Rektor UGM Resmikan Kandang Closed House Fakultas Peternakan

Sabtu, 22 Desember 2018, 11:21 WIB

Rektor UGM meresmikan kandang ayam closed house di Fakultas Peternakan pada Kamis (20/12)/2018. | Sumber Foto:Sumber: https://ugm.ac.id/id/news

AGRONET --  Rektor UGM meresmikan kandang ayam closed house di Fakultas Peternakan pada Kamis (20/12). Kandang yang mampu menampung enam ribu ayam ini dibangun dengan hibah dari PT. Charoen Pokphand Indonesia, Tbk.

“Ini adalah kandang ayam modern yang dilengkapi  dengan  CCTV agar para mahasiswa bisa mengamati langsung dalam proses perkuliahan,” tutur Presiden Direktur Charoen Pokphand, Dr. (HC) Tjiu Thomas Effendy, SE., MBA.

Hibah ini, ujarnya, diberikan untuk mendukung proses belajar dan mengajar di Fakultas Peternakan UGM demi menciptakan sarjana peternakan yang siap untuk terjun langsung ke dunia peternakan dengan pemahaman yang mumpuni tentang proses budi daya ayam.

Daya saing Indonesia di bidang peternakan, ujarnya, masih relatif rendah karena belum efisiennya produksi hasil ternak sehingga harga jualnya lebih tinggi dibandingkan dengan produk ternak impor.

“Kalau pemerintah tidak menjaga dengan baik, tidak ada lagi orang yang mau beternak karena impor ayam lebih murah daripada harus susah-susah pelihara ayam,” imbuhnya.

Untuk meningkatkan efisiensi, pemanfaatan teknologi menjadi hal yang tidak bisa diabaikan. Indonesia perlu mengembangkan teknologi mutakhir di bidang peternakan agar tidak tertinggal dari kemajuan negara lain. Selain teknologi, sumber daya manusia yang mumpuni juga diperlukan untuk memastikan bahwa sumber daya lainnya dapat dimanfaatkan secara maksimal.

Rektor UGM menyatakan apresiasinya terhadap pemberian hibah kandang dari Charoen Pokphand. Selain sebagai sarana pendukung proses pembelajaran dan penelitian, fasilitas ini dapat menjadi bagian penting dari upaya untuk menumbuhkan bibit kewirausahaan sosial di kalangan mahasiswa.

Perguruan tinggi, menurutnya, kini memiliki fungsi sebagai agen pembangunan ekonomi melalui hilirisasi riset serta penciptaan lulusan yang mampu berkontribusi bagi perekonomian nasional. Untuk itu, mahasiswa  perlu mempunyai pola pikir untuk tidak hanya mampu bekerja di perusahaan atau instansi tertentu, tapi mampu membuat inovasi dan membuka lapangan kerja bagi orang banyak.

Socio-enterpreneurship menjadi spirit penyelenggaraan pendidikan di UGM. Kita tidak hanya perlu membekali mahasiswa dengan ilmu pokok dalam bidangnya, tetapi juga semangat kewirausahawan sosial yang tidak hanya mementingkan diri sendiri dalam bisnis tapi bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” terang Prof. Ir. Panut Mulyono, M.Eng., D.Eng.

Dekan Fakultas Peternakan UGM, Prof. Dr. Ir. Ali Agus, DAA., DEA., IPU., mengungkapkan harapannya agar berbagai pengembangan yang dilakukan dari segi pembelajaran serta prasarana mampu menjadikan Fakultas Peternakan UGM sebagai center of excellence yang menjadi rujukan di bidang peternakan, khususnya peternakan tropik.

Ia memaparkan, setelah mengembangkan sapi unggul yang diberi nama Sapi Gama, Fakultas Peternakan juga akan mulai mengembangkan ayam kampung serta itik unggul yang mampu menghasilkan produk peternakan yang berkualitas dan mampu bersaing dengan produk-produk luar negeri. (Humas UGM/Gloria)