Sawo Raksasa yang Fantastis!

Selasa, 17 April 2018, 23:26 WIB

Sawo raksasa

Kira-kira sebulan lalu sebuah media berita daring nasional merilis berita tentang sawo raksasa. Tidak seperti buah sawo lazimnya yang paling besar ukurannya sekepalan tangan, ukuran sawo yang ditemukan di salah satu kota di Jawa Timur itu memang raksasa: bentuknya mirip bola rugby, sebesar buah pepaya. Dengan keunikan itu, berita tentang sawo raksasa pun viral.

Si raksasa itu sebetulnya berbeda dengan sawo yang biasa kita kenal. Sawo yang biasa kita kenal yakni sawo manila, nama latinnya Manilkara zapota. Sementara si jumbo itu namanya mamey sapote alias Pouteria sapota. Jadi keduanya berbeda jenis, berbeda spesies. Hanya saja keduanya masih sama-sama anggota famili Sapotaceae alias keluarga sawo-sawoan. Wajar bila kemudian ada yang menyebut mamey sapote sebagai sawo raksasa.

Si raksasa itu sebetulnya bukan benar-benar barang baru. Kira-kira 15 tahun lalu seorang kolektor dan menangkar buah di Demak, Prakoso Heryono, sudah memiliki pohonnya dan memanen buahnya. Boleh jadi Prakoso dan seorang kolektor lain di Depok termasuk orang-orang pertama yang memiliki mamey sapote. Mereka mendapatkan bibit si raksasa dari rekan sesama kolektor buah di Florida, Amerika Serikat.

Mamey sapote sebetulnya asli Kuba, Kosta Rika, dan Meksiko (semua di Amerika Tengah), tapi kemudian penanamannya menyebar hingga ke Florida—yang jika dilihat di peta letaknya berseberang-seberangan dengan Kuba, dipisahkan Selat Florida. Florida, terutama Florida Selatan, beriklim tropis. Pantas jika di sana tanaman-tanaman khas daerah tropis tumbuh dengan subur.

Seumur bayi di kandungan
Mamey sapote di kebun Prakoso berbuah perdana pada 2004 dari tanaman berumur 2,5 tahun. Pertama kali memanen buah sawo raksasa itu Prakoso kecewa. Buah keras dan mentah, tentu tidak bisa dimakan. Usut punya usut, Prakoso kemudian mendapatkan informasi: mamey sapote baru siap panen setelah berumur 9 bulan dari bunga mekar, mirip umur bayi di dalam kandungan. Prakoso memanen mamey sapote pertama pada umur 6 bulan. Pantas buah belum siap konsumsi, meski ukuran sudah cukup besar.

Kisah Prakoso dan mamey sapotenya itu muncul sebagai artikel di salah satu media pertanian nasional. Sawo raksasa itu pun mulai dikenal. Para kolektor dan penangkar buah mengoleksi dan menanam di berbagai daerah. Salah satunya mungkin sampai ke kota di Jawa Timur itu.

Mamey sapote cepat diterima penggemar tanaman buah karena karakternya yang genjah (cepat berbuah) dan gampang berbuah. Mamey sapote berbuah perdana pada umur 2,5 tahun—meski ada juga varietas yang baru berbuah perdana umur 3,5—4 tahun. Pohon berumur 7 tahun bisa menggendong sekitar 30-an buah berukuran besar-besar. Nah, siapa tak sukacita memiliki pohon sawo di halaman rumah dengan buah raksasa dan jumlahnya banyak seperti itu? Apalagi mamey sapote seperti halnya sawo manila—yang lebih dulu banyak ditanam di halaman rumah—berbuah terus-menerus sepanjang tahun, tidak tergantung musim.

Sudah begitu penampilan buahnya menarik. Kulit buah yang berwarna cokelat dan berbintil-bintil membungkus daging buah berwarna jingga sampai merah. Perbedaan warna daging buah karena perbedaan varietasnya. Mamey sapote varietas key west dan magana berdaging buah jingga. Varietas havana dan lorito berdaging buah merah. Citarasa buah manis, tekstur lembut, ada sedikit sensasi bertepung seperti ubi, tapi ”rasa”tepung ini hilang pada varietas-varietas terbaru seperti lorito.

Perawatannya juga mudah. Pemilik pohon cukup memberikan pupuk kandang dan pupuk majemuk lengkap. Tanaman sudah rajin berbuah. Mamey sapote bisa tumbuh membentuk pohon besar. Di sebuah kebun di Bogor pohon mamey sapote berumur belasan tahun tingginya mencapai lebih dari 5 meter. Buahnya puluhan, bahkan mungkin ratusan. Tapi mamey sapote juga bisa dibuat kompak dan pendek untuk tanaman buah dalam pot. Tabulampot mamey sapote yang kompak, buahnya lebat, tak tanggung-tanggung harganya jutaan rupiah!

Sawo Rp225-juta
Berbicara tentang sawo berukuran besar, kira-kira berbarengan kedatangan mamey sapote dari Florida sebetulnya di tanah air juga ada sawo raksasa lain. Namanya ciku mega. Melihat namanya yang punya embel-embel mega (= bahasa Yunani, megalo artinya besar), sudah barang tentu ukuran ciku itu besar. Bobotnya 500 g per buah atau sekilo isi 2 buah. Ciku sendiri sebutan untuk sawo di Malaysia. Ciku mega varietas CM-19 memang asal negara tetangga. Untuk mendapatkan varietas unggul itu periset di Malaysia menghabiskan waktu hingga 10 tahun dan dana hingga—kalau diuangkan dalam rupiah—Rp225-juta untuk menyeleksi dan menyilang-nyilangkan lebih dari 50 varietas sawo dari Florida, Filipina, Thailand, dan Indonesia.

Pada awal 2000-an seorang kolektor dan pekebun buah di Semarang, Lie Ay Yen mendatangkan bibitnya dari negeri jiran ke Indonesia. Kebun buah Taman Wisata Mekarsari di Bogor juga mengoleksi sebagai tanaman buah dalam pot. Sayang ciku mega kurang berkembang di tanahair karena berdasarkan pengalaman para pemiliknya sawo itu pelit berbuah. Belakangan baru diketahui ciku mega baru bisa menghasilkan buah bongsor setelah cukup dewasa (tanaman berumur di atas 5 tahun).

Belakangan juga muncul sawo-sawo jumbo lain. Salah duanya sawo jumbo asal Vietnam dan sawo bongsor dari Filipina. Buah sawo jumbo vietnam hampir sama besar dengan ciku mega. Tapi sawo jumbo vietnam lebih gampang dan rajin berbuah. Ditanam di dalam pot atau planter bag seperti di salah satu kebun di Bogor, sawo jumbo ini juga mau berbuah lebat dan buahnya tetap bongsor.

Sawo-sawo berukuran besar memang cepat menarik perhatian para penggemar, kolektor, dan pekebun buah di tanahair. Harap maklum ukuran sawo di sini rata-rata hanya sebesar telur ayam atau telur bebek. Jika ada yang ukurannya besar, tentu jadi perhatian. Dari tanahair sebetulnya ada juga sawo-sawo yang dikenal sebagai sawo jumbo. Setidaknya ada sawo sumpu asal Tanahdatar, Sumatera Barat; sawo plampang asal Sumbawa, Nusa Tenggara Barat; dan sawo pare asal Kediri, Jawa Timur. Ukuran buah sawo-sawo jumbo itu sebesar bola tenis (bobot sekitar 150—200 gram) atau sekilo isi 5—6 buah, jenis lain bisa isi 7—10 buah per kg.

Sawo sumpu salah satu varietas unggul nasional yang dilepas pada 1994. Penanamannya banyak di Kenagarian Sumpu di Kabupaten Tanahdatar, Sumatera Barat. Sawo sumpu yang besar, manis, dan berdaging buah halus jadi oleh-oleh wisatawan yang melintas jalur Solok-Bukittinggi. Saat musim raya sawo sumpu pada Januari—Februari pedagang-pedagang penjual sawo sumpu bermunculan di jalur dekat kawasan Danau Singkarak itu. Menurut Kepala Balai Penelitian Buah Tropika, Solok, pada era 2000-an, Dr I Djatnika, wilayah Sumpu yang tanahnya berkapur dan kering lokasi tepat untuk menghasilkan buah sawo bercitarasa manis.

Sayangnya kini kita semakin jarang melihat buah sawo dijajakan di pasar-pasar modern, toko buah, maupun pedagang kaki lima. Sawo memang belum menjadi komoditas buah prioritas nasional. Kebijakan pengembangan buah masih pada buah subtitusi impor yakni durian, jeruk, dan lengkeng; buah potensi ekspor yakni nanas, salak, manga, dan manggis; dan buah komoditas domestik paling popular yakni mangga, jeruk, pisang.

Nama sawo tidak ada di dalamnya. Tapi tak mengapalah. Toh para penggemar, pehobi, pegiat, dan penangkar buah tetap giat mencari dan memperkenalkan beragam buah-buah unggulan. Salah satunya mamey sapote si sawo raksasa kerabat sawo manila, yang sempat menyita perhatian khalayak sebulan silam.

Evy Syariefa, penikmat pertanian, penulis, di Bogor