Selamat Datang ‘Fintech’ Agro (2)

Sabtu, 07 Oktober 2017, 20:49 WIB

Zaim Uchrowi | Sumber Foto:Dokumentasi Pribadi

Mau berkebun manggis, durian, lemon, dan beternak kambing sekaligus? Cukup sisihkan uang sebesar Rp 5 juta rupiah. Dengan uang itu, Anda sudah punya satu paket dari total investasi Rp 2 milyar buat usaha mix farming tersebut di daerah Tonjong, Brebes – Jawa Tengah. Jika tertarik, investasikan uang tersebut melalui Tanifund, sebuah lembaga ’fintech’ yang menggarap pertanian.

Atau mau berkebun kurma dengan dana terbatas? Kebun yang tentu juga tanpa harus punya tanah sendiri. Buka saja laman igrow.asia yang punya paket murah, dengan imbal hasil sekitar 15 persen per tahun. Angka yang lebih menguntungkan dibanding disimpan di bank. ’Fintech’ ini menawarkan paket tersebut. Sayangnya paket ini begitu laku, hingga segera ditulis bahwa itu sudah ’terjual’.

Tanifund dan iGrow sama-sama perusahaan ’fintech’ yang menggarap agro. Mereka mengajak masyarakat buat berinvestasi panjang di pertanian. Sampai ke masa 15 tahun. Masa yang mencakup seluruh puncak produksi pohon-pohon hasil investasi. Sedangkan grup ’fintech’ lain yakni crowde.co mengajak Anda buat bareng-bareng bisnis agro yang lebih singkat. Seperti berkebun sayur atau beternak ikan.

Mau pilih mana? Setiap orang tentu punya pertimbangan masing-masing. Apapun pertimbangannyai, ’fintech’ menjadi alternatif buat menyimpan uang selain menabung di bank atau membeli reksadana. Dibanding membeli saham di pasar modal, ’fintech’ ini juga memiliki sisi lebih. Yakni menimbulkan rasa memiliki yang khusus terhadap usaha yang tengah dikembangkan. Caranya adalah dengan merasakan ’pengalaman bertani ’ melalui daring.

’Fintech’ ini jelas lebih aman dibanding model investasi agro yang sempat marak beberapa tahun lalu. Saat itu, sejumlah pengusaha agro sukses di Sukabumi hingga Cirebon mengajak publik berinvestasi di usahanya. Tawaran keuntungan yang dijanjikan sangat menarik. Ribuan orang pun tergoda, untuk kemudian harus mendapati kenyataan pahit. Uangnya hilang. Pebisnis itu tak sungguh-sungguh mengembangkan bisnis agro. Mereka memang mau menipu publik menggunakan skema Ponzi.

Kehadiran ’fintech’ ini secara langsung menepis tipu-tipu berkedok bisnis agro. Berstatus resmi, ’fintech’ tentu menjadi bisnis yang berada di bawah pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Itu menjadi modal besarnya untuk kembali menyampaikan pada publik: Bisnis agro justru bakal makin prospektif. Sangat layak untuk menjadi pilihan berinvestasi. Begitu pesan ’fintech’ agro pada masyarakat luas buat berinvestasi.

Itu aspek investasi ’fintech’ agro. Tapi, apa sebenarnya manfaat langsungnya bagi dunia pertanian? Apakah cukup karena dana buat bertani semakin mudah? Juga --semoga— memang nyata membuat dana bertani yang mudah itu semakin banyak. Banyak lagi sisi ’Fintech’ agro yang perlu dikupas.

Pertanian di Indonesia saat ini sungguh bermasalah. ’Pertama’ adalah persoalan lahan. Sebagian besar penduduk Indonesia yang hidup dari mengolah tanah serta air -yakni kaum tani- saat ini hanya menguasai lahan sangat terbatas. Itu yang menjelaskan mengapa kepemilikan lahan pertanian secara umum kurang dari setengah hektar per petani. Jauh dari ekonomis untuk berusaha tani.

Maka, konsolidasi lahan agar memiliki luasan yang cukup untuk mencapai tingkat ekonomis sungguh diperlukan. Tanpa hamparan lahan yang memadai, pertanian akan mati suri. Tidak akan berkembang. Para petani gurem di Jepang maupun Taiwan dapat bertahan karena bekerja sebagai kelompok, hingga memiliki luasan usaha yang memadai. Itu yang harus dilakukan oleh petani Indonesia, yang 90 persen di antaranya adalah petani gurem, untuk maju.

Sayangnya, selama ini para petani cenderung berusaha tani masing-masing. Naluri bertani subsisten dari masa lampau masih menggelayuti mereka. Tak mudah untuk mengerjasamakan usahanya untuk mencapai level yang paling menguntungkan. Kehadiran ’fintech’ agro akan mendorong petani melakukan konsolidasi lahan usaha, tanpa harus mengubah kepemilikan lahannya. ’Fintech’ agro mau tidak mau perlu melakukan kegiatan ’community development’. Kegiatan yang antara lain akan berujung pada konsolidasi lahan.

Kedua, sistem usaha tani kebanyakan masih relatif tradisional. Ketidakberdayaan selama bertahun-tahun plus berbagai ketidakpastian -cuaca, hama penyakit, bahkan sosial- membuat petani cenderung konservatif. Yakni bertani hanya dengan cara yang sudah biasa dilakukannya. Inovasi selalu menghadirkan tantangan baru. Cara ini tentu tidak akan memberi hasil optimal dari usaha tani yang dilakukannya.

Di setiap daerah sebenarnya sudah terdapat para petani pelopor. Mereka telah memulai bertani secara moderen dan berinovasi untuk mendapatkan hasil tinggi. Namun kepeloporan itu belum banyak berdampak pada sistem usaha tani masyarakat. Mereka enggan meniru karena keterbatasan modal. Juga ketidakberanian menanggung resiko yang lebih tinggi. Bila menjadi mitra ’fintech’ agro, keengganan petani menerapkan sistem usaha tani yang lebih maju akan teratasi. Persoalan permodalan serta masalah pengelolaan resiko akan teratasi.

Ketiga, saat ini bertani sudah dianggap pekerjaan yang tidak bergengsi. Hal tersebut terjadi karena penghasilan petani sangat rendah. Sedangkan dalam bekerja harus mengandalkan fisik yang menguras tenaga serta berasosiasi dengan kotor akibat lumpur. Penghasilan bersawah padi seluas satu hektar masih lebih rendah menjadi buruh pabrik.

Mayoritas petani sekarang adalah orang tua. Orang-orang yang sudah bertahun-tahun menjalani pekerjaan itu. Tak ada pilihan bagi mereka selain menjalani pekerjaannya itu. Sangat sedikit kalangan muda yang tertarik menjadi petani. Menjadi mitra ‘fintech’ agro akan serta merta mengangkat martabat petani. Mereka langsung berasosiasi dengan para investor. Juga dengan dunia sangat moderen yang dibawakan oleh perkembangan teknologi informasi.

Berbagai implikasi positif itu akan mewujud seiring dengan berkembangnya ’fintech’ agro di tahun-tahun mendatang. Hal itu sudah cukup menjelaskan bahwa ’fintech’ agro berpeluang besar untuk berperan dalam melakukan revitalisasi pertanian. Revitalisasi yang digerakkan dengan alternatif sistem pendanaan bisnis agro yang transformatif. Yakni melalui sistem investasi yang dapat disebut sebagai investasi peer to peer di bidang agro.

Dari perspektif tersebut, tampak bahwa ‘fintech’ agro merupakan bisnis menjanjikan di masa depan, dengan cara membuat dunia agro menjanjikan pula. Namun untuk sampai ke level itu jelas bukan perjalanan mudah. Perusahaan ’fintech’ agro bukan saja harus meyakinkan investor. Untuk dapat memberi hasil terbaik pada investor, tentu mereka perlu mampu menjalankan kerja community development. Kerja untuk mendapatkan mitra terpercaya, dan kerja untuk terus membina para mitra itu terjaga dalam integritas dan berkembang dalam kompetensi.

Secara umum kerja community development atau pembangunan masyuarakat itu bukan ranah orang-orang ’fintech’ yang lebih berasosiasi pada soal finansial dan teknologi informasi. Maka kesediaan kalangan ’fintech’ masuk ke dunia agro sungguh pantas diapresiasi. Kesabaran dan ketekunan mereka di hari-hari mendatang yang akan membuahkan hasil besar. Yakni melahirkan revitalisasi dunia agro, sekaligus membuat siapa saja dapat berkebun duren atau brokoli, beternak kambing atau ikan, maupun usaha agro lainnya secara mudah. Bukankah itu membahagiakan?

Zaim Uchrowi, Ketua Dewan Redaksi Agronet

BERITA TERKAIT

Komunitas