Yayasan Durian Nusantara, Mengkampanyekan Durian Lokal

Sabtu, 09 Pebruari 2019, 15:20 WIB

Acara panen dan pesta durian bersama durian mania di Trawas, Mojokerto. | Sumber Foto: Biro Humas dan Informasi Publik Kementan.

AGRONET --  Para pecinta durian yang tergabung dalam Yayasan Durian Nusantara, berkumpul  guna membahas upaya-upaya mengembangkan buah durian lokal yang tersebar di seluruh pelosok negeri.  Acara berlangsung pada tanggal 7-8 Februari 2019 di Trawas, Mojokerto, Jawa Timur. Anggota yayasan ini terdiri dari pecinta durian yang memiliki kebun durian dari berbagai provinsi. Hadir antara lain dari Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Bali, bahkan ada  yang dari Taiwan, dan Perancis.

Direktur Yayasan Durian Nusantara, Muhamad Reza Tirtawinata, mengatakan Indonesia memiliki potensi durian lokal yang luar biasa yang sedikitnya ada 13 jenis. Di antaranya yang favorit adalah durian Pelangi dari Manokwari, Super Tembaga dari Bangka, Srombut, Tembaga mini, dan Tigger Borneo 88 dari Kalbar, Sunrise of jawa durian merah dari Banyuwangi, Matahari dari Bogor, Gundulan dan Sipakem dari Narmada, NTB. 

"Ada beberapa tipe pengelolaan di antaranya dikelola karena hobby, keperluan riset, maupun komersial baik skala kecil maupun estate atau orchad," katanya.

Sebagai ilustrasi, sebut Reza, untuk analisis pola top working pohon durian bagi 100 pohon pada lahan satu hektare, pada tahun 1 sampai 2 tanaman vegetatif belum menghasikan, sedangkan tahun ketiga sudah menghasilkan 10 kg perpohon senilai Rp40 juta pertahun. Selanjutnya meningkat setiap tahun, pada tahun ke lima 80 kg per pohon senilai Rp.320 juta dan tahun ke delapan sudah menghasilkan Rp800 juta.

"Bila Thailand dikenal durian Chanee, Montong, dan Kan Yao, Malaysia dikenal durian D24, Musangking, dan ke depan favorit Ochee, maka Indonesia favorit dengan durian Petruk, Matahari dan ke depan favorit Durian Pelangi," sebutnya.

Sementara itu, Tirto Santoso, salah satu pekebun durian, mengatakan hingga saat ini telah mengembangkan berbagai durian lokal dan montong  dari sejak 20 tahun yang lalu pada lahan ketinggian 650 mdpl. Kemudian menanam juga durian jenis Musangking, Ochee dan D24  yang sudah berumur 6 tahun. Hasilnya bagus dan terserap oleh pasar dan mitra.

"Harga pun kompetitif kelas supermarket. Misal Ochee Rp300 ribu per kg, Musangking Rp200 ribu per kg, dan Matahari Rp90 ribu per kg," jelas Tirto, pemilik kebun duren seluas 10 hektare di Desa Belik, Trawas, Mojokerto.

Kementerian Pertanian (Kementan) optimis durian lokal mampu bersaing dengan durian negara lainnya. Berdasarkan data BPS, bila sebelumnya neraca perdagangan durian defisit, maka pada tahun 2018 Indonesia sudah surplus 700 ton, ekspornya lebih banyak dari pada impor.

”Durian lokal sudah tembus ke pasar mancanegara, seperti Hongkong, Cina, Malaysia, Vietnam, Timur Tengah, dan lainnya. Bahkan ekspornya semakin meningkat,” ungkap Direktur Jenderal Hortikultura Kementan, Suwandi yang ikut hadir dalam acara panen dan pesta durian bersama durian mania tersebut,  Jumat (8/2).

 “Kami harapkan, melalui acara ini, para durian mania yang tergabung di Yayasan Durian Nusantara dapat mengelola durian lokal dengan baik sehingga berkelas dan bersaing dengan durian negara lain,” ujarnya.

Lebih lanjut, Suwandi menjelaskan, langkah nyata dalam mengelola durian lokal agar kualitasnya bersaing, yakni di setiap daerah harus memiliki durian khas setempat sebagai ikon dan dikelola secara profesional. “Contohnya kebun durian bisa dikemas secara rapih dan dapat dijadikan sebagai objek dan daya tarik wisata seperti yang sukses di Warso Farm Cijeruk Bogor, dan salah satu anggota Yayasan Durian Nusantara, Pak Tirto Santoso, yang memiliki kebun durian 10 hektare di Trawas, sebagai objek wisata,” jelasnya.

Penikmat durian Perancis dan sekaligus Chief International yang ikut hadir, Anthoine, mengatakan, dulu  ketika  tinggal di Thailand  dia tidak suka makan durian. Namun setelah berada di Indonesia saat ini, justru suka makan durian lokal. "Karena rasanya lebih beraroma kuat dan menggoda. Rasanya mantap, enak," ujarnya.(591)