Kelompok (Tani) Memakmurkan

Rabu, 28 Maret 2018, 07:07 WIB

Zaim Uchrowi | Sumber Foto:Dokumentasi Pribadi

Pergilah ke Desa Banyuanyar! Sebuah desa di

Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah. Jika Anda meluncur di jalan provinsi antara Solo-Semarang di wilayah kecamatan Ampel, setelah kota Boyolali, perhatikan di kiri jalan. Terdapat sebuah tulisan besar yang menunjuk arah desa itu. ”Green Smart Village.” Itu yang tertera bersama petunjuk jalannya.

Kehijauan memang terasa kuat saat menuju desa itu. Jalan lurus berbatu disemen yang menanjak itu membelah deretan kebun di kiri kanannya. Teduh. Terasa ’gelap’ dibanding banyak kawasan desa lainnya. Suasana itu yang ada hingga memasuki Desa Banyuanyar. Sebuah keadaan yang membenarkan klaim warga setempat bahwa desanya memang hijau.

Tapi benarkah desa itu desa cerdas? Penuturan Suwarto, tokoh warga setempat, menampakkan kecerdasan warga desa itu. Hijau desa itu bukan sekadar asal hijau. Hijau desa itu berasal dari pilihan warganya yang sudah teruji dari tahun ke tahun. Disebutkannya bahwa kebun-kebun di situ memang dibiarkan merimbun. Penuh dengan pohon-pohon tanaman keras, bukan tanaman pangan. Kayu pohon-pohon itulah ’tabungan’ penduduk setempat.

Selain tanaman keras, praktis hanya kopi yang ditanam di kebun-kebun tadi. Hal tersebut sudah berlangsung selama bertahun-tahun. Selain itu banyak rumpun hijauan yang oleh penduduk setempat disebut rumput Kolobento yang tinggi tegak. Itulah rumput yang jadi pakan utama sapi-sapi perah yang dipelihara penduduk.

Dengan pohon-pohon tanaman keras, kopi, dan sapi perah itulah warga Desa Banyuanyar menggerakkan roda ekonomi setempat. Mereka menjadikan desanya mandiri secara ekonomi. Saban hari para pedagang dari lain daerah datang ke sana buat menampung susu sapi setempat. Hasilnya cukup bersaing dengan ketimbang bekerja merantau keluar desa. Sementara itu, desa pun terjaga lestari.

Di tengah kemandirian dan kelestarian itu terdapat sebuah kelompok. Yakni kelompok petani peternak Sidomakmur yang kebetulan juga dipimpin Suwarto. Kelompok yang pada awalnya dibentuk buat menguatkan usaha sapi perah anggotanya. Seperti dikatakan Suwarto, salah satu hal kritis dalam usaha sapi perah adalah soal kesehatan sapi. Hal itu sangat menentukan kualitas dan kuantitas susu – yang sangat berpengaruh pada penghasilan mereka.

”Kita perlu datangkan mantri kesehatan untuk periksa kesehatan sapi,” kata Suwarto. ”Kalau sendiri-sendiri jadinya mahal. Kalau melalui kelompok akan lebih murah dan diprioritaskan.” Hal bukan hanya menjamin mutu dan jumlah produksi susu. Juga mengurangi biaya produksi susu yang tak rendah.

Berkelompok, juga memudahkan penguatan usaha lain. Yakni usaha kopi yang ditanam warga setempat. Ketika masih berjalan masing-masing, para petani setempat tidak mengolah sendiri hasil kopi yang dipanennya. Mereka mengirim kopi kering setelah penjemuran ke penggilingan kopi di daerah lain.

Biji kopi yang telah dikupas kulitnya itu baru dijual ke pedagang. Mereka bukan saja harus membayar ongkos produksi, namun juga menanggung biaya transportasinya. Setelah itu, para petani pemelihara sapi perah dan sekaligus petani kopi ini juga masih harus membeli kembali kulit kopi dari penggilingan. Buat makanan tambahan sapi.

Lewat kelompok, mereka berhasil mengembangkan usaha penggilingan tersebut. Biaya penggilingan jelas lebih murah. Tidak pula harus keluar uang untuk transportasi. Lebih dari itu, mereka tak perlu lagi membeli kulit kopi buat makanan sapinya. Selanjutnya mereka mengolahnya sebagai bubuk yang dikemas untuk dikirim ke berbagai daerah. ”Kopinya sangat jos, bikin saya melek terus,” kata Nur - salah seorang penikmatnya.

Kopi itu menjadi salah satu produk kelompok tersebut selain susu sapi. Namun kelompok ini tak berhenti sampai di situ. Mereka pun mengembangkan produk olahan susu seperti yoghurt. Produk yang sering dihadirkan di berbagai pameran produk pertanian-peternakan di Jawa Tengah ini selalu laris-manis diserbu pengunjung. Selain itu, banyak keluarga Boyolali di Jakarta memesan yoghurt mereka.

Fenomena itu menjadi bukti: Kelompok berperan memakmurkan masyarakat. Kelompok membuat para petani-peternak gurem punya posisi tawar. Buat meningkatkan kualitas dan skala usaha para petani. Berkelompok, pada akhirnya, juga meningkatkan penghasilan mereka. Itu yang terjadi di Banyuanyar. Juga di banyak tempat lainnya.

Dengan luasan kepemilikan lahan terbatas, perlunya bertani secara berkelompok menjadi suatu keharusan. Dengan kelompok, petani akan kebih mudah mendapatkan input bertani, mengolah hasil tani, hingga memasarkannya sampai ke konsumen akhir. Berbagai hambatan beragrobisnis juga lebih mudah teratasi dengan kelompok.

Persoalan seperti ini sudah lama selesai di berbagai negara Asia yang maju. Seperti di Jepang, Korea Selatan, maupun Taiwan. Sebelum pecah Perang Dunia II, para petani Jepang sudah terhimpun dalam kelompok-kelompok. Model Jepang itu pun kemudian diadopsi oleh pemerintahan Kuomintang di Taiwan. Kehancuran dalam Perang Dunia II malah dipakai Jepang untuk membenahi perhimpunan usaha para petani itu hingga lahir koperasi yang dikenal sebagai JA atau Nokyo sekarang.

Di masa Orde Baru, Indonesia pun sempat mencoba mengembangkan model serupa. Yakni melalui pembentukan Koperasi Unit Desa. Lembaga yang populer dengan sebutan KUD itu pun berfokus pada pertanian. Harapannya, usaha tani yang berserak di masyarakat tersebut dapat terhimpun. Terintegrasi menjadi agrobisnis yang tangguh.

Di beberapa daerah, KUD sempat berkembang pesat. Termasuk di Boyolali yang kini masih tersisa sebagai penampung dan pemasar susu dari petani. Namun pada umumnya KUD-KUD tersebut telah runtuh. Pemanfaatannya untuk kepentingan politik serta praktek korupsi serta masalah kompetensi pengelola menjadi penyebabnya. Sedangkan faktor terpenting dalam penghimpunan petani -yakni pemberdayaan kelompok- malah tak tersentuh.

Itu yang membuat petani kecil kita terus terserak. Masa demi masa pemerintahan tak kunjung mampu membuat petani terhimpun kuat seperti pada bangsa-bangsa lain. Pemerintahan kita, dari masa ke masa, lebih sibuk membuat program populis. Seperti apa yang sering dianggap sebagai sebagai upaya menjaga kestabilan harga. Juga membuat program-program karitatif yang membuat petani makin terbiasa menjadi pihak ’tangan di bawah’. Kita abai pada program mendasar: Pemberdayaan kelompok.

Ya kita abai pada pemberdayaan kelompok. Untungnya, para petani seperti di Banyuanyar mampu kembangkan kelompoknya secara mandiri. Kemampuan yang sebenarnya memang belum ideal. Baru sebatas beragrobisnis skala terbatas. Belum ke skala agroindustri sebagaimana kelompok-kelompok tani di Taiwan atau bahkan Thailand. Tapi, seberapa pun terbatasnya, setidaknya kelompok tani Sidomakmur ini mampu memakmurkan anggotanya. Juga berperan menjadikan Banyuanyar sebagai ’Green Smart Village’ di Boyolali.

Zaim Uchrowi, Ketua Dewan Redaksi AGRONET

BERITA TERKAIT

Komunitas