Tani Milenial

Rabu, 15 Agustus 2018, 13:55 WIB

Cuk Bi | Sumber Foto:Instagram

Pertemuan kali ini terasa berbeda. Acara yang sebenarnya biasa saja: Silaturahmi dua bulanan beberapa alumni IPB ‘zaman old’.  Mereka kawan-kawan yang lulus di periode tahun 1980-an. Maka sebutannya Bi-Monthly Gathering atau BMG.

Beragam profesi hadir di BMG. Sejumlah profesional, pebisnis, jurnalis, bankir, birokrat, aktivis sosial dan bahkan artis biasa terlibat di acara ini. Tentu saja juga kalangan akademisi. Arif Satria, kini Rektor IPB, juga suka bergabung dengan kakak-kakak angkatannya ini. Semua merasa punya ikatan hati dengan Irama Badrianti, eksekutif Kem Chicks,  Sang penggagas BMG.

Yang membuat berbeda kali ini Prof Inul. Bustanul Arifin, guru besar ekonomi pertanian ini. Ia baru pulang mengikuti konferensi dunia para ekonom pertanian. Sharing-nya mengungkap tak hanya sisi kelam pertanian dunia. Juga sisi-sisi baru yang tengah tumbuh.

Sisi kelam tentu saja. Ekonomi dunia masih saja meriang sejak beberapa tahun silam. Belum kunjung fit untuk berlari cepat dan melompat jauh. Dunia pertanian tidak terkecuali. Perang dagang Amerika Serikat – China juga banyak menggunakan pertanian sebagai ajang tempurnya.

Tetapi, seperti biasa, di balik kesulitan selalu muncul peluang. Para investor dari negara-negara maju kini menahan diri untuk mengembangkan usaha di negara lain. Mereka lebih cenderung bertahan pada keadaan yang ada, sambil menimbang-nimbang situasi baru.

Keadaan itu, kata Prof Inul, dimanfaatkan oleh para investor dari negara-negara berkembang. Para pebisnis raksasa dari China hingga Thailand kini agresif mengembangkan usaha agro di berbagai negara lain.  Para pebisnis agro Indonesia, disebutnya, dapat mengikuti langkah itu. Go global.

Beberapa industri makanan di Tanah Air telah menjelalah ke berbagai negara. Mayora adalah salah satu yang terdepan dalam pengembaraan itu. Hal yang juga ditempuh Indomie, yang ini telah menjadi top brand di berbagai negara. Masyarakat Nigeria saja menganggap bahwa Indomie adalah mi asli mereka.

Itu yang muncul di sharing ringan malam itu. Hal yang mengingatkan bahwa bertani milenial memang perlu masuk ke kancah global. Sementara ini baru industri pengolahan pangan yang siap menjalaninya. dan pemasaran Industri produksi agro belum cukup beranjak ke sana. Bahkan grup sebesar Sinarmas pun masih banyak bermain di kandang.

Gagasan untuk ikut bermain di global pun sempat muncul dikalangan pemerintah. Menteri BUMN 2011-2014 Dahlan Iskan pun sempat merancang langkah begitu. Ketimbang mengimpor daging, menurutnya, lebih baik membeli ranch di luar. Sejuta hektar ranch di Australia sempat akan diakuisisi jejaring BUMN. Gagasan bagus yang dijungkalkan oleh politik.

Namun kebelummampuan go global itu harus tidak jadi penghalang buat langkah membangun pertanian milenial. Setidaknya itu dikemukakan Bayu Krisnamurti. Menteri Perdagangan ad interim di masa Kabinet Indonesia Bersatu II. Bayu menunjukkan banyak mahasiswa IPB yang sukses dengan pendeatan tani milenial.

Mya, misalnya. Seorang mahasiswi yang tak mencolok di antara kawan-kawannya. Dia, menurut Bayu, berpikir sederhana saja. Kehidupan petani singkong umumnya susah. Hanya dapat menjual singkong setelah panen. Apakah tak ada yang dapat dibisniskan lagi dari singkong yang dapat menambah penghasilan petani?

Resep keluarga menjadi inspirasinya. Neneknya suka memasak “rendang pucuk daun ubi.”  Pucuk daun singkong. Bahkan juga dikirimkan ke Bogor saat kuliah. Maka Mya pun memutuskan untuk membuat usaha tersebut begitu lulus. Brand, kemasan, dan pemasaran online adalah elemen beragrobisnis milenial. Itu digarapnya.

Mya menggunakan brand Cuk.Bi. Singkatan dari pucuk ubi. Dia gunakan berbagai jalur pemasaran online. Dari media sosial hingga market place yang kini bertebaran di Indonesia. Hasilnya, Cuk.Bi mulai bisa melanglang buana. Mya beromset milyaran, dan tetap menjadi sosok bersahaja.

Dunia berubah. Bahkan sangat cepat. Era milenial menjungkirbalikkan format-format lama yang sudah ada. Termasuk di dunia pertanian. Maka tak ada pilihan lagi buat memajukan pertanian selain mengedepankan tani milenial. Apalagi jalan ke arah sana terbuka terbuka lebar.

Pasar pertanian moderen pun sudah semakin berkembang. Di supermarket papan atas di Indonesia, harga produk pertanian sudah setara dengan di Jepang. Bahkan data lebih tinggi lagi. Diperkirakan harga tersebut daoat mencapai empat kali lipat biaya produksi. Itu tentu peluang besar buat beragrobisnis.

Maka saatnya kaum muda berpaling kembali ke dunia tani. Saatnya yang bermigrasi ke urban, berbalik kembali di rural. Yakni dengan bertani milenial tersebut. Setidaknya itu suara yang terdengar dari forum BMG, yang di hulan kemerdekaan ini terasa berbeda.*

Zaim Uchrowi, Ketua Dewan Redaksi AGRONET

BERITA TERKAIT