Forum Forikan Dukung Pemerintah Cegah Stunting

Sabtu, 31 Agustus 2019, 09:29 WIB

Rangkaian kegiatan Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Forikan yang diharapkan dapat memperkuat program pemerintah. | Sumber Foto: Humas KKP

AGRONET -- Program Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan (Gemarikan) telah mendapatkan dukungan dari segenap unsur lembaga/instansi pemerintah lintas sektoral, swasta, asosiasi perikanan, asosiasi profesi  dan lainya. Forum Peningkatan Konsumsi Ikan (Forikan) turut berperan sebagai inspirator, kreator, motivator, dan aktivator Program Gemarikan.

Forikan terbentuk sejak tahun 2006. Dalam perkembangannya telah terbentuk Forikan Daerah di 34 Provinsi dan 229 Kabupaten/Kota di seluruh Indonesia. Bahkan sampai saat ini keanggotaan Forikan sudah sampai ke lingkup kecamatan.

Untuk memperkuat program, Forikan selama 2 hari, 29-30 Agustus 2019, dengan difasilitasi Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melaksanakan Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas). Hasil Rakor ini diharapkan dapat memperkuat program KKP dalam rangka mendukung program nasional penanganan stunting dan program Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas).

Sekjen KKP merangkap Plt. Direktur Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP), Nilanto Perbowo, secara resmi membuka kegiatan pada 29 Agustus 2019 di Hotel Millennium Jakarta. Dalam Sambutannya ia menegaskan KKP selama tahun 2019 ini gencar melakukan kampanye Gemarikan untuk mendukung program nasional penanganan stunting di Indonesia.

Untuk itu, Nilanto berpesan kepada Forikan untuk dapat mendukung terwujudnya SDM Unggul untuk Indonesia Maju yang dicanangkan oleh Presiden Jokowi. Menurutnya, semua dimulai dari meja makan, dan ibu rumah tanggalah yang memegang keputusan penting dalam memilih dan mengolah bahan makanan yang akan disajikan sebagai bahan santapan keluarga.

“Saya mengajak kepada ibu-ibu para pengurus Forikan maupun TP PKK gencar mengkampanyekan kepada anggota atau jajarannya untuk terus mengupayakan agar ikan harus tetap ada di meka makan sepanjang masa, sepanjang waktu. Karena ikanlah sebagai sumber protein hewani terbaik untuk pemenuhan gizi keluarga,” tegas Nilanto.

Ketua Forikan Nasional, Djoko Maryono, menambahkan salah satu yang disasar untuk meningkatkan konsumsi ikan adalah kaum millenial yang mempunyai karakteristik sangat berbeda. "Untuk makanan kaum millenial konsepnya "ready to eat" dan untuk penyampaian informasi apapun harus lewat gadget. Untuk menyeimbangkan pengaruh gadget ini kita harus kembali ke budaya kembali meja makan ibu. Meja makan ibu adalah pengarahan gizi, pengarahan psikologi, dan edukasi untuk keluarga. Sehingga kemajuan bangsa ini kita mulai dari meja makan Ibu," ungkap Djoko.

Kegiatan Rakor diawali dengan penandatanganan Perjanjian Kerjasama antara Ditjen Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PSDPKP) KKP diwakili Direktur Pemasaran dan Dirut PT. Aruna Jaya Nuswantara tentang Penguatan Mutu dan Standar serta Peningkatan Akses Pasar Berbasis Platform Digital bagi Pelaku Usaha Perikanan. Kemudian penandatanganan Perjanjian Kerja sama tentang Program Nasional Gemarikan antara Ditjen PDSPKP dengan Wanita Persatuan Umat Islam (PUI), Himpunan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Anak Usia Dini Indonesia (Himpaudi), Perkumpulan Warga Tulang Sehat Indonesia (Perwatusi), dan Ikatan Pemberdayaan Pedagang Kecil Indonesia (IPPKINDO).

Turut hadir dalam acara ini Ketua Bidang III Tim Penggerak PKK Pusat, Hanifah Fery Mursyidan Baldan, serta Direktur Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat Kementerian Kesehatan, Riskiyana S. Putra. Turut hadir beberapa pimpinan organisasi terkait, antara lain Ketua Forikan dan Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Provinsi Jambi, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Jawa Timur, Sulawesi Utara, Sulawesi Tenggara, Nusa Tenggara Timur, dan Aceh. Kemudian, Direktur Utama PT Aruna Jaya Nuswantara (ARUNA), Ketua Umum Wanita Persatuan Umat Islam (PUI), Ketua Umum Perkumpulan Warga Tulang Sehat Indonesia (PERWATUSI), Ketua Umum Himpunan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Anak Usia Dini (HIMPAUDI), Ketua Ikatan Pemberdayaan Pedagang Kecil Indonesia (IPPKINDO), serta perwakilan Forikan Provinsi dan Kabupaten lainnya dan Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi.

Sebagai informasi, menurut Kementerian Kesehatan, stunting adalah kondisi gagal tumbuh akibat kekurangan gizi kronis dan stimulasi psikososial serta paparan infeksi berulang terutama dalam 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), yaitu dari janin hingga anak berusia dua tahun. Stunting yang terjadi pada 1.000 HPK tidak hanya menyebabkan hambatan pertumbuhan fisik dan meningkatkan kerentanan terhadap penyakit, tetapi juga mengancam perkembangan kognitif yang berpengaruh pada tingkat kecerdasan dan produktivitas anak di masa dewasanya. (591)