Komunitas Sugar Glider Indonesia Chapter Depok

Pecinta Si Mungil Bermata Besar

Kamis, 06 Desember 2018, 13:11 WIB

Komunitas pecinta Sugar Glider Indonesia. | Sumber Foto: Agronet/ Ratno Fadilah

AGRONET--Hewan kecil berbulu abu-abu itu hinggap di punggung tangan seorang laki-laki muda. Kedua matanya yang besar kerap berputar melihat suasana sekitar. Ukuran tubuhnya memang menyerupai hamster dan tupai. Namun, ia bukan kedua hewan tersebut. Ia adalah Sugar Glider.

Di Depok, komunitas pecinta Sugar Glider Indonesia sudah berdiri sejak tanggal 24 April 2016. Saat ini anggotanya telah mencapai 70 orang. Menurut Amir, salah satu anggota, sampai saat ini setengah dari 70 orang tersebut aktif mensosialisasikan dan mengedukasi segala hal tentang Sugar Glider kepada masyarakat Depok dan sekitarnya.

Salah satu aktivitas rutinnya adalah gathering di Taman Lembah Gurame, Depok, setiap hari minggu.
“Orang-orang mengira Sugar Glider adalah tupai terbang. Padahal Sugar Glider termasuk keluarga marsupial (hewan berkantung) dan termasuk hewan mamalia. Sugar Glider ini sebenarnya ada gen dari Kanguru dan Koala. Dan habitat aslinya berada di Australia dan Papua,” ujar Amir.

Mayoritas pecinta Sugar Glider tertarik untuk memeliharanya karena alasan perawatan yang mudah. Dari masalah makanan, perawatan kesehatan, dan penjinakkan, Sugar Glider termasuk hewan yang ramah di kantong dan mudah beradaptasi dengan pemeliharanya.

Menurut Amir, Sugar Glider berkembang biaknya termasuk mudah. Biasanya dua bulan setelah melahirkan, hewan ini bisa kembali hamil untuk anak selanjutnya. Dan ia bisa hidup selama 14-15 tahun selama sehat dan dirawat dengan baik.

Sebagai hewan yang di habitatnya termasuk hewan liar, penjinakkan Sugar Glider juga terbilang mudah. Si Pemilihara hanya perlu meluangkan banyak waktu untuk bermain bersamanya. Dan karena hewan ini sangat peka terhadap bau. Maka, untuk membuat ikatan emosional (bonding), saat pemelihara bermain dan mengenali bau tubuh pemeliharanya itulah Si Mungil ini mengenali “tuannya”.

Namun, Amir tetap menyarankan, agar Si Mungil mudah beradaptasi dan cepat akrab dengan tuannya. Adopsi pemeliharaan Si Mungil paling efektif dimulai dari usia satu bulan sampai satu setengah bulan. Apabila di atas usia dua bulan, biasanya perlu waktu yang cukup lama untuk bisa jinak. Dan Si Mungil kemungkinan akan kerap menggigit dan mencakar calon pemeliharanya itu.

Untuk proses adaptasi dan penjinakkan juga sebenarnya sangat mudah. Selain dengan sering diajak main, Si Mungil sebaiknya sering dimandikan. Berkaitan dengan makanan, saat ini pemelihara cukup dimudahkan dengan adanya bubur bayi instan. Selain diberikan buah, terutama pepaya, dan serangga. Sugar Glider biasanya diberikan bubur bayi instan sebagai makanan hariannya.

Sedangkan untuk perawatan kesehatannya lumayan gampang dan nggak ribet. Si Mungil ini hanya perlu dipotong kukunya satu minggu sekali. Serta dimandikan dengan cara membasuh badannya dengan tisu basah non alkohol satu minggu sekali.

“Enaknya pelihara Sugar Glider ini, kita tidak perlu melakukan vaksin. Namun, matanya harus dihindari terkena matahari langsung. Kalau itu terjadi, ia bisa kena katarak,” terang Amir.

Di habitat aslinya Sugar Glider ini memang termasuk hewan nokturnal. Ia cenderung beraktivitas di malam hari dan tidur di siang hari. Namun, pengadaptasian yang dilakukan pecinta Si Mungil ini, kerap mengubah pola hidupnya. Sehingga, ia juga bisa beraktivitas di siang hari. (222)

BERITA TERKAIT