Mahasiswa Polbangtan Manokwari Atasi Krisis Pakan

Senin, 25 Pebruari 2019, 09:16 WIB

Proses Pembuatan Fermentasi Pakan | Sumber Foto:Polbangtan Manokwari

AGRONET--Sepak terjang Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Manokwari dalam mengembangkan pertanian di Papua Barat cukup mendapat perhatian.  Pasalnya, pada Sabtu (23/2) sejumlah mahasiswa Polbangtan Manokwari turun langsung ke Kampug Aimasi, Satuan Perumahan (SP) 3, Distrik Prafi, Manokwari, Papua Barat untuk melakukan penyuluhan.

Kedatangan para mahasiswa menindaklanjuti MOU (memorandum of understanding) antara Polbangtan Manokwari dengan Peternak Kambing di Kampung Aimas SP3, Distrik Prafi atau disingkat TDKPP.  Wakil Direktur I Polbangtan Manokwari yang sekaligus sebagai Dosen Pembimbing Lapangan, Susan C. Labatar, S.Pt, M.Si, menyebutkan, “Mahasiswa kami libatkan dalam membantu peternak dalam menangani krisis pakan.”

Temuan di lapangan, dengan bertambahnya jumlah populasi ternak membuat peternak kesulitan untuk memperoleh pakan dengan jumlah yang lebih besar lagi.  Contohnya yang dirasakan oleh Samio, saat memiliki 36 ekor kambing peranakan etawa (PE) untuk digemukkan tidak ada permasalah yang berati bagi Samio.

Semakin berkembang usahanya, membuat Samio kesulitan mencari pakan.  Kini, populasi kambing PE Samio sudah sebanyak 48 ekor.  Melihat kendala Samio, Susan C. Labatar, S.Pt, M.Si mengerahkan mahasiswa semester tujuh Program Studi (Prodi) Peternakan dan Kesejehteraan Hewan melakukan penyuluhan pemanfaatan batang dan kulit pisang sebagai pakan ternak kambing. 

Prosesnya cukup mudah, batang dan kulit pisang dicampur ampas tahu serta dedak difermentasi menggunakan suplemen organik cair (SOC). Setelah proses fermentasi usai,  Samio diajak untuk menguci coba pada ternaknya.  Dengan lahap pakan fermentasi tersebut disantap oleh kambing-kambing milik Samio.  “Dengan kedatangan rekan-rekan dari Polbangtan Manokwari saya merasa sangat terbantu, khususnya dalam mengatasi kekurangan pakan,” sebut Samio.

Tak hanya beternak kambing, di lahan seluas 2 hektare (ha), Samio menerapkan sistem pertanian terpadu (integrated farming system).  Kotoran ternak kambing Samio olah menjadi pupuk yang digunakan untuk sumber nutrisi bagi tanaman kelengkeng, labu madu, buah naga, dan pohon kapuk.

Sebagai penyangga buah naga, Samio gunakan pohon kapuk untuk melilit batang buah naga.  Kedepan Samio berkeyakinan untuk mengembangkan usahanya, terlebih Samio sudah tidak lagi mengalami krisis pakan. (269)