Kemarau, Tak Galau

Senin, 03 September 2018, 08:20 WIB

Desa Sampang Kekeringan | Sumber Foto:Biro Humas dan Informasi Publik Kementan

Alarm itu telah berdering. Suaranya berasal dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Dering itu mengingatkan agar pertanian siap menghadapi sang pengancam: kemarau. Tandanya kian jelas. Curah hujan makin menurun pada Agustus 2018, juga di bulan setelahnya, September ini.

Curah hujan telah menurun hingga kurang dari 50 mm per bulan. Menurut BMKG, itu tingkat menengah menuju rendah. Curah rendah tersebut terjadi di berbagai daerah, mulai dari Sumatra bagian Selatan, Jawa, hingga Bali. Itu daerah-daerah yang menjadi penghasil padi di Nusantara. Hal yang tentu perlu dicermati oleh semua pemangku kepentingan pertanian.

Kementerian Pertanian Republik Indonesia atau Kementan salah satunya. Otoritas pertanian nasional ini berada di garis depan dalam menghadapi ancaman-ancaman pada pertanian. Tak terkecuali ancaman berupa kemarau sekarang. Hal yang sebenarnya biasa dihadapi dari waktu ke waktu, seperti pada tahun ini.

Sudah terbiasa bukan berarti boleh terlena. Bersiap tetap harus dilakukan. Dalam istilah lain, yakni istilah ketahanan, “kewaspadaan” tetap harus dijaga tinggi. Hanya dengan cara itu, dampak kekeringan dapat sepenuhnya dimitigasi. Apalagi, selalu ada kemungkinan tak terduga dari setiap ancaman, termasuk ancaman kemarau tahun ini yang tampaknya lebih serius dibanding tahun silam.

Kesiapan Kementan menghadapi kemarau antara lain disuarakan oleh Direktur Jenderal Tanaman Pangan, Sumarjo Gatot Irianto. Dirjen Gatot, panggilan kesehariannya, mengakui hamparan sawah yang terkena dampak kekeringan cukup luas, yakni mencapai sekitar 135 ribu hektare sawah, termasuk 26 ribu hektare di antaranya yang gagal panen atau puso. Namun, ia menyebut angka tersebut hanya sekitar 1,34?ri luas tanam padi keseluruhan yang mencapai lebih dari 10 juta hektare.

Untuk pemenuhan kebutuhan beras nasional, efek kemarau itu disebut belum membahayakan. Kalkulasi produksi beras masih berada di atas tingkat konsumsi. Apalagi Bulog juga memiliki cadangan penyangga yang memadai. Termasuk di antaranya dari impor jenis beras khusus. Posisi aman terhadap ancaman kemarau ini bukan saja hasil kerja sekarang saja, melainkan hasil rangkaian kerja panjang beberapa tahun terakhir.

Kecukupan produksi beras menjadi perhatian pertama Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman. Meningkatkan produksi padi menjadi prioritasnya di tahun pertama sebagai menteri pertanian. Hal tersebut diwujudkannya lewat program masif yang dikenal publik sebagai Program Pajale. Inilah gebrakan pertama Kementan untuk mendukung program Nawacita pemerintah dari sektor pertanian.

Hasil upaya tersebut sangat nyata. Pada tiga tahun terakhir ini, produksi padi terus meningkat, yakni sekitar 75,39 juta ton gabah kering giling (GKG) pada tahun 2015 menjadi 79,36 juta ton. Setahun kemudian, tahun 2017, angka ini meningkat lagi menjadi 81,38 juta ton. Itu tingkat produksi tertinggi Indonesia selama ini. Adanya angka itu tentu memudahkan untuk memitigasi ancaman kemarau yang terjadi.

Peningkatan itu adalah produk dari upaya menyeluruh atau komprehensif Kementerian Pertanian. Upaya tersebut mencakup pembangunan irigasi besar-besaran, setelah bertahun-tahun sebelumnya banyak terbengkalai. Bekerja sama dengan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, dibangun bendungan-bendungan besar. Sementara itu, petani juga diajak untuk membangun embung-embung penampung air.

Embung-embung inilah penyelamat terdekat para petani saat menghadapi kemarau sekarang, seperti para petani di Tabanan, Bali. Embung dan konsep bioindustri membuat para petani setempat tetap mampu berproduksi sayuran seperti biasa. Air tersedia cukup dari embungnya sendiri. Pupuk dapat dipenuhi dari kotoran ternak yang dipeliharanya.

Selain itu, Gatot pun menyebut ”kemarau juga membawa peluang", seperti di daerah pasang surut yang biasanya lebih sering terendam. Saat kemarau, air akan surut dan memungkinkan untuk dipakai bercocok tanam. Potensi lahan rawa dan pasang-surut secara keseluruhan juga tidak sedikit, yakni mencapai 25 juta hektare. Sangat besar untuk dimanfaatkan.

Banyak petani juga terbiasa memanfaatkan kemarau untuk meningkatkan penghasilan, seperti para petani di Malang. Petani di Ngantang serta Pujon, Kabupaten Malang menikmati kemarau sekarang dengan panen raya bawang merah dari lahan sekitar 1.200 hektare. Iklim dan cuaca disebut sangat menguntungkan buat para petani tersebut hingga mampu meraih produktivitas 9-10 ton per hektare. Untaian bawang merah yang dijemur pun mewarnai pedesaan di sana.

Belum lagi jaminan perlindungan bagi petani padi. Asuransi telah melindungi usaha mereka jika puso alias gagal panen. Mereka selalu akan siap berproduksi lagi. Tak seperti di masa lampau, harus cari-cari pinjaman buat mulai bercocok tanam lagi, dengan bunga pinjaman yang sangat tinggi pula. Asuransi memberi rasa aman buat bertani.

Kemarau memang mengintai. Curah hujan boleh lebih rendah dari 50 mm dalam satu-dua bulan terakhir. Tetapi, para pemangku kepentingan pertanian tak akan galau, terutama Kementerian Pertanian. Kita mampu mengelola gangguan cuaca ekstrem El-Nino beberapa tahun lalu. Tentu juga kita siap menghadapi kemarau sekarang. Apalagi kemarau terbukti bukan hanya ancaman. Kemarau juga peluang.*

Dr. Zaim Uchrowi

Ketua Dewan Redaksi AGRONET

BERITA TERKAIT