Ekonomi Biru, bukan Sekadar Romantisme

Selasa, 15 Agustus 2017, 22:49 WIB

Farid Gaban | Sumber Foto:Farid Gaban

Pekarangan rumah kami di kaki Gunung Sindoro, Jawa Tengah, seperti belukar yang berisi beragam tanaman: berbagai bunga termasuk anggrek; sayuran seperti selada dan cabe; umbi-umbian seperti ketela dan ganyong; rempah seperti jahe dan stevia; buah-buahan seperti pisang, sirsak, belimbing, jambu, dan markisa; tanaman rambat seperti gambas; pohon pelindung seperti bambu dan kersen. Kami bahkan juga menanam tebu, kapas, dan kakao, meski cuma beberapa batang.

Sesekali istri saya hanya perlu berkeliling memetik sayur dan buah untuk menu makan siang kami. Kadang, kami juga tinggal mengambil ikan, dari kolam yang airnya mengalir sepanjang tahun, untuk dibakar. Kami menyeduh teh atau kopi dengan gula tebu bikinan sendiri, atau pemanis alami daun stevia yang dikeringkan. Jahe yang kami ekstrak sendiri bisa menghangatkan badan ketika malam tiba.

Surga? Beberapa teman saya di Jakarta, tempat 20 tahun saya pernah mukim, mengatakan iri tak bisa menikmati kemewahan serupa. Tapi, sebagian lain mengatakan saya eskapis, melarikan diri dari masalah kota besar dan memilih tinggal di kota kecil lereng gunung. Ada juga yang mengatakan saya terlalu meromantisasi masa lalu, atau latah mengikuti gaya hidup ”back to nature”.

Saya memang menikmati masa kecil yang menyenangkan hidup di desa kecil lereng Gunung Sindoro. Rumah dan pekarangan nenek kami tidak luas, tapi berisi beragam tanaman, termasuk teh yang kami minum dan ketela yang kami bakar di tungku tanah. Pekarangan juga berisi kolam ikan yang dipanen menjelang Lebaran.

Kakek suka mengajak kami naik kerbau ketika membajak sawah tak jauh dari rumah. Jika sore, kami mandi di sendang, atau telaga, yang airnya jernih hingga ke dasarnya. Bersama teman-teman, kami membuat gubug jerami dan bermalam di situ setelah sawah dipanen.

Menyenangkan dan kedengaran romantis. Tapi, buat saya, mencoba meniru kembali cara hidup kakek-nenek bukanlah sekadar romantisme atau nostalgia.

Dalam beberapa tahun terakhir saya mempelajari ”ekonomi biru”, konsep ekonomi yang bertumpu pada alam dan mengambil inspirasi dari cara alam bekerja. Penghargaan pada keragaman hayati (tanaman) adalah salah satu pilarnya.

”Blue economy” (ekonomi biru) diperkenalkan oleh ekonom Belgia bernama Gunter Pauli. Titik pijaknya pada alam, Planet Bumi, yang dari luar angkasa nampak berwarna biru. Dalam beberapa aspek, ”ekonomi biru” merupakan penyempurnaan dan koreksi dari ”ekonomi hijau” (green economy).

Saya menganggap, ekonomi biru merupakan alternatif solusi penting bagi Indonesia masa kini menghadapi sejumlah krisis: ancaman pengangguran, kerusakan alam-lingkungan, ketimpangan, pemiskinan desa, ketahanan pangan dan ketergantungan pada impor serta utang luar negeri.

Salah satu prinsip terpenting dalam ekonomi biru adalah memanfaatkan dan menghargai keragaman hayati, flora-fauna, di alam. ”Wealth means diversity”, kemakmuran dicirikan oleh keragaman hayati.

Dalam konteks itu, pertanian monokultur seperti perkebunan sawit jutaan hektar, adalah simbol kemiskinan. Sawit menghasilkan devisa besar, tapi merusak alam dan membinasakan ribuan spesies dari hutan tropis kita yang sangat kaya.

Tujuh tahun silam saya berkeliling Indonesia selama satu tahun, mengunjungi tak kurang 80 pulau kecil dari Sabang hingga Merauke, dari Miangas hingga Rote. Dari perjalanan itu saya makin menyadari betapa kaya alam negeri kita.

Kekayaan alam terbesar kita bukanlah emas di Freeport (Papua) atau gas di Kepulauan Natuna. Tapi, pada keragaman hayatinya.

Kepulauan Indonesia adalah salah satu dari ”megadiversity”, negeri yang punya daratan sekaligus laut, serta punya 5.000 lebih spesies tanaman yang tak ada di tempat lain. Jika Amerika itu superpower politik dan militer dunia, Indonesia adalah adidaya keragaman hayati.

Dari segi kekayaan spesies flora dan fauna endemik, Indonesia menempati urutan kedua setelah Brazil. Indonesia memiliki kawasan hutan tropis terluas, yang hanya kalah dari Amazon. Tapi, lebih dari Brazil, Indonesia memiliki terumbu karang terluas di dunia.

Indonesia dihuni oleh 25.000 lebih spesies tanaman, 750 lebih reptilita, 500 lebih mamalia, 1.600 lebih spesies burung, ribuan spesies anggrek dan 200 lebih spesies amfibi. Itu semua belum menghitung keragaman koral dan biota bawah laut.

Kita bisa membayangkan potensi ekonomi yang bisa dibangkitkan dari keragaman seperti itu. Namun, sebagian besar sumberdaya hayati itu, baik di darat maupun laut, bahkan belum kita ketahui manfaatnya, apalagi kita budidayakan dan olah.

Itulah keragaman yang memikat bangsa Eropa berlomba menjajah Indonesia. Tahun ini kita memperingati 350 tahun Perjanjian Breda. Pada 31 Juli 1667, Belanda dan Inggris saling bertukar wilayah jajahan. Pulau Run (Banda, Maluku) yang kala itu dikuasai Inggris ditukar dengan Manhattan (New Amsterdam) yang dikuasai Belanda. Berbekal Banda dan Maluku, Belanda berambisi menguasai perdagangan rempah dunia.

Rempah-rempah bukan cuma makanan, tapi juga bahan obat-obatan yang sudah dikenal dalam berbagai peradaban kuno. Kini, tiga setengah abad setelah Breda, buah pala mungkin tak lagi menjadi komoditas sepenting dulu. Tapi, pala dan rempah-rempah belum berhenti dicari di seluruh dunia.

Rempah-rempah adalah bahan dasar dari semua industri pangan, obat dan kosmetik yang kebutuhannya semakin besar. Kebutuhan akan rempah-rempah juga meningkat dipicu oleh industri minyak atsiri (essential oil). Beberapa survai menunjukkan pasar minyak atsiri mengalami pertumbuhan eksplosif, senilai US$ 9,8 Milyar pada 2020.

Pasar rempah-rempah dunia tumbuh 50?lam 10 tahun terakhir dipicu oleh kesadaran ”kembali ke alam”, kembalinya konsumen ke penggunaan bahan pangan, obat, kosmetik, dan pembersih alami.

Indonesia kaya akan sumberdaya genetik (plasma nutfah) tanaman aromatik yang menghasilkan minyak atsiri. Ada lebih dari 150 jenis minyak atsiri di dunia, dan setidaknya 50 jenis potensial diproduksi di Indonesia.

”Wealth means diversity”. Dan itu baru dari rempah-rempah saja. Bahkan itupun baru dari komoditi tanaman saja. Kita belum bicara limbah pertanian yang berlimpah tapi kita abaikan, padahal potensial membangkitkan ekonomi.

Bisnis limbah dan sampah merupakan fokus lain ekonomi biru. Kita tahu, alam tidak meninggalkan limbah (zero-waste): apa yang terbuang dari sebuah proses produksi bisa dimanfaatkan oleh proses lain. Apa yang nampak tak bernilai bisa menjadi ”modal” untuk memulai usaha baru dan mendapatkan income baru.

Ekonomi biru sebenarnya bukan konsep yang sama sekali baru. Di pedesaan zaman dulu, nenek moyang kita menanami kebun dan pekarangan rumah dengan beragam pohon. Tak hanya itu, mereka juga beternak kambing, bebek, ayam serta membuat kolam ikan.

Dengan tanaman dan peliharaan beragam, nenek moyang kita bisa bersandar kebutuhan pangan secara mandiri. Tapi, lebih dari itu, mereka bisa memanen hasil sepanjang tahun, dan dengan jenis panen yang beragam. Mereka telah jauh hari menerapkan prinsip yang oleh Gunter Pauli disebut sebagai ”multi-stream economy”.

Kehidupan desa yang menghargai keragaman tadi luntur dan makin ditinggalkan belakangan ini. Para petani tergoda untuk menerapkan pertanian monokultur, yang sangat rentan karena hanya bertumpu pada satu-dua komoditas. Petani justru kehilangan kemandirian dan makin miskin akibat guncangan ekonomi dari luar. Namun, belum terlalu terlambat jika kita mau memperbaikinya lagi.

Keindahan lain dari konsep ekonomi biru adalah tidak memerlukan banyak prasyarat. Ekonomi biru bertumpu pada ”apa yang kita”. Petani bisa mulai dari ”apa yang mereka punya”, alam sekeliling mereka.

Di tingkat negara, alih-alih mengemis utang dan investasi asing yang menggerus martabat, ekonomi biru lebih menjamin kemandirian bangsa. Ekonomi biru bertumpu pada ”apa yang kita punya”. Keragaman hayati adalah ”apa yang Indonesia sudah punya”. Hanya dengan serius menengok alam kita, Indonesia bisa membangkitkan ekonomi yang digdaya.***

Farid Gaban
Pemimpin Redaksi Geotimes dan pelaku pertanian di lereng Gunung Sindoro, Jawa Tengah.

Komunitas