Komunitas Semarak Kalkun Kudus, Dari Hobi Jadi Hoki

Senin, 22 April 2019, 10:23 WIB

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Kudus Catur Sulistiyanto dan Guru Besar Bidang Unggas Fakultas Peternakan Undip Dwi Sunarti saat berada di peternakan kalkun Desa Undaan Tengah, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, untuk memberikan | Sumber Foto:istimewa

AGRONET -  Usaha dari hobi memang sangat menyenangkan sekaligus bisa menguntungkan. Itulah yang dinikmati puluhan anggota komunitas Semarak Kalkun Kudus yang rata-rata telah menekuni dan merintis usahanya selama 12 tahun.

Berawal dari hobi, mereka kemudian mulai mengembangkan usaha ternak ayam kalkun karena ternyata kalkun yang awalnya dipelihara sebagai hobi, banyak diminati dan memiliki nilai jual yang tinggi.

Konsumen yang membeli kebanyakan datang dari luar kota Kudus, bahkan ada yang dari papua. Sebagian dari mereka adalah pemilik warung kuliner atau restoran.

Ketua Kelompok Semarak Kalkun Kudus, Didik Prabowo menjelaskan, kelompoknya sudah mulai menggeluti ternak ayam kalkun sejak tahun 2006 lalu. “Kini usaha ternak kalkun para anggota sudah berkembang pesat.  Saat ini jumlah kalkun peliharaan setiap peternak mencapai puluhan,” ujarnya. 

Prospek peternakan kalkun cukup bagus karena fertilitas dan daya tetas telurnya yang cukup tinggi. Tapi tentunya  harus didukung dengan asupan pakan protein dan penyubur benih sperma dari pejantan yang cukup tinggi.

Salah satu anggota Kelompok Semarak Kalkun Kudus, Ahmad Suyatno warga gang 3 Undaan Tengah, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus, mempunyai 40 pasang indukan ayam kalkun. Ayam kalkun peliharaannya tersebut dari berbagai jenis, ada Kalkun Bronze, Black Spanish Turkey, Pendilled palm, Golden Palm dan lainnya.

 “Saya lebih memilih berternak ayam kalkun ketimbang ayam kampung karena ternyata lebih mudah perawatannya, terutama soal pakan,” tuturnya

Lebih tahan penyakit, tidak membutuhkan banyak tenaga untuk pemeliharaan. Untuk pakan, Ia harus memberikan dua kali per hari. Yakni berupa dedak, bengok atau enceng gondok, konsentrat, dan sisa nasi. “Pakan ini harus diberikan ke kalkun setiap hari,” ujar pria yang kesehariannya menjadi satpam di salah satu kantor kementrian keuangan di Kudus.

“Modal yang diperlukan hanya untuk membeli dedak dan pur konsentrat. Sayuran seperti kangkung dan juga bengok atau enceng gondok banyak tumbuh di samping kandang, di belakang rumah.  Sumber protein untuk kalkun, kami tambahkan keong. Bisa dicincang, dijadikan makanan kalkun sehingga menekan biaya pakan,” tambahnya.

Terkait harga jual, ayam kalkun mempunyai harga jual yang  relatif mahal. Yakni Rp150 ribu hingga Rp1,5 juta, tergantung jenisnya. Selain itu, telur ayam kalkun juga dijual, mencapai Rp10 ribu per telurnya. “Kemudian ada hasil lain dari bulu. Bulu dari ayam kalkun bisa dijual untuk hiasan. Harga jual bulu kalkun diharga Rp1.500 sampai Rp2.000,” ungkapnya. 

Dalam 1 bulan, lanjut Suyatno, ia bisa menghasilkan 500 telur. Untuk resiko telur yang gagal menetas hanya 5%.  “Indukan ayam kalkun bisa terus menerus bertelur, saya memberikan pakan perangsang ayam indukan dari olahan sejumlah bahan seperti jahe merah, kunyit, hingga telur bebek,” terang peternak kalkun yang sebelumnya berkerja sebagai sopir itu.

Menurut Ketua Semarak Kalkun Kudus, Didik Prabowo, untuk omzet yang didapatkan peternak kalkun, bisa mencapai Rp7-8 juta setiap bulannya. "Itu masih perhitungan kotor, karena ada biaya pemeliharaan dan perawatan yang mencapai Rp2 juta," terangnya. 

Kini sudah ada ratusan peternak kalkun di Kudus, namun yang tergabung pada komunitas Semarak Kalkun Kudus baru 40-an, “Kami ingin di antara kami bisa menjalin kerjasama. Kami ingin merangkul sesama peternak kalkun yang belum tergabung,” ujarnya. (234)

BERITA TERKAIT