Mengharap Kiprah Anak Muda

Senin, 17 September 2018, 10:15 WIB

Sayuran hidroponik. | Sumber Foto:Pixabay

Tiba-tiba saya teringat tatkala menempuh pendidikan sekolah dasar. Saat naik ke kelas V SD, saya mengikuti ayah yang berpindah kerja dari kawasan kota di Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur menuju  Kecamatan Campurdarat, wilayah pinggiran di kota kecil tersebut.

Sama seperti sekolah saya sebelumnya, SD baru saya juga merupakan sekolah negeri. Itu sebabnya secara umum tak ada perbedaan kurikulum di antara sekolah saya, baik yang lama maupun yang baru. Satu-satunya yang membedakan hanyalah ada pelajaran berkebun di sekolah baru saya itu: SDN Campurdarat I.

Ya, seminggu sekali (selama tiga jam pelajaran), kami diajari berkebun. Hanya kelas V dan VI yang mendapat pelajaran berkebun. Kebetulan pula, meski tak terlalu luas, lahan untuk berkebun itu memang milik sekolah kami. Lahan itu dibagi dalam beberapa petak. Tiap petak dimiliki oleh kelas yang berbeda. Di petak masing-masing itulah kami bercocok tanam.

Di hari yang ada pelajaran berkebun, murid-murid diwajibkan membawa peralatan bercocok tanam. Ada yang membawa cangkul, arit/sabit, pengki (cikrak), dan sejenisnya. Kami benar-benar diajari tata cara bertani di lahan masing-masing. Sekolah akan menentukan jenis tanaman yang dibudidayakan.

Jika jenis yang ditanam adalah kacang tanah misalnya, kami semua diajari cara mencangkul, mengolah tanah, dan menanam kacang tanah, termasuk jarak tanam yang harus diperhatikan. Cara memelihara, menyiangi, dan memberi pupuk (biasanya pupuk kandang) juga diajarkan pada kami.

Bila masa panen tiba, sekolah akan melombakan, petak yang dikelola kelas mana yang hasilnya paling bagus. Komoditas yang dibudidayakan memang jenis tanaman semusim: singkong/ketela pohon, ubi jalar, jagung, kacang tanah, sayur, dan sebagainya.

Pelajaran berkebun itu sungguh menyenangkan. Hanya keriangan atau kegembiraan yang muncul saat pelajaraan itu kami jalani. Kami jadi mengerti cara bercocok tanam buah atau sayur tertentu. Bisa jadi ini salah satu cara untuk memupuk rasa cinta anak bangsa sejak dini pada dunia pertanian.

Saat ini, rasanya amat jarang ditemukan ada SD yang memiliki lahan pertanian. Namun, kreativitas mereka untuk menumbuhkan rasa cinta pada dunia pertanian masih terlihat. Banyak sekolah TK atau SD di perkotaan yang mengambil hari-hari tertentu untuk mengajak anak didiknya mengunjungi lahan pertanian atau peternakan milik lembaga lain sekaligus belajar bercocok tanam atau mengenal tata cara merawat binatang ternak.

Pada sisi inilah sebenarnya Kementerian Pertanian bisa kian memantapkan posisinya untuk berperan lebih banyak dan menjalin kerja sama dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Dari kerja sama itu bisa saja disusun kurikulum yang mewajibkan siswa TK atau SD untuk mendapat pelajaran bercocok tanam/dunia peternakan dan perikanan.

Kementan bisa memfasilitasi dengan memberi muatan kurikulum yang tepat dan menyenangkan untuk siswa TK dan SD tentang bercocok tanam atau mengenal dunia peternakan/perikanan. Bisa pula Kementan menyediakan kebun atau peternakan untuk dapat dikunjungi siswa TK dan SD yang lokasinya berdekatan. Tujuan utamanya, sekali lagi, tentu untuk menumbuhkan cinta pada dunia pertanian sejak usia dini.

Apalagi, dunia pertanian saat ini tak sekadar dan senantiasa bergelut dengan lingkungan jorok atau berlumpur. Perkembangan teknologi telah membuat dunia pertanian sekarang ini kian mudah dijangkau anak muda. Tanaman buah pun bisa dibudidayakan dalam pot.

Ada pula budi daya tanaman melalui hidroponik. Cara ini tak harus memerlukan lahan luas. Biaya yang dibutuhkan pun tak terlalu mahal, tergantung jenis tanaman yang akan dibudidayakan.

Apabila sejak dini anak-anak sudah karib dengan dunia pertanian, jika suatu saat menginjak dewasa dan harus menggeluti dunia usaha, daya panggil untuk kembali berkiprah di bidang pertanian akan kuat. Ini salah satu keuntungan memperkenalkan dunia pertanian sejak masa kanak-kanak. Memori yang menyenangkan dan kuat akan senantiasa menarik kembali hasrat seseorang untuk coba menekuninya.

Pada saat ini, jumlah tenaga kerja di bidang pertanian memperlihatkan kecenderungan untuk terus menurun. Sepanjang 2010-2014, tak kurang dari 3 juta tenaga kerja keluar dari bidang pertanian. Bahkan menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), selama 2003-2013, rumah tangga petani berkurang jumlahnya sekitar 5 juta.  

Tak hanya itu, dunia perikanan pun mengalami kondisi yang tak jauh beda. Dalam 10 tahun terakhir, lagi-lagi berdasarkan data BPS, jumlah nelayan di Indonesia turun hampir 50 persen. Menurunnya jumlah keluarga petani mungkin masih bisa dimaklumi --walau tak boleh diabaikan begitu saja-- karena faktanya memang lahan pertanian kian berkurang. Kalau jumlah nelayan berkurang drastis, ini tentu aneh lantaran luas wilayah perairan Indonesia tak berkurang.

Kita barangkali perlu belajar banyak dari kiprah anak muda Farid Nauval Alam yang baru berusia 24 tahun. Ia merintis usaha e-commerce dengan nama Aruma.id. Farid mampu merangkul 1.701 kelompok nelayan dengan anggota sekitar 20 ribu yang tersebar di seluruh Indonesia.

Aruma.id merupakan sarana untuk memasarkan produk perikanan dan kelautan. Konsumennya kini sudah merambah hingga ke beberapa mancanegara: Vietnam, Malaysia, dan Singapura. Mitra nelayan yang bergabung dengan Aruma.id telah menjangkau 16 provinsi. Melalui situs Aruma.id itulah jual-beli hasil laut para nelayan terwadahi serta mampu memotong mata rantai penjualan yang biasanya sangat panjang dan cenderung merugikan nelayan.

Masih banyak anak muda yang bisa menjadi inspirasi karena aktivitasnya yang terkait dengan bidang pertanian. Ada Octafyandy dengan bisnis batok kelapa, Nicholas Kurniawan yang jadi eksportir ikan hias, Reni Pamela (es kelapa muda pam-pam), Bambang Krista (ternak ayam), Agus Supriono (budi daya talas satoimo), Jumiarsih (jus honje), Novi Kirniasari (abon), Agus Susanto (ternak kambing), Yudi Supriyono dan Tri Mulyani (hidroponik), Willy Heryanto (kripik sukun), Anna Purwanti (cheese steak ganyong), dan seabrek sosok lainnya. Mereka layak menjadi inspirator bagi generasinya, termasuk bidang pengolahan hasil pertanian.

Karena itu, menggaungkan ajakan bagi kaum muda untuk mencintai dunia pertanian (juga  perikanan) tak bisa ditunda-tunda. Memberi perhatian lebih pada kiprah anak muda yang menggeluti dunia pertanian dan perikanan juga akan sangat berdampak positif. Ini sekaligus bisa jadi ajang kampanye untuk mengajak mereka menggeluti bisnis atau usaha pertanian/perikanan.

Memberi anugerah khusus setiap tahun bagi anak muda berprestasi yang menekuni usaha pertanian/perikanan (juga menggelar pameran khusus bagi usahawan muda pertanian)   tentu akan melecut hasrat pemuda lainnya untuk tertarik menerjuni sektor ini. Dengan sebanyak mungkin memberi stimulus dan penghargaan pada kaum muda yang berkiprah di sektor pertanian/perikanan, pada gilirannya akan menjadi sarana yang menunjang upaya anak muda mencintai bidang yang menampung hajat hidup orang banyak ini.

Ini tentu sejalan dengan kebijakan Kementan yang begitu peduli terhadap keberadaan para wirausahawan muda di bidang pertanian. Kegiatan Pemilihan Duta Petani Muda sangat perlu dilanjutkan dan digemakan lebih kencang. Perekrutan terhadap ribuan anak muda yang berkomitmen untuk menggeluti pertanian, merupakan lanngkah positif yang harus berkesinambungan. Langkah ini perlu dijaga kelangsungannya. 

Pertanian bukanlah dunia usaha kelas dua. Buktinya, banyak orang kaya di Indonesia yang memiliki bidang usaha terkait pertanian. Bahkan konon, delapan dari 10 orang kaya Indonesia memiliki usaha bidang pertanian.

Michael Hartono dan Robert Budi Hartono (pemilik BCA dan Djarum) sehari-hari berurusan dengan bisnis tembakau. Demikian pula Susilo Wonowidjojo (anak almarhum Suryo Wonowidjojo) yang merupakan pemilik PT Gudang Garam. PT Astra Internasional pun punya Astra Agro Lestari. Raksasa bisnis Sinar Mas Group juga tak lepas dari kepemilikan lahan kelapa sawit yang begitu luas di Sumatra. Indofood milik Salim Group pun memiliki usaha yang terkait dengan bidang pertanian: tepung terigu, minyak goreng, dan susu.

Pendek kata, menekuni usaha di dunia pertanian bukanlah menggeluti bisnis kelas rendahan. Justru terbukti, pengusaha kakap pun banyak yang memilih bisnis yang terkait bidang pertanian, apa pun jenisnya. Lahan pertanian dan laut Indonesia membutuhkan sentuhan tangan anak muda. 

Arif Supriyono, Dewan Redaksi Agronet

BERITA TERKAIT