BERITA TERKAIT