Komunitas Pecinta Burung Hantu Bantu Petani Basmi Hama Tikus

Sabtu, 20 Juli 2019, 21:18 WIB

Burung hantu jenis Serak Jawa merupakan pemburu tikus yang paling populer dan sangat handal . | Sumber Foto:Dok RCI

AGRONET -- Berawal dari keprihatinan melihat petani gagal panen akibat tanamannya diserbu hama tikus, Josefat Agung Sulistyo dan kawan kawan yang tergabung dalam Raptor Club Indonesia (RCI) terpanggil untuk membantu.

Raptor Club Indonesia merupakan organisasi beranggotakan para penggemar burung pemangsa (pemelihara maupun pemerhati) yang ikut prihatin pada nasib burung pemangsa di tanah air. Organisasi ini relatif baru, dirintis sejak tahun 2007 dan secara resmi berdiri pada 03 Juni tahun 2009 dengan menempati sekretariat di Kawasan Studi dan Konservasi Tyto Alba dusun Cancangan, Wukirsari, Kab. Sleman, Yogyakarta.

Mereka membantu petani memburu tikus dengan menempatkan predator alami tikus, burung hantu jenis Serak Jawa atau Tyto Alba Javanica ke lahan petani yang sering gagal panen akibat ulah hewan pengerat ini.

“Burung hantu merupakan musuh bebuyutan tikus dan kerap digunakan sebagai hewan pembasmi hama tikus di lahan pertanian. Sebagai predator alami, burung hantu jenis Serak Jawa merupakan pemburu yang paling populer dan sangat handal dibanding pemangsa yg lain seperti ular atau musang,” ujar Jose, di salah satu stan Pekan Daerah Kelompok Tani Nelayan Andalan  (PEDA KTNA) DIY tahun 2019 di Lapangan Purwobinangun, Kecamatan Pakem, Kabupaten Sleman, Jumat  (12/7/2019).

Kebiasaan tikus sawah mencari makan pada malam hari, klop dengan burung hantu yang juga beraktifitas pada malam hari. Dengan penglihatan yang sangat tajam burung hantu dapat melihat mangsa dari kejauhan, juga memiliki pendengaran yang sangat tajam mampu mendeteksi keberadaan tikus dalam jarak yang relatif jauh. Kepak sayap yang hampir tidak terdengar serta insting sebagai pemangsa menjadikan burung hantu predator yang layak diandalkan.

Menurut Jose caranya ini lebih baik dan ramah lingkungan. Selama ini para petani biasanya mengandalkan racun atau melakukan perburuan beramai-ramai untuk mengendalikan tikus, tetapi semakin lama populasi tikus justru semakin sulit dikendalikan dan mengakibatkan petani berkali-kali mengalami gagal panen. Bahkan kerusakan tanaman yang diakibatkan oleh tikus bisa mencapai seratus persen.

“Dalam sehari burung hantu sanggup makan tikus dewasa 1-2 ekor akan tetapi bila masih ada tikus hidup yang tersisa, burung hantu tak segan membantai tikus-tikus tersebut sampai habis,” ungkap Jose.

Di Raptor Club Indonesia, yang beranggotakan para pemelihara dan pemerhati burung pemangsa, mereka memfasilitasi masyarakat umum yang ingin mengajukan pendampingan atau pelatihan terkait dengan pelestarian burung pemangsa serta aplikasi di lapangan sebagai bentuk dukungan kepada petani dalam pengendalian hama  tikus.

“Kami senang dan bangga apabila yang kami lakukan ini bermanfaat bagi petani, maka pendampingan kami berikan secara gratis. Hanya dukungan warga saja yang kami butuhkan. Dari pengalaman yang sudah kami lakukan, burung hantu sangat efektif mengendalikan hama tikus. Memang hasilnya tidak instan, biarpun pelan tapi pasti dan sangat ramah lingkungan,” pungkas Jose.

Saat ini Raptor Club Indonesia  memiliki kawasan Study dan Konservasi Alam Tyto Alba di Dusun Cancangan, Desa Wukirsari, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman. Di sana, induk burung hantu bertelur 2-3 kali pertahun dengan jumlah 6-12 butir setiap kali bertelur dan dengan masa pengeraman 27-30 hari. Anak burung hantu mulai belajar terbang pada umur 2,5 bulan dan belajar berburu pada umur 3 bulan.(RCI/234)

BERITA TERKAIT