Revolusi Tani Raja Rama V

Minggu, 07 Januari 2018, 23:04 WIB

Dr. Zaim Uchrowi, MDM | Sumber Foto:Dokumentasi Pribadi

Pernah ke Museum Nasional? Tengoklah sesekali museum yang ada di jantung Ibukota ini. Museum yang tepatnya berada di Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta. Di sana memang tidak ada paparan tentang majunya pertanian kita di masa lalu. Obyek pertanian yang ada paling hanya berupa perkakas tani tradisional yang dipakai masyarakat. Tetapi, di museum terbesar di Indonesia ini sebenarnya terdapat penanda sebuah Revolusi Tani hebat.

Perhatikan patung di depan museum itu. Bukan patung kontemporer pusaran semesta yang bertajuk ’Ku Yakin Sampai di Sana’. Patung karya perupa Nyoman Nuarta itu. Tapi sebuah patung realis logam yang menghijau karena proses oksidasi. Patung gajah. Sebuah patung yang membuat museum ini juga dijuluki sebagai ’museum gajah’.

Patung itu bukan asli patung kita. Namun patung dari negeri gajah, Thailand. Adalah Raja Chulakongkorn, yang lebih dikenal sebagai Raja Rama V, yang membawanya sebagai oleh-oleh. Yakni saat sang raja berkunjung ke Batavia lebih dari seabad silam. Riwayat menyebut setidaknya Raja Rama V berkunjung ke tanah Jawa tiga kali. Pertama tahun 1871. Berikutnya adalah tahun 1896 dan tahun 1901.

Apa yang membuat Raja Rama V merasa perlu mengunjungi negeri kita begitu sering? Seorang praktisi agribisnis Rachmat Pambudy memberikan petunjuknya. Dalam penggambarannya, Nusantara di abad 19 adalah negeri dengan agribisnis termaju d di dunia. Komoditas-komoditas pertanian penting di dunia berasal dari perkebunan-perkebunan di Nusantara.

Itu berawal setelah perekonomian Belanda, yang menjajah tanah Nusantara ini, nyaris bangkrut akibat pembiayaan Perang Diponegoro (1825-1830) dan Perang Paderi (1803-1838). Untuk memulihkan perekonomian itu, mereka menjalankan program Tanam Paksa. Rakyat Jawa dipaksa untuk menanam komoditas-komoditas yang akan menguntungkan Belanda buat bisnis internasionalnya.

Perkebunan karet, kopi, teh, dan tembakau secara besar-besaran pun dibuka. Selain itu rakyat juga dipaksa menanam tebu di tanahnya masing-masing. Untuk menampung hasil panenan rakyat tersebut, dibangunlah pabrik-pabrik gula moderen pada masanya di berbagai tempat. Sementara itu rel-rel lori juga dibangun untuk mengefektifkan transportasi tebu. Tak mengherankan bila Nusantara ini, seperti kata Rachmat, melahirkan Raja Gula kelas dunia seperti Oei Thiong Ham di Semarang. Atau Tjong Afie di Medan.

Perusahaan-perusahaan perkebunan pun berkembang pesat di Nusantara. Belanda, yang menguasai wilayah ini, pun menjadi salah satu negara termakmur di dunia. Sebagian masyarakat Nusantara, terutama kalangan atasnya, ikut menikmati kemakmuran itu. Kerajaan-kerajaan seperti Solo dan Yogya pun makmur. Terutama karena gula. Sebuah keadaan yang tentu menarik buat Raja Rama V untuk mengunjunginya.

Kunjungan bukan hanya pada Gubernur Jenderal Hindia Belanda waktu itu. Bukan pula hanya pada para raja yang ikut menikmati manisnya kemajuan pertanian di negeri ini. Raja Rama V juga juga langsung melihat kebun-kebun pertanian. Belajar dengan cermat bagaimana cara memajukan pertanian mulai dari teknis. Hasilnya dijadikan landasan Revolusi Tani yang dilakukannya.

Dari kunjungannya ke Nusantara itu sang Raja Thailand memperoleh banyak hal. Yang pertama, tentu saja ilmu. Biasanya para pemimpin apalagi raja hanya tertarik bagaimana berkuasa. Tidak tertarik untuk mendalami hal-hal teknis seperti pertanian. Namun Raja Rama V tidak demikian. Ia tertarik untuk mendalami sampai ke tingkat teknis aspek pertanian. Sampai dirinya memiliki ilmu yang cukup tentang pertanian.

Penguasaan teknis ilmu pertanian itupun ditopangnya dengan dengan bibit dan benih terbaik berbagai jenis tanaman. Itu yang dibawanya pulang ke Bangkok dengan kapalnya. Wajar bila Raja Rama V dengan senang hati menyiapkan danmenghadiahkan salah satu patung gajah terbaik dari negerinya. Ia memperoleh bibit dan benih terbaik untuk dikembangkan buat memajukan budidaya pertanian Thailand.

Bukan hanya itu. Raja Rama V bahkan membawa puluhan pekerja kebun terbaik dari Jawa ke Bangkok. Ia menghadiahi tempat tinggal dan imbalan lain yang tinggi pada para pekebun ini, yang disiapkannya menjadi praktisi ahli untuk mengembangkan pertanian di sana. Itu yang menjelaskan mengapa terdapat komunitas Jawa di Bangkok, yang dekat dengan keluarga kerajaan.

Dengan modal itulah, Raja Rama V membangun kebun-kebun moderen yang menjadi model bagi pengembangan pertanian rakyat Thailand. Kebun-kebun percobaan pertanian terus langsung berada d bawah pengawasan raja, dan bukan pemerintahan. Raja-raja Thailand umumnya suka menelit langsung pertanian. Raja Bhumibol Adulyadej yang wafat tahun 2016 lalu dikenal sebagai peneliti pertanian yang tekun.

Perhatian yang sangat besar pada pertanian dari raja itulah yang membuat pertanian Thailand berkembang. Bukan sekadar berkembang, melainkan juga mampu menjadi pusat pertanian tropis termaju di dunia. Jauh meninggalkan Indonesia, negeri yang menjadi ’gurunya’ di dunia pertanian. Model usaha tani di Thailand sudah sangat solid, baik dari sisi teknis, kelembagaan petani, hingga dukungan ekosistemnya.

Sementara itu di ‘negeri guru pertanian’ ini, format pertanian masih juga belum menentu. Menjadi merdeka, bahkan mendekati tiga perempat abad merdeka, belum kunjung mengangkat pertanian. Perkebunan-perkebunan besar meluruh, kecuali perkebunan sawit dalam beberapa dasa warsa terakhir. Tani rakyat secara umum tak cukup signifikan berkembang, meskipun selalu ada petani progresif yang maju pesat. Namun dalam skala global, peran pertanian Indonesia justru makin kurang berarti.

Rancangan program, peningkatan anggaran, hingga kucuran bantuan bagi petani jelas penting. Namun cukupkah itu jadi modal bagi dunia tani untuk benar-benar maju? Pengalaman Thailand itu mengajarkan bahwa yang terpenting adalah kepedulian dan kecintaan pemimpin pada tani dan petani. Baik pada tingkat kekuasaan tertinggi, hingga tingkat terendah, yakni bupati, camat, hingga kepala desa. Di Thailand, Revolusi Tani ke arah itu sudah dimulai oleh Raja Rama V yang patung gajah oleh-olehnya kini terpasang di Museum Nasional Jakarta itu.

Dr. Zaim Uchrowi, MDM., Ketua Dewan Redaksi Agronet

 


 

BERITA TERKAIT

Komunitas