Negeri Surga Durian ! (Bagian 1: Durian Nusantara, Amboi..!)

Jumat, 16 Pebruari 2018, 17:47 WIB

Evy Syariefa | Sumber Foto:Dokumentasi Pribadi

Braaak..! Juring durian itu akhirnya terbelah. Serta-merta kira-kira sepuluh tangan yang sudah mengintai sejak tadi menyerbu juring yang terbuka. Hanya tiga tangan yang berhasil mendapatkan pongge buah durian yang dagingnya kuning itu dan pemilik tangan langsung berteriak girang. Pongge yang didapat langsung meluncur masuk ke mulut. Sementara tangan-tangan lain kembali menunggu juring berikutnya dibuka.

Begitulah biasanya suasana ketika serombongan maniak durian menikmati buah raja itu. Mereka berkumpul di lapak-lapak penjual durian, pergi ke kebun atau sentra durian bersama-sama, atau membawa durian dari toko buah ke rumah atau kantor untuk dibuka bersama. “Yang seru dari makan durian, ya rebutannya ini,” kata salah seorang dari mereka. Mungkin banyak benarnya pendapat itu. Kerapkali setelah sabar menunggu proses belah durian, isinya kosong, mereka kecele. Seringkali juga isinya lengkap tapi rasa buah anyep, jadilah kecewa. Yang membuat girang tentu saja ketika juring terbelah, pongge-pongge durian yang warnanya putih atau kuning itu bercitarasa legit sampai manis agak pahit.

Maniak durian tanahair sungguh beruntung Indonesia surga durian. Hampir setiap daerah memiliki durian unggul nan enak. Boleh dibilang dari Sabang sampai Merauke ada durian lezat. Mulai Sumatera sampai Papua ada durian andalan. Sudah begitu musimnya bergantian.

Pulau Kalimantan disebut-sebut sebagai tanah leluhur durian. Sebab banyak sekali ditemukan durian enak di sana. Sebut saja durian aspar yang terkenal sampai ke Malaysia—penemunya seorang legenda durian, almarhum Baharuddin, durian Tiger yang salah satu favorit pakar durian Dr Moh Reza Tirtawinata MS—berdaging buah bergradasi kuning tua-kuning muda alias belang-belang seperti macan, dan durian Terong yang walaupun berukuran kecil tapi daging buah tebal dan rasanya manis gurih seperti es krim.

Selain spesies Durio zibethinus—yang kita kenal sebagai durian atau kadu dalam bahasa Sunda, Kalimantan juga memiliki keragaman spesies durio lain dan terbesar di Indonesia. Sebut saja Durio kutejensis yang lebih dikenal dengan nama lai, Durio graveolens yang seperti lai tapi daging buahnya merah—paling istimewa jika warnanya merah tua, sampai-sampai di Brunei Darussalam disebut durian Otak Udang Galah, dan Durio testudinarum alias durian Kura-kura yang buahnya tumbuh di pangkal batang pohon, bukan di cabang. Data Herbarium Bogoriense dari 20 spesies durio di Indonesia, sebanyak 18 spesies ada di Kalimantan, bahkan 14 spesies endemik alias hanya ditemukan di sana.

Durian Sehelai Celana
Di Sumatera siapa yang tidak kenal durian Medan? Nama generik itu untuk menyebut durian-durian enak di Sumatera Utara. Kalau menyebut spesifik maka ada durian Sidikalang, durian Belawan, durian Bintang Lima. Di Sumatera Barat ada durian Jantung, Belimbing, dan Setapak dari Kabupaten Pasaman. Kabupaten itu sentra kedua terbesar di Sumatera Barat. Sentra utama Kabupaten Solok. Di sana ada durian Sahalai Sarawa alias sehelai celana.

Durian ini miliki leluhur Ketua Perhimpunan Ikan Hias Indonesia dan Sekjen Masyarakat Agribisnis Indonesia, Ir Maxdeyul Sola. Dahulu sang buyut kerap membawa durian itu dari hutan ke pasar dan menjual dengan harga setara sahalai sarawa, dalam bahasa Minang berarti sehelai celana panjang, dari situ nama durian itu berasal.

Di ujung selatan Sumatera—Lampung—ada durian “Si Awi di kebun seorang dokter yang pencinta durian, drg Legowo Hamijaya SpBM. Penampilan Si Awi menor dengan daging kuning tua cerah, daging buah tebal, rasa manis campur pahit. Di Pulau Bangka ada durian Namlung. Memasuki Pulau Jawa durian enak menyebar mulai ujung barat di Pandeglang, Bogor, Jepara, Kendal, sampai Banyuwangi di ujung Timur.

Di Pandeglang Si Radio salah satu durian juara: warna kuning mentega, rasa manis pahit. Penggiat durian di Serang, Iwan Subakti menambah deskripsi rasanya dengan creamy, legit, dan kental. Disebut Si Radio karena dulu pemilik pohon menebas buahnya seharga radio yang waktu itu setara harga seekor kerbau. Banyuwangi sohor dengan keberagaman durian berdaging merahnya. Setidaknya di sana terdapat 25 jenis durian merah.

Durian Pelangi Papua
Durian Pelangi di Papua diduga juga turunan dari durian-durian merah asal Banyuwangi. Yang disebut terakhir salah satu durian fenomenal tanahair. Papua selama ini jarang disebut sebagai sentra durian. Namun seorang eksplorer durian, Karim Aristides, menemukan durian Pelangi di salah satu sudut Manokwari. Karim yang pengemar berat buat raja itu langsung terpikat pada durian Manokwari itu. Rasanya manis, creamy. Aroma khas durian juga menguar dari buah matangnya. Ukuran buah pas, tidak terlalu besar, tidak kecil. Yang pasti warna daging buah di luar kebiasaan! Jingga berkombinasi dengan merah dan kuning, beda dengan warna daging buah durian lazimnya yang putih saja sampai kuning. Kombinasi warna merah-kuning-jingga itu yang melahirkan namanya: Pelangi. Edible portion alias bagian buah yang bisa dimakan tinggi sehingga tak rugi memakannya. Boleh dibilang pelangi memenuhi kriteria durian idaman.

Pantas jika sejak ditemukan pada 2012, Pelangi menjadi buruan pehobi, penggemar, pekebun, peneliti durian. Dari pohon di Manokwari, bibitnya menyebar ke berbagai daerah di Indonesia. Sayang, pohon induknya kemudian mati tersambar petir. Beruntung anakannya sudah cukup banyak tersebar di berbagai daerah dan tahun ini dilaporkan mulai belajar berbuah. Salah satunya di kebun seorang penggemar buah di Sulawesi. Pakar durian di Bogor, Dr Moh Reza Tirtawinata MS, langsung terbang ke Celebes. Harap mafhum ini soal salah satu durian fenomenal di Indonesia yang berbuah di luar habitat. Saat hari berganti dari 2017 ke 2018 Reza tengah berada di kebun Pelangi Celebes.

Pulang dari Sulawesi Reza semringah, sebab pohon pelangi yang didatangi jadi bukti awal bahwa durian asal Papua itu adaptif tumbuh dan berbuah di luar habitat. Kabar lain yang didapat, ada durian pelangi berbuah di Jawa Timur. Harap mafhum, mengembangkan durian di luar habitat susah-susah gampang. Kualitas buah kerap tidak ajek di tempat berbeda. Reza menduga faktor lingkungan berbeda mempengaruhi kualitas buah.

Durian pelangi di Celebes juga belum sempurna. Sosok buah, ukuran buah, warna kulit sudah serupa. Warna daging buah belum seelok pelangi di Papua. Rasanya juga masih kurang manis. Diduga ini karena baru buah pertama. Biasanya pada buah-buah pertama, kualitas—termasuk di sini adalah warna dan citarasa daging buah—masih belum stabil. Perawatan intensif pada tahun-tahun berikutnya berpotensi menjadikan kualitas buah lebih baik. Sembari menunggu bukti sang bianglala berbuah bagus di berbagai daerah, mari tetap kita nikmati musim durian tahun ini yang memberikan banyak buah kepada para penggemarnya. Sebab Indonesia negeri dan surganya durian. ***

*) Evy Syariefa, Penikmat Pertanian, Penulis, di Bogor