Muncar Memudar

Rabu, 28 Pebruari 2018, 21:45 WIB

Zaim Uchrowi di Pelabuhan Muncar

Tahu nama ini? Muncar. Sebuah nama yang moncer. Setidaknya dulu. Hampir semua murid SD Indonesia zaman lalu -terutama di awal masa 1970-an- mengenal nama nama daerah di Kabupaten Banyuwangi ini. Termasuk Susi Pudjiastuti tentu. Apalagi kini Bu Susi jadi Menteri Kelautan dan Perikanan.

Saat itu, nama Muncar disebut dalam buku Himpunan Pengetahuan Umum (HPU). Buku yang isinya harus dihapal dan dikuasai oleh para siswa agar lulus ujian nasional. Ada apa di Muncar? Di buku itu disebut bahwa Muncar adalah pusat penangkapan ikan. Sebagaimana Bagansiapiapi di Sumatera Utara. Jadi bila ada pertanyaan ”Daerah mana yang menjadi pusat penangkapan ikan?”, kita perlu melingkari abjad di depan tulisan ’Muncar’ dalam daftar pilihan jawabannya.

Kecuali anak-anak Banyuwangi, sekarang hampir pasti anak-anak SD tak lagi mengenal Muncar. Nama Muncar telah dilupakan banyak orang. Padahal aromanya sebagai pusat penangkapan ikan masih terasa. Kunjungi saja Pelabuhan Perikanan Muncar. Dari Banyuwangi ke arah pelabuhan melewati pasar tradisional. Dua ratusan meter di belakang pasar itulah tempat merapat para nelayan serta tempat pelelangan ikannya.

Dari tempat itu, sekitar setengah kilometer ke arah selatan, letak pelabuhan Muncar. Gerbang birunya yang terbuka ke arah lapangan luas, menandakan bahwa ini kawasan pelabuhan. Di sisi utara pelabuhan tersebut adalah teluk tempat perahu-perahu nelayan -yang mendaratkan ikannya untuk dijual ke pasar itu- merapat. Bau asin dan sedikit anyir sisa-sisa ikan pun mengudara.

Di sebelah kanan, yakni di arah Selatan, perahu-perahu besar nelayan setempat bersandar. Bentuk, asesori, serta warna-warni perahu nelayan itu begitu mengundang perhatian mata. Buritan perahu seperti mengusung petaka tinggi dengan riasan menarik. Tak sekadar bernilai artistik, namun juga membantu buat melihat posisi dan arah saat perahu berjarak dari daratan.

Di tengah perahu, dibangun semacam menara. Di atas menara itulah dibuat kursi -mirip dengan kursi malas dengan jok empuknya- tempat ’sang kapten’ dapat menyandarkan punggung. Tentu bukan buat bersantai-santai, namun menjadi tempat yang paling strategis untuk mengawasi seluruh medan pertempuran di tengah laut. Wajar kalau tempatnya dibuat senyaman mungkin.

Lampu-lampu besar terpasang di kiri kanan perahu. Sinarnya buat menarik ikan datang saat malam. Ketika malam menggelap, dan perahu itu sudah berada di posisinya yang tepat di selatan Selat Bali yang kaya ikan itu, lampu-lampu itu dinyalakan. Gerombolan ikan pun akan berdatangan ke sekitar perahu, untuk mudah ditangguk dengan jaring, dan kemudian disimpan di lambung perahu yang sudah diisi dengan es. Buat menjaga kesegaran.

Saban malam, semestinya awak-awak perahu melakukan itu. Yakni membawa perahu cantiknya berayun-ayun dengan gelombang, menangguk ikan, lalu mendaratkannya buat memasok pabrik-pabrik pengalengan sardin di sekitar pelabuhan itu. Namun yang semestinya itu tak selalu terjadi. Seperti saat itu, saat sebagian besar perahu itu lebih banyak bersandar di pelabuhan. Tak hanya karena hari-hari ini bukan puncak musim ikan. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, gerombolan sardin itu tak ada.

”Ini harganya bisa sampai Rp 1 milyar,” kata seorang nelayan sambil menunjuk sebuah perahu. ”Kalau sekarang, Rp 500-Rp 600 juta pun dilepas.” Alasannya, gerombolan ikan sardin itu tidak ada lagi. Buat mengganjal kebutuhan sehari-hari, para nelayan pun memancing sekadarnya. Akibatnya, pasokan ke pabrik-pabrik pengalengan sardin pun menipis. Pabrik-pabrik itu terpaksa berjalan jauh di bawah kapasitas produksinya. Itupun kalau masih beroperasi.

                                                              **

Dulu Muncar memang moncer. Bukan hanya di Banyuwangi, juga dibanding banyak pesisir lain di Indonesia. Namun kemonceran Muncar itu sekarang memudar, seperti tergambarkan oleh menganggurnya perahu-perahunya yang lebih banyak bersandar. Pemudaran yang mewakili potret dunia nelayan Indonesia pada umumnya. Betapapun keras upaya pemerintah buat mengangkat nasib para nelayan, kepudaran itu tak juga terhindarkan.

Ernest Hemingway (1899-1961), sastrawan dunia yang meraih Hadiah Nobel lewat karyanya ’Lelaki Tua dan Laut’ itu mengenalkan sebuah fenomena yang dapat menggambarkan situasi Muncar. Yakni hal yang kemudian dikenal sebagai Fenomena Gunung Es. Pada setiap gunung es di lautan, termasuk yang membuat tenggelam kapal Titanic pada 1912, puncak yang terlihat di permukaan selalu terlihat kecil. Sementara itu bagian yang sangat besar justru ada di bawah permukaan hingga tak langsung terlihat.

Memudarnya Muncar dapat diibaratkan sebagai puncak fenomena gunung es masalah perikanan laut atau perikanan tangkap di Indonesia. Di balik memudarnya kehidupan masyarakat perikanan di Muncar, tentu ada persoalan yang sangat serius dalam dunia perikanan laut kita. Persoalan yang tampaknya masih perlu upaya sangat keras mengatasinya.

Kita tahu, pada satu sisi, selama ini laut kita dijarah oleh sindikat regional antarbangsa yang melibatkan nelayan asing dan para pengusaha hitam nasional. Terutama di wilayah Indonesia Timur dan sektar Natuna. Tragedi Benjina di Maluku Tenggara adalah salah satu potret gelapnya. Pada saat yang sama, sejak lebih seperempat abad silam, sudah terkadi over fishing di berbagai perairan.

Menteri Susi dengan gagah berani menghajar sindikat regional perampok ikan. Ucapannya, ”akan saya tenggelamkan,’ dikenal masyarakat luas karena memang telah dibuktikannya. Tetapi, sungguh tak mudah bagi Menteri Susi –dan kita semua-- untuk menghadapi tantangan nyata memudarnya perikanan tangkap oleh para nelayan itu. Over fishing, rusaknya habitat dan ekosistem laut, hingga ledakan penduduk masyarakat nelayan belum menemukan solusi nyata.

Beberapa upaya telah dilakukan. Di antaranya adalah mendorong para nelayan kecil untuk beralih ke budidaya. Di beberapa daerah dengan jumlah nelayan sedikit serta perairan pesisir luas, hal itu dapat dilakukan. Walaupun, tentu juga dengan masa transisi yang tidak mudah. Namun upaya membangun sistem penangkapan ikan secara lestari, seperti melalui pelarangan penggunaan jaring cantrang, sulit diwujudkan.

Kebutuhan perut jangka pendek yang digantungkan para nelayan ke industri surimi mematahkan upaya tersebut. Pada tahun pemilihan kepala daerah (Pilkada), serta menjelang tahun pemilihan presiden, aturan soal cantrang digantung dulu. Sampai entah kapan. Akibatnya dapat dibayangkan. Laut yang sudah agak bersih dari keberadaan gerombolan ikan itu akan semakin bersih dari ikan dalam beberapa tahun mendatang. Tidak akan lama lagi, industri surimi akan segera merosot seperti industri pengalengan sardin saat ini akibat keterbatasan bahan baku.

Itulah gunung es persoalan perikanan kita. Gunung es masalah yang puncaknya tampak pada Muncar yang memudar. Kita belum tahu bagaimana mengatasi itu. Kita belum punya format solusinya. Walaupun kita tahu kunci solusi adalah keberdayaan nelayan sendiri untuk tahu dan mampu menghadapi setiap tantangan. Termasuk tantangan yang sekarang ada. Namun kita –bangsa maritim yang hampir ¾ abad merdeka ini-- belum mampu memberdayakan mereka.

Tinggallah para nelayan sendiri yang harus menghadapi tantangan bersama mereka. Sebagian mereka di Muncar mampu menemukan jalan keluarnya. Yakni beralih ke sektor pariwisata, seperti mengantarkan para turis domestik ke Teluk Biru. Namun, itu hanya sebagian kecil dari mereka. Sisanya masih harus berjuang mengais-ngais penghasilan di lautan yang makin sepi ikan. Sebuah fenomena yang terjadi di berbagai daerah negeri, dan tak hanya di Muncar yang memudar.

*Dr. Zaim Uchrowi, MDM, Ketua Dewan Redaksi AGRONET.