Menyejahterakan Wong Cilik

Rabu, 17 Oktober 2018, 13:05 WIB

Program Bekerja Kementan. | Sumber Foto:Istimewa

Tak semua masyarakat bisa menikmati hasil dari pembangunan. Selalu saja ada sekelompok masyarakat yang sulit untuk bisa mendapatkan atau merasakan kue hasil pembangunan. Ini senantiasa terjadi di belahan bumi mana pun.

Kesulitan untuk memperoleh bagian dari kue pembangunan itu bukan melulu karena mereka tak mau menikmati hasil pembangunan. Namun, ada sebagian masyarakat yang memang kurang atau bahkan tak tersentuh oleh dinamika atau gerak pembangunan. Mereka tak memiliki cukup akses untuk mendapat informasi pembangunan. Hasil pembangunan pun sering tak menghampiri mereka.

Fakta seperti ini lazimnya dialami oleh masyarakat akar rumput. Banyak keterbatasan yang ada pada kelompok masyarakat ini. Lantaran keterbatasan itu, maka kebijakan dan program pembangunan yang dibuat untuk masyarakat luas pun tak mampu menjangkaunya.

Padahal pembangunan, menurut pemikiran sosiolog dunia Johan Galtung, merupakan upaya untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia, baik secara individual maupun kelompok. Cara-cara menjalankan kegiatan pembangunan haruslah tidak menimbulkan kerusakan dalam kehidupan sosial atau lingkungan alam. Bagai masyarakat bawah, pemenuhan kebutuhan dasar sangatlah penting. 

Upaya pemerintah menjalankan kegiatan pembangunan acapkali sulit atau bahkan tak bisa mengangkat kehidupan kelompok pinggiran atau akar rumput. Untuk itu diperlukan program khusus sehingga kegiatan pembangunan itu bisa menjangkau kalangan bawah yang memiliki banyak keterbatasan untuk bisa menikmati hasil pembangunan. Itu sebabnya pula banyak program pembangunan yang bersifat karitatif atau kedermawanan untuk menyasar masyarakat lapis bawah.

Beberapa instansi pemerintah atau kementerian memiliki tugas dan tanggung jawab yang  secara langsung mengangkat kehidupan masyarakat kecil. Kementerian Pertanian tentu saja termasuk di dalamnya, bahkan bisa disebut sebagai pelaku utama. Sebagian besar kegiatan Kementan malah bisa dibilang bersentuhan langsung dengan kehidupan masyarakat lapis bawah.

Sudah barang tentu diperlukan banyak program kerja Kementan yang menyisir kehidupan masyarakat bawah. Meski demikian, program Bekerja tampaknya menjadi salah satu andalan bagi Kementan dalam rangka mengangkat harkat dan martabat kaum petani yang berada di tataran paling bawah.

Program ini dicanangkan pada 23 Maret 2018 lalu. Pencanangan ini ditandai dengan penyerahan bantuan untuk para petani dengan klasifikasi sebagai rumah tangga miskin [RTM].  Bekerja merupakan kependekan dari Bedah Kemiskinan Rakyat Sejahtera. Program ini diyakini sebagai solusi permanen untuk pengentasan kemiskinan. RTM yang mengikuti program ini diharapkan bisa memilliki sumber penghasilan jangka pendek dan jangka panjang.

Program Bekerja memang sepenuhnya inisiatif dari Kementan. Ini merupakan komitmen dan bukti nyata Kementan untuk memberantas kemiskinan dengan basis bantuan sosial, pemberdayaan masyarakat, dan pemberdayaan usaha. Dalam menjalankan kegiatannya, Kementan lalu menggandeng Kementerian Sosial [Kemensos] dan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi [Kemendes dan PDT].

Ada pembagian tugas di antara ketiga kementerian ini. Kemensos lebih banyak terkait dengan bantuan sosial. Sedangkan Kemendes dan PDT akan lebih banyak berurusan dengan pengembangan produk, pemasaran, dan infrastruktur masyarakat desa. Adapun Kementan akan mengutamakan atau fokus pada peningkatan produktivitas masyarakat miskin.

Pola dan strategi pembangunan pertanian seperti ini memang sesuai untuk target sasaran RTM yang selama ini relatif tak tersentuh pembangunan. Ini jauh lebih berdaya guna ketimbang program kedermawanan dari pemerintah berupa pemberian uang tunai atau bantaun langsung tunai [BLT] yang selama ini telah berjalan.

Sama-sama bersifat kedermawanan, akan tetapi program Bekerja jauh lebih positif dan bermakna karena sekaligus mengajak masyarakat untuk bertindak produktif. Dengan sepenuhnya mendapat  bantuan dari pemerintah, masyarakat dari keluarga RTM diajak untuk menjalankan usaha di bidang pertanian meski dengan skala awal kecil atau terbatas. Bagaimanapun sektor pertanian merupakan ujung tombak untuk menekan dan memberantas kemiskinan, terutama di wilayah perdesaan, serta untuk meningkatkan kesejahteraan RTM.

Kecenderungan yang terjadi saat ini, jumlah penduduk miskin memang terus menurun. Walau begitu, upaya untuk melakukan terobosoan agar penurunan jumlah masyarakat miskin kian berjalan cepat perlu terus dilakukan. Salah satunya melalui program Bekerja.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik [BPS], jumlah penduduk miskin pada tahun 2014 mencapai 27,73 juta orang. Angka itu merupakan 10,96 persen dari jumlah penduduk. Sementara itu pada tahun 2017 terjadi penurunan jumlah penduduk miskin, yakni tinggal 10,12 persen atau 26,58 juta orang. Dalam kurun lima tahun ke depan, persentase penduduk miskin diharapkan turun lagi menjadi 9,92 persen.

Melalui pelbagai upaya penerapan program pembangunan, jumlah masyarakat miskin pada tahun 2022 diharapkan berkurang lagi atau terentaskan sebanyak satu juta RTM. Sampai saat ini, jumlah jumlah RTM mencapai 3,6 juta. Sudah barang tentu bukan perkara gampang untuk mengurangi satu juta penduduk miskin dalam rentang waktu empat tahun. Konsisten sikap dalam menjalankan program dan keseriusan memilih RTM serta proses pendampingan yang dilakukan akan menentukan tingkat keberhasilan program tersebut.

Program Bekerja merupakan pemberian bantuan langsung oleh pemerintah/Kementan pada RTM. Bentuk bantuan itu bisa berupa ayam, itik, domba, kambing, kelinci, sayuran, buah-buahan, dan tanaman perkebunan. Para peserta juga akan menerima bantuan pakan serta pendampingan dari para petugas.

Sepanjang tahun ini, jumlah RTM yang diharapkan bisa menerima bantuan program Bekerja sebanyak 200 ribu. Jumlah itu tersebar di 21 kabupaten, 68 kecamatan, dan 807 desa. Melalui program ini Kementan memproyeksikan akan ada tambahan pendapatan dari seluruh peserta Bekerja sebanyak Rp5,2 triliun selama setahun ke depan. Sedangkan dalam jangka dua tahun, peningkatan pendapatan RTM  diharapkan bisa terwujud senilai Rp11,08 triliun. Suatu jumlah yang relatif tinggi untuk ukuran pendapatan masyarakat miskin.

Pada pelaksanaan program Bekerja ini, setiap RTM akan menerima 50 ekor ayam, 3 kambing/domba, 5 kelinci dengan kandangnya, serta pakan sekitar 400 kg untuk jangka waktu 6 bulan. Di samping itu, keluarga RTM juga mendapat bantuan 2-3 batang bibit kopi/kakao/pala/lada. Masih ada pula tambahan 10 bibit cabai atau bawang merah.

Namun untuk saat ini, fokus utama Kementan adalah penyediaan 10 juta ekor ayam. Dalam tahap awal program Bekerja, yang merupakan bentuk nyata kepedulian pemerintah pada kesejahteraan wong cilik [masyarakat bawah], wilayah yang menjadi sasaran adalah Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Banten, Sumatra Selatan, Lampung, Sulawasi Selatan, dan Kalimantan Selatan.  

Arif Supriyono, anggota Dewan Redaksi AGRONET.