Komunitas Sahabat Bumi, dari Sampah Merambah Tanaman Organik

Jumat, 11 Mei 2018, 17:04 WIB

Kopdar Komunitas Sahabat Bumi

AGRONET-Berawal dari pemahamannya terhadap kondisi lingkungan hari ini yang semakin memprihatinkan, Wulansary kemudian tergerak untuk membuat sebuah kelompok peduli lingkungan yang ia beri nama Komunitas Sahabat Bumi. Fakta-fakta bahwa pemanasan global telah terjadi dan dampaknya sungguh berbahaya bagi kelangsungan hidup manusia, membuat Mumun, begitu Wulansary biasa disapa, merasa perlu mengabarkan kepada orang banyak bahwa kita harus berbuat sesuatu yang nyata untuk menyelamatkan kehidupan kita di masa mendatang.

Dengan penuh keyakinan, Komunitas Sahabat Bumi yang ia dirikan kemudian menjadi wadah untuk menyuarakan kegelisahnnya terhadap kondisi lingkungan saat ini. Melalui Komunitas Sahabat Bumi pula, ia mengajak orang-orang untuk lebih peduli pada lingkungannya.

“Saya yakin, kalau diberitahu faktanya, dan dikasih tahu apa yang bisa dilakukan, maka orang akan bergerak. Dan alhamdulillah, keyakinan saya tadi benar adanya. Biasanya dari forum yang kami datangi, 70% orang tergerak untuk berbuat nyata," ujarnya.

Mumun merintis Komunitas Sahabat Bumi dari Cibubur Country, kompleks perumahan tempat tinggalnya di daerah Cikeas, Bogor, pada tahun 2014. Saat itu, ia memulainya dengan membangun bank sampah. Namun, karena ia harus pindah ke Surabaya pada tahun 2016, aktivitas Komunitas Sahabat Bumi pun harus pindah ke Surabaya. Saat ini anggota Komunitas Sahabat Bumi telah tersebar di beberapa wilayah di Indonesia. Anggotanya berasal dari berbagai kalangan dan profesi. Dengan rentang usia anggota antara 24-48 tahun, relawannya ada yang berprofesi dokter, linmas, marketing, staf di kantor pajak, dosen, pengusaha kuliner, ibu rumah tangga, dan lain-lain. Kebanyakan mereka berdomisili di Surabaya.

Fokus Sahabat Bumi adalah pengolahan sampah dan pertanian organik. Untuk memudahkan konsentrasi, pembagian kerja, dan hasilnya, Mumun membuat enam unit kegiatan, yakni: pengolahan sampah, pertanian organik, program dan edukasi, sociopreneur, kesehatan, dan konservasi.

Keberadaan Sahabat Bumi sampai saat ini direspon positif oleh masyarakat sekitar. “Respon masyarakat, saya rasa cukup baik, ditandai dengan undangan yang kerap kami dapatkan untuk sosialisasi perihal pengolahan sampah dan pertanian organik. Kalau respon pemerintah, saya belum merasakan secara langsung," tukasnya.

Dalam perjalanannya, gerakan kepedulian yang Sahabat Bumi lakukan memang penuh dengan kemandirian. Sahabat Bumi tidak tergantung pada siapa pun. Respon positif dari masyarakat juga lahir dari kesadaran utuh.

Metode pengolahan sampah yang digagas Sahabat Bumi miliki -- metode pengomposan felita (fermentasi limbah rumah tangga)--meraih juara satu dalam lomba teknologi tepat guna yang diselenggarakan Dinas Pertanian Pangan dan Pertanian Kota Surabaya, pada Juli 2017, dan dinyatakan sangat dapat diaplikasikan. Namun ternyata, sampai saat ini belum juga disosialisasikan oleh pemerintah atau dinas yang bersangkutan. Sahabat Bumi terus menyosialisasikan metode pengolahan sampah felita tersebut secara mandiri. Bagi teman-teman Sahabat Bumi kemenangan tersebut memang bukan tujuan utamanya.

Setelah berhasil melakukan pengolahan sampah dan memiliki pupuk kompos dari penerapan metode felita, Sahabat Bumi kemudian memanfaatkan pupuk kompos produksinya itu untuk kegiatan urban farming. “Kita punya kompos dan pupuk cair organik yang terus-menerus diproduksi, jadi memang harus dimanfaatkan dengan penanaman. Selain itu juga jadi contoh bagi masyarakat, bahwa ini lho manfaatnya kalau sampah dikelola. Kita bisa menanam sayur organik, menyehatkan keluarga, dan murah pula kalau bisa menanam sendiri,” ungkap Mumun.

“Hingga saat ini 30 perseni anggota Komunitas Sahabat Bumi telah melakukan urban farming dengan biaya mandiri masing-masing anggota. Tanaman organik tersebut mereka tanam di lahan masing-masing. Mereka menanam berbagai macam tumbuhan konsumsi seperti: padi, bawang merah, bawang putih, sawi, cabai, selada, seledri, kacang hijau, okra, terong, pakchoy, kelor, kangkung, bayam, kedelai, dan lain-lain,” sambung Mumun.

Selain itu, saat ini Komunitas Sahabat Bumi sudah melayani jasa pengelolaan sampah kawasan. Klien pengelolaan sampah kawasan yang Komunitas Sahabat Bumi layani, yaitu Surabaya European School.

“Dengan metode felita, kami mengolahkan sampah organik mereka. Harapan saya, akan ada klien-klien lainnya, yang akan menjadi titik awal pengurangan tumpukan sampah di TPA,” kata Mumun. (222)

 

 

 

BERITA TERKAIT