Peneliti UNPAD, Rancang Alat Ukur Perairan

Kamis, 21 Pebruari 2019, 08:26 WIB

Drifter GPS Oceanography Coverage Area (RHEA) Projek unggulan FPIK Unpad | Sumber Foto:Dok FPIK UNPAD

AGRONET --  Ada banyak tantangan memahami dengan detail potensi perairan Indonesia. Padahal, data mengenai karakteristik oseanografi Indonesia sangat dibutuhkan tidak hanya untuk nasional, juga berperan secara global.

Dosen Departemen Kelautan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran Noir Primadona Purba, M.Si., menjelaskan, pengukuran ini menjadi sangat penting karena perairan Indonesia memiliki arus samudera (Indonesian Throughflow). Arus ini menjadi salah satu sistem yang dapat mengubah karakteristik perairan global.

 “Untuk saat ini, pentingnya pengukuran karakteristik laut lebih disebabkan oleh pengaruh pemanasan global,” kata Noir.

 Untuk melakukan pengukuran/pengambilan data tersebut membutuhkan instrumen yang mampu mengakomodasi seluruh wilayah perairan secara berkala (real time). Instrumen ini juga harus mampu mengukur secara presisi pada laut dangkal maupun laut dalam.

BERITA TERKAIT

Sayangnya, belum ada instrumen yang mampu melakukan pengukuran secara berkala sekaligus bisa digunakan di seluruh jenis perairan Indonesia. Hal ini mendorong Noir melakukan penelitian panjang untuk merancang instrumen ukur yang mampu menjawab tantangan tersebut.

 Sejak 2011, Noir melakukan berbagai analisis, diskusi, dan rancang bangun instrumen. Pada 2017, melalui program hibah Riset Fundamental Unpad (RFU) tahap pertama, Noir bersama tim yang terdiri dari Alexander M.A. Khan, Ibnu Faizal, dan Purti G. Mulyani berhasil merancang prototipe instrumen yang dinamai “GERNED” (GPS Drifter Combined).

Prototipe ini mengombinasikan berbagai mini instrumen dengan sistem informasi berkala. Meski demikian, prototipe ini belum diuji langsung ke lapangan.

“Prototipe ini tidak digunakan dalam pengukuran sebenarnya, karena pada saat ini masih dalam pengujian desain dan bahan,” kata Noir.

Penelitian ini terus berlanjut. Di tahap kedua, kajian dilakukan terhadap desain selubung (casing), sensor, serta aplikasi berdasarkan hasil evaluasi dari penelitian tahap pertama. Penelitian tahap kedua ini berhasil mengembangkan instrumen yang dinamai “RHEA” atau (Drifter GPS Oceanography Coverage Area). Instrumen ini diharapkan menjadi instrumen yang baik, murah, mudah, dan tahan lama.

 Secara singkat, RHEA merupakan instrumen yang ditujukan untuk mengukur arus secara lagrangian. Artinya, alat ini mengikuti parcel air ke manapun arus mengalir. Tidak hanya di samudra, RHEA juga bisa digunakan di perairan tertutup seperti danau, waduk, maupun perairan yang sangat dangkal.

Selain mengukur arus, sensor dalam RHEA juga terpasang untuk pengukuran temperatur udara dan air, kadar pH, oksigen, kekeruhan, tekanan, dan posisi. Bahkan, kata Noir, pemasangan sensor dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan keinginan pengguna.

 “Alat ini dapat diaplikasikan untuk berbagai aplikasi seperti kecelakaan kapal, tumpahan minyak, monitoring kualitas air dan sampah laut,” tutur Noir.

Di kawasan perairan darat, RHEA sangat efektif untuk memonitor kualitas air. Dengan demikian, pengguna bisa melakukan antisipasi jika seandainya kualitas air di suatu danau atau waduk memburuk. Dalam beberapa kasus, kematian ikan di danau tidak dapat dicegah karena terlambatnya informasi mengenai penurunan kualitas air.

Efektif dan Cepat

 Noir memaparkan, proses pengiriman data pada RHEA dibuat seefektif dan secepat mungkin. Data ditangkap melalui sensor dan langsung didistribusikan melalui teknologi satelit, sehingga data dapat dengan mudah diterima oleh situs (website) atau bahkan aplikasi khusus. Untuk saat ini pengembangan situs untuk penampungan dan distribusi data dapat dilihat di http://podc.fpik.unpad.ac.id.

 Proses distribusi ini diperkirakan lebih efektif dibandingkan alat ukur lainnya. Dosen yang lahir di Pematangsiantar, 17 Januari 1982 ini menuturkan, belum ada alat yang benar-benar memberikan data secara berkala. Data biasanya harus diolah dulu karena kemungkinan ada data yang tidak valid.

 Beberapa alat observasi sudah ada yang menggunakan teknologi transfer data hampir berkala (near real time). Noir mencontohkan, ada alat bernama “Argo float” yang dirancang dapat menyelam hingga kedalaman 2.000 meter dari permukaan laut dan mengirimkan data pada hari ke-10.

 “Alat ini cukup mahal dan efektivitasnya digunakan di perairan samudra. Untuk alat yang statis dapat menggunakan sinyal telepon. Syaratnya harus ada sinyal (di kawasan perairan yang diukur). Di Indonesia, perairan kita, hampir semua perairan belum dapat dijangkau oleh sinyal telepon,” jelas Noir.

 Material Lokal

 Jika terpikir bahwa pengembangan instrumen ini juga membutuhkan biaya yang besar atau pun komponen yang harus diimpor ke Indonesia, pemikiran tersebut kurang tepat. Noir menuturkan, produksi instrumen RHEA menggunakan bahan baku lokal sebanyak 70%. Selain itu, proses produksi dilakukan murni di dalam negeri.

 “Hampir semua bahan dibeli dari dalam negeri. Kecuali untuk pengiriman data satelit,” kata Noir.

 Dalam pengembangannya, Noir dan tim yang tergabung dalam Marine Research Laboratory (Meal) FPIK Unpad bekerja sama dengan PT. Robomarine Indonesia, industri yang berfokus pada produksi wadah bawah air.

Dengan demikian, riset yang menjadi projek unggulan FPIK Unpad ini juga sudah dirancang untuk produksi secara massal. Tentunya, produk ini diperkirakan jauh lebih murah dari produk yang sudah ada di pasaran serta memiliki manfaat yang lebih banyak. Di sisi lain, alat ini juga dapat mengefesiensikan anggaran survei laut yang sangat besar.

Saat dipamerkan di Manado, 2018 lalu, instrumen ini mendapat apresiasi dari sejumlah kalangan, terutama yang bergerak di bidang kelautan dan perikanan. Bahkan, beberapa pemangku kepentingan sudah menyatakan minat untuk “meminang” RHEA. “Termasuk dari pemerintah daerahnya sendiri,” imbuh Noir.

Instrumen ini akan terus dilakukan pengembangan. Noir mengatakan, pengembangan selanjutnya adalah menambahkan modul agar alat ini dapat menyelam dan mengukur parameter sesuai dengan kedalaman perairannya secara otomatis.

“Hal ini sangat penting karena perairan Indonesia tidak seragam. Misalnya di laut Jawa kedalaman perairan maksimal adalah 100 meter, sedangkan di laut Banda dapat mencapai 4000 meter. Selanjutnya adalah penambahan sensor-sensor lain yang dapat mengukur berbagai paramater,” kata Noir.

Ia berharap, RHEA dapat membantu para peneliti perikanan dan kelautan untuk menjelaskan lautan Indonesia yang sangat kompleks dengan data yang lengkap. RHEA juga diharapkan membantu pembudidaya air tawar untuk mengetahui kondisi perairan di lokasi budidayanya, sehingga dapat meminimalisasi kerugian akibat kematian ikan. (Arief Maulana FPIK Unpad /234).

BERITA TERKAIT