#CetakPetaniMilenial

Minggu, 30 September 2018, 12:27 WIB

Alat pertanian modern. | Sumber Foto:Youtube

Tagar, alias tanda pagar, itu dari Kementan (Kementerian Pertanian Republik Indonesia). Salah satu tagar andalannya buat bertarung di medan trending topic nasional.  Ini medan pertarungan yang sekarang paling diburu banyak pihak. Apalagi kalau bukan untuk menguatkan impresi atas lembaga masing-masing. Hal yang di era teknologi informasi kini menjadi semacam kewajiban semua kalangan.

Wajar kalau Kementan pun terjun ke sana, serta sungguh-sungguh menyiapkan ‘pertarungan’ impresi lewat media sosial ini. Langkah yang sejauh ini berbuah bagus. Beberapa kali isu dari Kementan berhasil meraih puncak trending topic.  #CetakPetaniMilenial pun mendapat impresi luar biasa. Di tengah kancah persaingan ketat berebut perhatian publik saat ini.

Impressions-nya sudah sangat bagus. Bantu sebarkan terus,” seru seorang pengawal tagar ini di Kementan. Ia tampak antusias, sikap yang semestinya. Tagar ini bukan semata perang perhatian di ranah publik. Lebih dari itu, tagar #CetakPetaniMilenial ini memang merepresentasikan hal yang sangat mendasar  di dunia pertanian kita sekarang. apalagi tepat momentumnya.

Momentum itu tiba di pertengahan September 2018, saat Kementan mentransformasi sekolah kedinasan yang dimilikinya. Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian (STPP) diubah menjadi Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan). Bukan sekadar nama yang diubah, namun juga orientasinya. Kini lulusan sekolah ini tak diharap menjadi pegawai tetapi  supaya mampu berbisnis agro.

‘Petani milenial’ menjadi ungkapan pas untuk itu. Tantangan zaman memang menuntut ke arah sana. Terutama untuk konteks pertanian rakyat di Indonesia saat ini. Pertanian yang keadaannya jauh dari memadai. Tingkat kepemilikan lahan makin hari makin mengecil. Makin mengarah pada kisaran sekitar 1.000 meter persegi per petani. Jauh dari memadai untuk sungguh-sungguh ekonomis.

Apalagi jika usaha taninya masih berorientasi pada padi. Bahan pokok  yang hingga kini lebih banyak menjadi obrolan politik nasional, ketimbang komoditas ekonomi penyejahtera petani gurem. Kondisi dunia tani seperti ini kurang menarik bagi kaum muda. Profesi petani pun lebih didominasi orang-orang tua. Orang-orang yang telanjur jadi petani dan tak mungkin pindah profesi.

Maka seruan agar jadi petani milenial pun terasa menggugah. Tani ke depan adalah tani milenial (AGRONET, 15/8/2018).  Dunia makin berubah, makin ‘tanpa batas’. Saat inilah peluang-peluang baru justru terbuka. Peluang yang tak akan dapat dihadapi dengan model tani lama. Peluang yang perlu disambut dengat pendekatan baru, yakni pendekatan yang dipopulerkan sebagai tani milenial ini.

Dalam pendekatan ini, petani dituntut untuk bukan sekadar berproduksi. Petani juga diharap aktif mengikuti perkembangan pasar. Produksi dilakukan seefisien mungkin buat merespon pasar: lokal, nasional, bahkan juga global. Mekanisasi pertanian menjadi keharusan. Perlu memastikan agar usaha tani benar-benar efektif dan efisien hingga memberi keuntungan tinggi bagi petani.

Pendekatan seperti ini sebenarnya bukan hal baru. Paradigma agrobisnis yang berkembang lebih dari seperempat abad silam sudah menekankannya. Namun belum banyak petani bergerak ke situ. Kini situasi makin berubah, terutama setelah berkembangnya teknologi informasi. Situasi yang membuka tantangan sekaligus peluang baru. Inilah dunia tani milenial.

Maka tepat bila Kementan menyebarkan tagar #CetakPetaniMilenial. Sebaran yang memang tak akan serta-merta membuat para petani bertransformasi ke ranah milenial. Namun, setidaknya, sebaran ini memberi arah yang tepat. Inilah jalan yang perlu ditempuh buat mengolah pertanian sekarang dan ke depan. Itulah jalan tani milenial. Jalan yang memang sangat menjanjikan.

Di ranah milenial, dinamika jauh lebih tinggi. Permintaan konsumen dari waktu ke waktu dapat berkembang. Tren di suatu negara dapat dengan cepat menjadi tren di negara lain. Apa yang hari ini tengah digemari, tak lama kemudian dapat diabaikan. Itu karakter milenial dan itu yang harus dihadapi para petaninya.

Hanya petani yang sangat dinamis yang siap menghadapi tuntutan milenial itu. Petani yang dinamis begitu umumnya petani muda. “Mengharap kiprah anak muda,” begitu kolom Arif Supriyono (AGRONET, 17/9/2018).  Bukan sekadar muda tentu. Namun yang juga anak muda berwawasan, berpengalaman, serta mampu membangun jejaring luas.

Lihat saja sosok Ulus Pirmawan dan Doni Pasaribu ini. Dua sosok yang dijadikan model Kementan sebagai simbol petani milenial. Ulus tumbuh dari lingkungan petani di Desa Suntenjaya, Cibodas, Lembang. Jawa Barat. Daerah yang memang jadi sentra pertanian. Bertekun diri bertani, tak lelah mengikuti berbagai pelatihan, dan rajin membangun jejaring, Ulus layak dipandang sebagai ‘petani milenial’.

Produksi bukan masalah sama sekali buatnya. Pemasaran pun dikuasainya. Ia punya akses ke pemasok sayuran berbagai supermarket. Bahkan juga buat pasar impor. Suksesnya juga bukan hanya untuk diri sendiri. Ulus juga mengembangkan kelompok bagi para petani di sekitarnya. Wargi Sanggupay, kelompok yang dirintisnya, kini menaungi delapan kelompok tani.

Doni Pasaribu sosok yang berbeda dari Ulus. Dia tidak tumbuh dari lingkungan sentra tani. Dia bertani setelah menjadi sarjana pertanian. Ketika para sarjana lain mencari kerja, Doni justri membangun kerja. Ia berbisnis di dunia agro. Fleksibilitas soal waktu serta nilai finansial yang diperoleh telah memantapkannya di dunia tani. Doni telah menjadi bagian dari petani milenial.

Peluang menjadi petani milenial itu memang lebih terbuka di ranah hortikultura. Apalagi yang berlokasi di sentra pertanian lama. Lebih tak mudah menjadi petani milenial buat petani tanaman pangan, apalagi perkebunan. Keduanya memerlukan modal besar untuk dapat menjadi pemain yang signifikan. Tetapi seruan menjadi petani milenial setidaknya dapat membuka lebar mata: pertanian itu menarik lho!

Tani milenial adalah tani yang sangat dinamis. Perlu wawasan beragribisnis; keterbukaan luas menyambut hal baru; kemampuan berjejaring; bahkan semestinya juga kelihaian memanfaatkan teknologi informasi. Ketekunan berusaha tani  --seperti pada usaha tani tradisional-- masih tetap perlu. Begitu juga kepiawaian berkolaborasi. Bukankah itu menarik?

Ulus juga maju karena tulus berkolaborasi. dengan sesama petani di lingkungannya. Juga dengan mitra-mitra bisnisnya. Petani-petani gurem di Taiwan hingga Jepang sejahtera juga dengan berkolaborasi, yakni melalui koperasi-koperasi tani yang dikelola secara profesional. Koperasi tani profesional itulah pemain utama bisnis agro di negaranya. Mereka model nyata tani milenial.

Kita perlu melangkah ke arah itu. Semestinya memang ke situ sasarannya, yakni mencetak para petani milenial. Petani-petani muda yang dinamis dan terkolaborasi dalam koperasi-koperasi tani profesional. Jalan ke sana telah terbentang. Setidaknya semangatnya terasa semakin kuat dari hari ke hari. Tagar #CetakPetaniMilenial merupakan salah satu cerminan semangat tersebut. 

Zaim Uchrowi, Ketua Dewan Redaksi AGRONET 

BERITA TERKAIT

Komunitas