Hitaci: Semangat Tak Terbatas Pemberdaya di Lahan Terbatas

Rabu, 15 Agustus 2018, 14:44 WIB

Kebun yang dikelola Komunitas Hitaci di Citeureup | Sumber Foto:Ratno

AGRONET—Hitaci. Kata ini tentu identik dengan brand elektronik ternama dari Jepang. Pada era 90-an, masyarakat Indonesia menghenal Hitachi sebagai merek televisi. Selain itu, sebagian masyarakat juga sempat mempopulerkan Hitaci untuk sebutan yang terdengar agak rasis, yakni singkatan dari hitam tapi china. Namun, Hitaci di sini bukanlah dua hal tersebut. Hitaci di sini adalah singkatan dari Himpunan Tani Citeureup.

Hitaci (Himpunan Tani Citereup) diinisiasi oleh Tatang Effendi (68 tahun). Wak Tatang, begitu biasa disapa, merupakan seorang penyuluh pertanian swadaya yang tinggal di Kampung Citeureup RT 03, RW 01, Desa/Kecamatan Citeureup, Kabupaten Bogor.

Pesatnya pembangunan kawasan megapolitan, membuat Citeureup tumbuh menjadi bagian dari kota industri. Lahan-lahan pertanian yang dahulu membentang luas nan subur di Citeureup semakin tergerus. Pembangunan pabrik, sarana jalan, dan pemukiman mendesak lahan pertanian di Citeureup hingga semakin sempit.

Dalam keadaan lahan semakin terbatas tersebut, ada Wak Tatang dan kelompok tani Hitaci yang masih semangat menjalankan tradisi bertani di Citeureup. Wak Tatang dan kawan-kawan awalnya memproduksi pupuk organik untuk kebutuhan petani di sekitar Citeureup dan Bogor.

Berkat kegigihannya, saat ini Wak Tatang telah membina 12 desa dari 2 kelurahan di Kecamatan Citeureup. Usaha rintisan Wak Tatang bersama Hitaci juga semakin meluas. Dari tidak mempunyai lahan, kini di Citeureup, Hitaci diberi hak kelola lahan seluas 4 hektare oleh Indocement.

Dukungan dari pemerintah kabupaten Bogor untuk Hitaci juga semakin intensif. Di masing-masing desa, Wak Tatang telah membentuk lima kelompok tani dengan jenis bidang yang berbeda-beda, yakni: produksi kompos, sayuran, dan herbal.

Sejak berdiri pada tahun 2002, Hitaci kini telah memiliki lebih dari 100 petani binaan. Dengan usia yang beragam, dari pemuda sampai ibu-ibu.

“Aktivitas kami menggerakkan masyarakat yang belum mengerti pertanian. Jadi saya memberikan pengarahan kepada anak-anak SD sampai dewasa untuk mengenal budi daya pertanian yang sebenarnya. Harapan yang sangat saya impikan adalah terwujudnya ketahanan pangan masyarakat, khususnya di citeureup, dan umumnya di kota bogor,” ujar Wak Tatang penuh semangat.

“Sekarang ini, ‘kan cari kerja juga susah. Masuk pabrik aja susah. Makanya, dari ada anak-anak muda itu nggak ada kerjaan, nggak ada salahnya belajar bertani bersama kita,” tambah Wak Tatang.

Setelah lebih dari sepuluh tahun merintis, buah manis perjuangan mulai dapat dirasakan oleh Wak Tatang dan Hitaci. Tahun 2017 lalu, Hitaci mendapat penghargaan juara tiga bertepatan dengan Hari Pangan Se-dunia. Sedangkan pada Hari Krida Pertanian 2018 Hitaci juga menyabet juara tiga untuk kelompok pemberdaya pertanian. (222)

BERITA TERKAIT