'Black Indonesia', Komunitas Hitam Tanpa Mistis

Kamis, 26 Oktober 2017, 10:33 WIB

Black Indonesia

AGRONET - Namanya Black Indonesia. Ini sama sekali bukan kelompok mistis. Ini komunitas pehobi ayam cemani.  Sebutan ‘black’ sengaja dipakai untuk mempertunjukkan ‘kehitamanan’ dan keindahan ayam cemani.  Mudie, ketua komunitas Black Indonesia, menegaskan, “Keberadaan kami di sini untuk memberikan informasi pada masyarakat, bahwa ayam cemani itu unik.”

Bermula dari interaksi di Facebook, Juni 2015 ‘Kelompok Hitam’ ini mulai dikelola dengan serius.  Taman Burung Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta menjadi basecamp ‘Kelompok Hitam’.  Pertemuan rutin bulanan diadakan di sana.

Sejak dibentuknya kepengurusan pada 28 Oktober 2016, Black Indonesia pertama kali mengadakan kontes di Blue Plaza Bekasi, Jawa Barat.  Kontes berlanjut dalam perayaan Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional November 2016.  Dengan rutin melaksanankan kegiatan, masyarakat mulai mengenal komunitas ini.     

Semarak Hari Ulang Tahun (HUT) TMII ke-42 semakin membuat Black Indonesia dikenal masyarakat.  Positifnya respon memantapkan aktivitas komunitas ini menjadi berskala nasional tidak hanya sekedar online.  “Kedepannya akan ada Black Indonesia cabang Tangerang, cabang Cianjur, dan daerah lainnya,” rinci Sam yang juga pengurus ‘Kelompok Hitam’ ini.

Banyak keuntungan bergabung dengan Black Indonesia.  Bagi pemain lama, hasil panen mereka akan banyak terjual.  Dumadi sudah merasakan keuntungannya.  Pasalnya, pengurus selalu aktif menginformasikan permintaan ayam cemani.  Jika konsumen berlokasi di Tangerang otomatis pengurus menghubungi Dumadi yang memiliki stok cemani cukup banyak.

Bukan hanya wilayah Tangerang, Black Indonesia juga merambah mancanegara.  Warga negara Amerika, Swedia, dan Turki sudah menjadi anggota.  Ayam cemani pun pernah diterbangkan ke negara Turki. Sakir, warga negara Turki yang memiliki perusahaan di Indonesia, berhasil menetaskan 10 ekor ayam cemani di negaranya. 

“Saya membeli lima belas butir telur ayam cemani,  lima ekor gagal menetas,” ujarnya.  Sampai saat ini, Sakir masih aktif berkomunikasi dengan para anggota lain via Facebook.  Tidak hanya Sakir yang berburu ayam cemani, ‘pemburuan’ juga dilakukan oleh Ririn, seorang ibu rumah tangga. Ririn sudah lama ingin memiliki ayam cemani. 

Beruntung Ia datang ke Jambore Peternakan Nasional 2017 di Cibubur, Jawa Barat. Di kesempatan yang sama Black Indonesia juga sedang mempromosikan ‘Kelompok Hitam’.  Merasa berjodoh dengan sepasang ayam cemani, Ririn pun membelinya.

Mengetahui bahwa kelompok ini merupakan wadah pencinta ayam cemani, Ririn langsung berminat untuk bergabung.  Informasi budidaya ayam cemani, penganan penyakit, dan tips perawatan agar ‘si hitam’ semakin unik pun Ririn dapatkan.

Semakin bertambahnya anggota membuat Mudie merasa bersyukur.  “Generasi muda mau mengembangkan ternak asli Indonesia dan membuktikan cemani ini unik bukan mistik,” jelasnya.  Pengembangan kualitas cemani pun terus dilakukan Black Indonesia. 

Kedepannya akan diadakan arisan agar masing-masing anggota memiliki ayam cemani Kualitas A.  Dengan adanya arisan ini setiap anggota memiliki ayam cemani dengan kualitas yang bagus.  Melihat pasar ayam cemani semakin lama semakin diminati.  Terutama pasar internasional.

“Di Amerika acam cemani yang berusia dua minggu, dihargai 2 juta rupiah,” terang Mudie.  Lamborghini Chicken, begitu warga Amerika menyebut  ayam asli Indonesia ini. Hitam yang jadi keunikan ayam cemani itulah bisnis yang ditangkap oleh komunitas Black Indonesia.  Buat mereka, urusan hitam jelas peluang dan sama sekali bukan mistis.(269)

BERITA TERKAIT