IPB Gelar Mechanical and Biosystem Fair 2018

Selasa, 18 September 2018, 09:38 WIB

Seminar Nasional MBF 2018 kali ini mengusung tema ‘Revolusi Industri 4.0 sebagai Langkah menuju Pertanian yang Berkelanjutan’. | Sumber Foto:Humas IPB

AGRONET--Penduduk dunia pada tahun 2018 tercatat sebanyak 7,53 milyar jiwa. Diperkirakan pada tahun 2045 jumlahnya meningkat menjadi sembilan milyar jiwa. Hal tersebut memaksa Indonesia untuk menemukan solusi tepat dalam menghadapi era industri 4.0 di berbagai bidang. Seiring meningkatnya jumlah penduduk dunia, permintaan akan bahan pangan akan ikut meningkat pula.

Pertanian yang merupakan ujung tombak dari ketahanan pangan di Indonesia harus mulai dibenahi untuk menyongsong era industri 4.0. Dalam rangka Dies Natalis Institut Pertanian Bogor (IPB) Ke-55, Himpunan Mahasiswa Teknik Pertanian (Himateta) IPB menggelar Mechanical and Biosystem Fair (MBF) 2018 yang digelar di Kampus IPB Dramaga, Bogor (15-16/9).

MBF 2018 digelar untuk mempersiapkan hal-hal penting dalam menghadapi era industri 4.0 di bidang pertanian. MBF 2018 terdiri atas beberapa rangkaian acara yaitu expo, lomba, dan seminar nasional. Expo dilaksanakan selama dua hari berturut-turut di pelataran Graha Widya Wisuda. Stand expo diisi dengan beberapa inovasi yang dihasilkan oleh mahasiswa dari Departemen Teknik Mesin dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian (TMB Fateta IPB). Lomba yang diselenggarakan terdiri dari tiga cabang yaitu Lomba Karya Tulis Ilmiah untuk mahasiswa, Lomba Gagasan Tertulis dan Lomba Desain Kemasan Buah untuk siswa. Lomba ini diikuti oleh 90 tim yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia.

Seminar Nasional MBF 2018 kali ini mengusung tema ‘Revolusi Industri 4.0 sebagai Langkah menuju Pertanian yang Berkelanjutan’. Tema tersebut diusung karena memiliki tingkat urgensi yang tinggi terhadap kesiapan Indonesia sebagai negara yang mandiri di bidang pertanian. Kebutuhan pangan dunia yang meningkat merupakan masalah besar yang harus mulai dipikirkan solusinya. Masalah besar ini bukan merupakan suatu musibah bagi negara yang mampu mengatasinya. Indonesia merupakan pasar terbesar dunia karena memiliki jumlah penduduk yang banyak. Belasan tahun ke depan merupakan ‘masa emas’ bagi Indonesia yang akan menikmati bonus demografi. Tentunya, pencapaian ‘masa emas’ itu harus dipersiapkan mulai sekarang.

Peningkatan pola konsumsi dan perilaku konsumen menyebabkan permintaan pangan semakin meningkat. Industri makanan akan meningkat karena jumlah penduduk dunia meningkat. Tidak hanya permintaan pangan saja yang meningkat, tetapi juga diperlukan terobosan energi terbarukan yang ramah lingkungan sebagai salah satu penggerak utama perubahan pertanian.

Perwakilan dari Biro Perencanaan Kementerian Pertanian RI yang juga merupakan alumni IPB, Dr. Prayudi Syamsuri, menuturkan bahwa era industri 4.0 untuk pertanian dan pangan membutuhkan persiapan di beberapa hal krusial. Fokus persiapan ditujukan pada basis Internet of Things (IoT), big data, robotik, wearables, and 3D printer. “Persiapan dilakukan di berbagai sektor antara lain bioindustri, precision farming, connected tractor, intermittent irrigation, harvesting smart, farm land rent, rencana tanam-proyeksi harga, sensor rasa artifisial, e-Lelang, robot koki, smart transportation,and retail services. Precision farming dimulai dari industri pertanian off-farm hingga menjadi hidangan yang disajikan di atas meja. Connected tractor dilakukan dengan pemasangan chip pada traktor.Intermittent irrigation dapat dilakukan dengan menghemat penggunaan air dimulai dengan cara mandi menggunakan shower,” ujarnya.

Seminar nasional ini juga menghadirkan beberapa sosok inspiratif di bidang pertanian yaitu pendiri iGrow yang merupakan start up Indonesia yang berkembang pesat, Muhaimin Iqbal. Iqbal mengungkapkan bahwa minat generasi muda jaman sekarang terhadap pertanian cenderung menurun. Hal tersebut dapat diatasi dengan kecanggihan teknologi nano serta mempelajari finance technology agar mampu bersaing di kancah internasional.
Selain itu, Mahasiswa Berprestasi II Tingkat Nasional dari IPB, Arga Putra Panatagama, turut mengedukasi para peserta seminar dengan memaparkan materi yang menarik. Arga memberi beberapa tips yang dapat dilakukan untuk menemukan potensi diri dengan mulai mengenal kompetensi yang ada dalam diri untuk menjadi pribadi yang memiliki keunggulan baik secara spesialis maupun generalis (IPB/AD/Zul/222).