IPB Tanam 100 Pohon Langka Indonesia

Selasa, 02 Oktober 2018, 16:44 WIB

Kegiatan yang mengusung tema “Selamatkan Pohon Langka Menuju Indonesia Hijau” ini digelar di halaman gedung Perpustakaan, Kampus IPB Dramaga, Bogor. | Sumber Foto:Humas IPB

AGRONET--Direktorat Kerjasama dan Hubungan Alumni Institut Pertanian Bogor (IPB) bekerjasama dengan Himpunan Alumni (HA) IPB, SEAMEO Biotrop serta didukung oleh Badan Eksekutif Mahasiswa- Keluarga Mahasiswa (BEM-KM) IPB menggelar kegiatan konservasi keanekaragaman hayati pohon langka Indonesia. Kegiatan yang mengusung tema “Selamatkan Pohon Langka Menuju Indonesia Hijau” ini digelar di halaman gedung Perpustakaan, Kampus IPB Dramaga, Bogor (28/9).

Selain memiliki keanekaragaman ekosistem, Indonesia juga memiliki keanekaragaman jenis baik untuk mamalia, reptil, burung, amfibi, primata, ikan dan tentu saja tanaman. Untuk jenis tanaman, Indonesia memiliki keanekaragaman tanaman yang sangat tinggi, baik untuk ekosistem rawa, hutan basah dataran rendah, padang rumput savana, ekosistem pegunungan dan berbagai ekosistem lainnya.

Berdasarkan daftar dalam IUCN baik untuk vulnerable, endangered maupun critically endangered, pohon-pohon endemik dan langka di Indonesia sangat banyak. Beberapa jenis yang termasuk langka antara lain eboni (Diospyros celebica), ulin (Eusideroxylon zwageri), cendana (Santalum album), merbau (Intsia bijuga), damar pilau (Agathis borneensis), damar putih (Agathis labillardierei), resak jawa (Vatica javanica), kempas malaka (Koompassia malaccensis), saninten (Castanopsis argentea) dan masih banyak jenis lainnya yang tersebar di seluruh Indonesia.

“Pada awal gerakan pelestarian pohon langka ini, ada sekira 100 pohon langka yang ditanam di kampus IPB. Penyelamatan pohon langka ini bertujuan agar generasi mendatang bisa melihat bahwa pohon langka itu dapat memberikan kehidupan dan kesejukan yang lebih baik bagi kita semua. Tahun depan rencananya HA IPB akan menanam pohon langka dengan mengggerakkan Dewan Pengurus Daerah (DPD) HA IPB yang ada di Indonesia,” tutur Ketua Panitia, Zulhamsyah Imran.

Sementara itu, Rektor IPB, Dr. Arif Satria mengatakan bahwa kita perlu mencanangkan aksi ini sebagai sebuah gerakan kultural untuk membangun kesadaran dan kebangggaan tentang biodiversity yang dimiliki Indonesia.
“Gerakan menanam ini perlu dilakukan secara sistematis, perlu dikaji sejauh mana kemungkinan calon wisudawan IPB harus menanam pohon langka sebagai syarat sebelum wisuda. Mungkin sebelum lulus mereka harus menanam.

Kalau tidak diikuti gerakan menanam, dengan jumlah penebangan pohon saat ini yang semakin meningkat, maka akan terjadi krisis lingkungan. IPB akan coba memikirkan, apakah bentuknya wajib atau sukarelawan untuk calon wisudawan IPB. Setelah ada bukti foto telah menanam, baru mengambil ijazah, misalnya. Ini penting untuk membangun komitmen,” kata Rektor IPB.

Selain calon wisudawan, Rektor IPB juga menghimbau pasangan yang akan menikah untuk menjadikan pohon langka sebagai mahar. Gerakan ini sudah dilakukan di Kuningan, yang menerapkan pernikahan ramah lingkungan. Mahar dalam pernikahan disertakan dengan mahar pohon, sehingga kelestarian lingkungan akan tetap terjaga.
“Semoga ini bisa diterapkan di kota dan kabupaten Bogor, ” ujarnya.

Sementara itu Ketua Umum HA IPB, Ir. Fathan Kamil menyampaikan sampai saat ini masih banyak masyarakat Indonesia yang belum mengetahui bahwa Indonesia memiliki begitu banyak pohon langka yang perlu perhatian dan pelestarian. Pengetahuan tentang keberadaan dan manfaat pohon langka ini juga masih sedikit.

“Untuk itu, kita perlu memberikan perhatian dan berperan penting dalam upaya pelestarian pohon langka ini. HA IPB akan selalu bersemangat dan siap bergandengan tangan dalam gerakan memajukan IPB, memajukan pertanian, melestarikan tanah, air, flora, fauna yang merupakan kekayaan terbesar tanah air ini,” tuturnya.

Selanjutnya Direktur SEAMEO Biotrop, Dr. Irdika Mansur mengatakan, kekayaan alam Indonesia ini luar biasa tapi tidak digunakan atau kelebihan digunakan. Jadi yang ada, ada beberapa pohon yang nilai ekonominya dihabiskan sementara masih banyak yang belum dimanfaatkan. Selain itu menurutnya rakyat Indonesia itu latah membudayakan bangsa lain.

“Kita itu sering budayakan milik orang lain, yang kita ekspor juga miliknya orang lain. Kelapa sawit, kopi, kakao miliknya orang lain, sedangkan milik kita cendana, gaharu, meranti habis dan dibudidayakan oleh Australia dengan skala yang luas,” ujarnya. Pada kesempatan ini juga dilakukan penandatangan Memorandum of Understanding (MoU) tentang pendidikan, penelitian, pengembangan almamater dan pengabdian kepada masyarakat antara IPB dan Dewan Pengurus Pusat (DPP) HA IPB. (IPB/Zul/222)

Komunitas