Revolusi Tani (1)

Minggu, 12 November 2017, 13:01 WIB

Zaim Uchrowi | Sumber Foto:agronet.co.id

Bisakah sebuah bangsa besar maju tanpa pertanian kuat? Ini pertanyaan lama. Namun sungguh masih relevan bagi Indonesia. Negara yang sampai sekarang masih tersandera oleh jebakan middle income trap’ Hingga beberapa tahun ke depan tani Indonesia tampaknya belum akan maju. Tani masih terkendala oleh beberapa masalah. Hal yang sungguh tak mudah diatasi kecuali dengan Revolusi Tani.  

Mungkin Anda pernah merasakan ‘zaman Pak Harto’. Zaman Orde Baru. Bila ya, tentu ingat bagaimana tani berjaya saat itu. Setidaknya untuk jangka pendek. Pembangunan pertanian --dalam hal ini beras-- pernah mencapai masa keemasannya. Yakni setelah pemerintah luncurkan Program Bimas atau ‘bimbingan massal’. Sebuah program adopsi gerakan Revolusi Hijau yang diinisiasi oleh Badan Pangan Dunia, FAO.

Penggunaan bibit unggul, pemakaian pupuk kimia intensif, hingga dukungan kelembagaan seperti Koperasi Unit Desa sempat membuat produksi beras meningkat pesat. Pembangunan irigasi besar-besaran ikut menguatkan program itu. Hasilnya, kehidupan para petani menjadi lebih sejahtera. Tentu saja untuk ukuran mereka. Indonesia pun disebut sebagai contoh sukses Revolusi Hijau.

Tetapi masa itu sudah berlalu. Kini tak ada lagi yang mengagungkan Revolusi Hijau. Juga Bimas yang sempat menjejahterakan petani. Memasuki masa 1990-an, dunia tani menurun. Pemupukan kimiawi terus menerus yang diserukan Bimas --dan tetap dipraktekkan sampai sekarang--  telah merusak  kualitas tanah secara nyata.

Belum lagi meluruhnya saluran irigasi. Padahal air merupakan hal paling esensial dalam bertani. Banyak petani kemudian bergantung pada pompa. Tentu akan menambah biaya usaha mereka. Hamparan sawah pun banyak terganggu oleh alih peruntukan lahan secara tidak teratur. Kepemilikan lahan juga makin mengecil akibat pewarisan. Tidak ekonomis lagi buat bertani.

Tak heran bila bertani menjadi kurang menarik bagi kaum muda. Penghasilan mengelola lahan hingga sehektar, bila tak benar-benar pintar, bisa kalah dibanding nilai upah mininum pekerja pabrik. Kebanyakan petani relatif sudah berumur. Mereka menjalani kerja tani karena sudah telanjur berada di sana. Hampir tak mungkin lagi beralih pekerjaan. Sebuah survei menunjukkan bahwa rata-rata usia petani sekitar 52 tahun.

Tentu potret tani tak seluruhnya muram. Di berbagai tempat di Indonesia terdapat usaha-usaha tani yang menjanjikan. Yakni para pelopor tani yang sukses mengembangkan usaha di bidang masing-masing. Meskipun demikian, jumlah mereka masih sangat terbatas. Tak sebanding dengan kondisi jutaan para petani yang bertarung dengan kesehariannya yang sulit.

Maka Revolusi Tani sungguh diperlukan. Sebuah revolusi semacam Revolusi Hijau namun memenuhi tuntutan keberlanjutannya ke depan. Revolusi Tani pasca Revolusi Hijau ini sempat menjadi prioritas Adi Sasono, Menteri Koperasi 1998-1999 yang lalu. Penggelontoran Kredit Usaha Tani (KUT) dijadikannya sebagai ujung tombak gerakan membangkitkan tani. Format yang belum jelas serta perilaku koruptif orang-orang lapangan membuat Revolusi Tani itu ambruk sebelum berkembang.

Sekarang, keinginan untuk membuat Revolusi Tani mulai kembali berkembang. Baik dari lingkungan pemerintah maupun dari para pelaku usaha agrobisnis. Salah satu yang signifikan adalah kehadiran Andi Amran Sulaiman sebagai Menteri Pertanian. Sukses sebagai pengusaha yang tumbuh dari proyek-proyek pertanian, Amran melakukan langkah-langkah revolusioner untuk menggerakkan birokrasi.

Amran fungsikan kembali bendungan dan saluran yang hancur. Ia ajak kementerian dan lembaga lain untuk bangun bendungan maupun embung-embung air yang baru. Ia gerakkan birokrasi di bawahnya untuk ketat mengawasi  pengembangan komoditas-komoditas agro dimulai dari ‘pajale’. Padi-jagung-kedele. Modernisasi pertanian juga menjadi perhatiannya. Maka tani kucurkan bantuan besar-besaran mesin pertanian pada para petani. Bantuan terbesar buat petani Indonesia sepanjang sejarah.

Langkah lain yang dapat menopang Revolusi Tani berasal dari para pelaku agrobisnis. Di antaranya adalah dari gerakan Badan Usaha Milik Rakyat (BUMR). Adalah Luwarso, pengusaha beras asal Sukabumi ini yang memprakarsainya. Masyarakat tani dari hamparan sawah seluas 1.000-5.000 hektar diharapkan dapat berhimpun dalam satu sistem produksi bersama. Pusat sistem produksi bersama BUMR itu haruslah unit pengolahan moderen, yang dapat menjamin aspek keamanan pangan dari tingkat petani sampai konsumen.

“Presiden meminta kami kembangkan 65 klaster BUMR ini pada tahun depan,” kata Luwarso. Sebuah bukti bahwa konsep yang sudah teruji di Sukabumi itu dipandang bagus dan layak direplikasikan ke berbagai wilayah di Indonesia. Bila terwujud, jejaring BUMR tersebut dapat menjadi salah satu pilar utama Revolusi Tani Indonesia.

Pelaku bisnis non agro pun membuat terobosan penting buat mewujudkan Revolusi Tani. Yakni dari kalangan pelaku bisnis keuangan yang memanfaatkan perkembangan Teknologi Informasi untuk masuk dunia agro. Mereka mengembangkan teknologi keuangan atau fintech yang memberi sistem pembiayaan alternatif  pada agrobisnis.

Seperti ditulis pada rubrik Kolom Agronet beberapa pekan silam, terdapat beberapa pelaku fintech agro yang telah menjalankan usahanya. Di antaranya adalah i-Grow, Tanifund, dan juga Crowde. Mereka berkontribusi bukan hanya memberikan  pembiayaan, melainkan juga mengubah cara pandang soal pertanian. Seperti ‘memaksa’ petani untuk benar-benar profesional dalam menjalankan usahanya. Juga membuat pertanian kembali menarik hati kaum muda.         

Langkah-langkah tersebut di atas sungguh merupakan bakal pilar penting bagi tegaknya Revolusi Tani. Apalagi bila ditopang dengan ‘ideologi agro’ yang tepat, seperti ideologi ‘Ekonomi Biru’ yang digerakkan oleh jurnalis senior yang kini menjadi praktisi pertanian, Farid Gaban. Ekonomi Biru merupakan ideologi pembangunan ekonomi yang berbasis pada sumberdaya alam. Inilah ideologi penjamin keberlanjutan yang aman Revolusi Tani mendatang, hingga tak menjadi revolusi yang merusak seperti Revolusi Hijau di masa lampau.

Penerapan secara terbatas format pertanian berbasis ideologi Ekonomi Biru sudah teruji. Seperti yang telah dilakukan Sri Darmono Susilo di Cikampek, melalui pertanian terpadu atau ‘mix-farming’ yang dikembangkannya. Sebuah pendekatan yang mendudukkan kembali Asam Humat – bukan pupuk buatan—sebagai kunci utama agrobisnis Indonesia. Hal yang sebenarnya telah menjadi kearifan dunia tani kita selama berabad-abad sebelum tercampaknnya oleh pendekatan modernis.

Pilar-pilar penting untuk Revolusi Tani itu sebenarnya sudah ada di tengah-tengah bangsa ini. Tinggal bagaimana menatanya agar efektif memajukan pertanian kita. Hal yang tentu akan signifikan dalam memajukan Indonesia secara menyeluruh.*

 

ZAIM UCHROWI
*Ketua Dewan Redaksi Agronet

BERITA TERKAIT

Komunitas