Catatan Zaim Uchrowi

Maka Lahirlah Agronet!

Jumat, 23 Juni 2017, 22:31 WIB

Zaim Uchrowi | Sumber Foto:Zaim

‘Agriculture is about alive and dead’ -- Soekarno

 Akhirnya, portal pertanian ini lahir. Juli 2017. Sebuah waktu yang tidak bermakna apa-apa selain bahwa memang inilah saat kelahirannya. Serupa dengan kelahiran jabang bayi pada umumnya. Tanggalnya tak mengacu pada apapun selain peristiwa kelahiran itu. Demikian pula Agronet, tepatnya agronet.co.id, portal pertanian ini.

Berawal dari perasaan bersalah pribadi. Perasaan seorang lulusan IPB yang belum berbuat untuk pertanian. Karir malah lebih banyak di bidang tulis menulis. Baik di jurnalistik –di Majalah Tempo dan Harian Republika--  maupun di perbukuan. Balai Pustaka. Rasa bersalah itu sempat terkompensasi lewat sebuah feature. ‘Panggilan dari Tengah Padang”. Sebuah tulisan yang sejauh ini mungkin paling komprehensif tentang ranch di Indonesia.

 Interaksi dengan sesama alumni ikut memupuk rasa bersalah itu. Apalagi setelah waktu mengantarkan kembali ke kampus, menempuh program doktor. Langkah yang mempertemukan dengan ‘guru’ jenius, Amri Jahi. Dialah yang mendorong meriset ketahanan kelompok tani dengan bingkai teori Talcott Parsons. Riset itu mematrikan hati pada penyuluhan serta kelompok tani. Menjadi Majelis Wali Amanat IPB pada 2012 ikut pula menguatkan rasa  bersalah itu.

 Tapi apa yang perlu dikontribusikan buat pertanian? Pertanyaan itu menggoda. Indonesia negeri kaya raya. Negeri subur dengan tanah surga yang –menurut Koes Plus—“tongkat kayu dan batu jadi tanaman.” Di negeri seperti ini, semestinya pertanian maju dan seluruh rakyatnya sejahtera. Apalagi petaninya. Kenyataannya tak seindah itu. Padahal, seperti menurut Bung Karno dalam pidato berbahasa Inggris saat mendirikan IPB tahun 1962, pertanian adalah soal hidup dan matinya bangsa.

Penegasan Soekarno itu benar. Pertanian menentukan “hidup dan matinya bangsa”.  Jadi bagaimana caranya agar pertanian bukan ‘mematikan’, melainkan ‘menghidupkan’ bangsa? Seorang penyuluh tua di sekitar daerah lumbung beras Delanggu Jawa Tengah, menggeleng. Ia sudah puluhan tahun bekerja untuk mengembangkan pertanian. Ia mengaku sungguh tak tahu jawaban pertanyaan itu.

“Sekarang ini buah impor sudah sampai di pasar-pasar kecamatan. Bagaimana kita mau melawannya?” ujarnya dengan nada tegas.

Penyuluh tersebut benar pada kadar tertentu. Tetapi sebenarnya pertanian tak semuram itu. Bisnis raksasa di dunia pertanian kenyataannya terus meningkat. Salah satunya tentu pada komoditas kelapa sawit. Pada industri peternakan dan perikanan juga. Selain itu, usaha pertanian kelas menengah pun tumbuh subur. Inovasi-inovasi baru terus berkembang secara yang mengagumkan. Hal tersebut terjadi di berbagai daerah di Indonesia.

Tantangan bukan tidak ada. Terutama bagaimana gelombang baru pertanian itu berimbas ke seluruh sektor pertanian? Bagaimana pertanian ‘tradisional’ bertransformasi sepenuhnya menjadi ‘moderen’? Atau bahkan menjadi pertanian ‘pos-moderen’? Lalu dunia tani yang tampak statis sejalan dengan meluruhnya usia petani dapat bangkit dan bergairah kembali?

Spirit baru pertanian perlu disemaikan. Di antaranya adalah dengan membuat para pelaku pertanian mudah berinteraksi satu sama lain. Portal dapat menjadi pilihan tempat berinteraksi itu. Ya, betul. Portal pertanian. Sebuah gagasan yang mulai terlintas sejak lima tahun silam. Juga sempat dua-tiga kali terdiskusikan dengan teman. Namun hingga beberapa waktu kemudian, momentum buat mewujudkan portal itu belum juga tiba.

 “When there is a will, there is a way.”  Slogan universal yang dipasang di dinding kelas sebuah madrasah di Cikareo, Lebak, di pelosok Banten  malah menjadi pengingat dalam urusan ini. Seiring perjalanan waktu, gagasan membangun portal pertanian ini menemukan wujudnya. Kawan-kawan lama mulai kembali tersambung. Eksekutif korporasi agro Chairul Muluk, eksekutif media Tommy Tamtomo, juga beberapa lainnya dari berbagai kompetensi. Mereka semua menyatukan hati buat membangun portal ini.

Logo portal agronet.co.id menggambarkan tekad bersama tersebut. Kesatuan padi-ikan dalam format melingkar yin-yang menjadi simbol keholistikannya. Inilah portal yang menjadi jembatan informasi agrobisnis bagi para pelaku serta pengelola kebijakannya. Inilah portal buat meraih berkah bersama bagi semua insan agribisnis. Untuk itu, doa dipanjatkan. Berbagai persiapan juga telah dimatangkan. Maka lahirlah Agronet!*      

BERITA TERKAIT