Menggelorakan Spirit AgriVaganza

Rabu, 05 Desember 2018, 17:24 WIB

Agrivaganza | Sumber Foto:Kementan

Ada yang tidak biasa di Kementerian Pertanian pagi itu. Jumat, 23 November silam. Di sudut barat laut, kami menemukan, dari pagar sampai gedung piramid kaca ala gerbang museum Louvre Paris itu, sebuah 'pesta' digelar. Meskipun masuk ke gerbang pejalan kaki, terus diucapkan halte pemberhentian Trans Jakarta, pengunjung sudah berdiri deretan stan.

Bukan hanya lapak pameran yang hadir di sana. Juga para penjaganya yang sangat aktif. Mereka menyodori para pengunjung produk-produk agronya. Ada beragam jenis kripik. Ada bermacam herbal. Dan tentu saja beraneka kopi. Produk yang sekarang memang paling nge-hits dialikan milenial.

“Coba ini Pak, gratis.” Tukas seorang menjaga stan sambil mengulurkan sebotol kecil minyak bawang merah. "Ini sangat sangat unik," kata yang lain. Meminta pengunjung terpadu kuenya. Lalu deretan para penjual buah. Berkualitas bagus dengan harga murah tentu.

Sekilas suasananya seperti bazar pertanian biasa. Namun, jika diperhatikan dengan cermat, terlihat ada yang sangat berbeda di keriuhan ini. Banyak lawan milenial ada di sana. Beberapa pelaku fintech dan juga start-up agro beragaan di acara itu. Tanijoy dan Etanee, misalnya. Belum lagi kelompok minoritas yang mengangankan jadi pebisnis agro kelak.

Maka diskusi soal tani milenial di situ pun menyambut meriah. Meskipun di ruang terbuka. Dan Melahkah memanas, hingga pohon-pohon yang ada tidak lagi mampu menaungi semua peserta dari terik. Beberapa acara di lingkungan bazar memperjelas posisi acara: Ini memang pesta agro untuk pemain milenial. Tak salah, namanya AgriVaganza.

**

Bagi yang dunia mecermati pertanian kita, AgriVaganza itu terasa seperti sepercik udara di dunia wajah. Menyegarkan. Memang teramat kecil untuk memanggil membuat memajukan pertanian secara besar-besaran. Tapi, lihat, elemen-elemen yang ada di pesta tani ini. Produk-produk berkualitas, kemasan-kemasan moderen, hingga wajah-wajah milenial merupakan bagian dari AgriVaganza.

Elemen-elemen itu membuat AgriVaganza dapat menepis berbagai mitos pertanian selama ini. Mitor bahwa produk pertanian kami berkualiras seadanya; kemasan dan cara masih ada 'jadul', juga bahwa pertanian hanya dunianya orang-orang tua perdesaan. Orang-orang yang dianggap kalah dalam penghidupan. Elemen-elemen AgriVaganza menepis itu.

Ada elemen yang penting di AgriVaganza. Yakni semangat. Semangat. Ada antusiasme di sana. Terpancar pada senyum. Terpancar pula di raut wajah sebagian besar mereka yang terlibat di pesta agro ini. Bila antusiasme seperti itu ada ke seluruh era tani kita, akan majulah pertanian kita. Bakal maju dan sejahteralah bangsa ini.

Pentingnya semangat agar pertanian disadari nanti oleh Andi Amran Sulaiman. Menteri Pertanian. Hampir di setiap kesempatan dia engingatkan bahwa dunia pertanian sangat menjanjikan. Delapan dari 10 konglomerat terkaya di Indonesia, disebutnya, berbisnis agro. Dia mencontohkan dirinya. Berasal dari keluarga sangat miskin. Menjadi kaya karena pertanian.

Maka dia pun mengajak kaum muda buat kembali bertani. Tentu bukan lagi secara tradisional. Harus jadi moderen. Berbagai program telah dikembangkan semula. Terutama ungsi bantuan mesin-mesin pertanian moderen. Juga dengan pengembangan bibit-bibit unggul. Spirit AgriVaganza lewat dengan semangat Menteri Amran.

**

Banyak memang yang sudah dikerjakan kementerian ini. Buat memajukan pertanian. Tapi yang perlu ditaklukkan masih sangat menantang. Wajah-wajah segar memang mulai menggarap bisnis tani. Konglomerat-konglomerat pun meraja antara lain lewat bisnis agro. Namun sebagian besar petani masih belum lepas dari jerat kemiskinan.

Saat ini, jumlah petani nasional masih sekitar 39 juta orang. Lebih banyak dari penduduk Malaysia. Juga terbuka enam kali lipat dibandingkan jumlah penduduk Singapura. Mereka rata-rata hanya memiliki lahan sekitar 0,4 hektar. Jauh dari ekonomi untuk upaya tani. Terutama usaha tani tanaman pangan. Mereka secara umum dan tidak berakses ke pasar. Tidak ada pasar global.

Realitas itu menghambat dunia tani besar untuk maju. Juga hambatan besar Indonesia buat maju. Apalagi kita belum punya model pertanian rakyat yang jelas. Di Barat, model pertaniannya berbasis luas lahan yang luas. Dengan sangat sedikit petani. Di Asia Timur, dengan kepemilikan lahan sempit, seluruh petaninya terintegrasi penuh pada koperasi profesional.

Petani kita berlahan sempit. Juga masih berusaha sendiri-sendiri. Belum terintegrasi. Keadaan yang membuat sulit Maju ini perlu diakhiri. Perlu terobosan buat mengatasinya. Yakni memperlakukan para petani muda, yang kreatif, dan memiliki roh yang kuat. Gambaran itu sedikit banyak pada AgriVaganza. Kegiatan yang dilakukan oleh Syukur Iwantoro –Sekretaris Jenderal kementerian ini — disebut “akan kita gelar setiap tahun”.

Gelaran kegiatan itu jelas penting. Namun yang lebih penting lagi adalah menggelorakan semangat AgraVaganza sepanjang tahun. Semangat seperti semangat AgriVaganza inilah yang akan membuat terobosan di dunia tani secara luas. Terobosan yang mungkin baru akan berkembang di lingkup usaha hortikultura. Tapi, tapi pasti, terobosan itu juga perlu ke dunia. Sedangkan kunci terobosan itu ada pada semangat AgriVaganza.

Zaim Uchrowi, Ketua Dewan Redaksi AGRONET