SEARCA Susun Kurikulum Ketahanan Pangan dan Perubahan Iklim

Jumat, 10 Agustus 2018, 09:28 WIB

Workshop Master of Science in Food Security & Climate Change (MS FSCC) SEARCA yang digelar di IPB International Convention Center (IICC) Bogor. | Sumber Foto:IPB

AGRONET--Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Gadjah Mada (UGM), Universiti Putra Malaysia (UPM), Kasetsart University, Thailand, University of Los Banos, Filipina yang tergabung dalam The Southeast Asian Regional Center for Graduate Study and Research in Agriculture (SEARCA) bersama dengan konsorsium perguruan tinggi di Eropa yang anggotanya diantaranya: IAVF-AGREENIUM dan AGRINATURA melakukan kolaborasi untuk menyusun kurikulum program master terkait ketahanan pangan dan perubahan iklim. Penyusunan kurikulum ini dikemas dalam "Workshop Master of Science in Food Security & Climate Change (MS FSCC) SEARCA" yang digelar di IPB International Convention Center (IICC) Bogor, Selasa- Sabtu (7-11/8).

Wakil Rektor Bidang Pendidikan dan Kemahasiswaan IPB, Drajat Martianto, ketika membuka acara menyampaikan sangat mengapresiasi kegiatan workshop kolaborasi perguruan tinggi se-ASEAN.

”Ini merupakan pertemuan untuk membahas joint curriculum, agar nantinya perguruan tinggi besar ini dapat mengadakan kerjasama pendidikan untuk master di bidang Climate Change dan Food Security. Hal ini penting dilakukan karena ini memang tantangan besar bagi kita semua di masa depan. Kita menghadapi perubahan iklim yang sangat luar biasa ekstrim dan itu menimbulkan banyak risiko ketidaktahanan pangan. Disamping risiko menyangkut food production kita akan terpengaruh. Belum lagi masalah terkait banjir, kekeringan dan sebagainya tentu akan mempengaruhi logistik, distribusi pangan terganggu, kerusakan tanaman, kehancuran dan sebagainya. Hal ini akan mengganggu ketersediaan pangan dan konsumsi pangan dan pada akhirnya yang paling berat menimbulkan kekurangan pangan dan kemudian masalah gizi. Oleh karena itu harus diantisipasi,” jelas Dr. Drajat.

Antisipasi yang harus dipersiapkan antara lain kebijakan. “Kita juga harus menyiapkan sumber daya manusia. Sumber daya manusia yang punya pemahaman yang memiliki kemampuan dalam hal teknis mengenai prediksi-prediksi, membuat studi-studi yang kemudian nantinya bisa dijadikan early warning system atau sistem peringatan dini. Khususnya terkait dengan climate change dan food security.”

Lebih lanjut Drajat menyampaikan sangat penting untuk menyiapkan mahasiswa yang nantinya mampu melakukan kajian secara akurat terkait perubahan iklim, ketahanan pangan dan gizi. “Dengan kurikulum ini nantinya mahasiswa dapat mengambil sebagian mata kuliah di IPB. Sebagian di negara yang tergabung dalam kerjasama ini. Di beberapa perguruan tinggi mungkin bisa dengan twining program, satu ijazah dengan dua universitas. Di IPB sendiri tidak memiliki program twining program, namun kita bisa mengakui kredit sebagai kesetaraan untuk mata kuliah tertentu.

Narasumber yang hadir dalam kesempatan itu diantaranya: Dekan Sekolah Pascasarjana IPB, Miftah Fauzi, Sekretaris Program Magister Sekolah Pascasarjana IPB, Nahrowi, Poon Kasemsap (Thailand), Nuttakan Nitayapat (Thailand), Antje Henkelmann (Jerman) dan Didier Pilot (Agrinatura). (IPB/ris/222)

Komunitas