Komunas Genjot Popularitas Unggas Nasional

Kamis, 23 November 2017, 15:18 WIB

Komunitas Unggas Nasional | Sumber Foto:dok. Komunas

AGRONET - Komunitas Unggas Nasional (Komunas) genjor popularitas unggas nasioanal lewat event-event perunggasan.  Komunutas yang berawal lewat dunia maya, kini sudah bergerak di alam nyata.  Wilayah sebaran anggota komunas masih sekitar Jakarta Bogor Tanggerang Depok Bekasi (Jabodetabek).

Bertempat di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta pada 17 April 2016 Komunas resmi dibentuk.  “Teman-teman di media sosial berkeingina untuk melegalkan komunitas ini,” jelas Mustafa Kamal, Ketua Komunas.  Awalnya Mustafa hanya ingin mengadakan kontes untuk ayam hias saja.  Namun, dukungan rekan-rekan semakin memantapkannya untuk membentuk sebuah komunitas.

TMII sebagai basecamp para anggota komunitas. Pasalnya, selain tempat wisata, TMII juga memiliki tempat konservasi hewan.  Taman Bekisar yang kini dinamai Dunia Ayam Nusantara.  Tiap bulannya anggota komunas berkumpul di tempat ini.  Untuk kegiatan besar rutin diadakan 2 kali dalam setahun.

Dedi, salah seorang pengurus komunas menyebutkan, “Tugas Komunas membuat event-event ayam asli Indonesia.” Pesona Fauna Indonesia, Expo Unggas Nasional, Gebyar Unggas Nasional, dan Jambore Peternakan Indonesia adalah sederet event besar yang pernah komunas ikuti. 

Selain kegiatan besar, anggota komunas selalu kompak dan solit berbagi pengalaman dalam pemeliharaan unggas. Diskusi yang kerap hangat dibicarakan mulai dari pemeliharaan, pakan, penawan dan permintaan unggas, serta inseminasi buatan (kawin suntik). 

Kombo, salah seorang dokter hewan di TMII juga menjadi partner Komunas khususnya menangani kesehatan dan inseminasi buatan.  Meskipun para anggota komunas sudah memiliki resep tersendiri dalam menangani berbagai penyakit unggas, Kombo tanpa ragu ikut memberikan masukan tata cara pengobatan yang tepat.

Silaturahmi produktif yang hangat sering kali memberikan manfaat bagi para anggota.  Seperti informasi ternak unggul yang berada di daerah lain.  Ayam kate, misalnya.  Ras murni dengan kualitas unggul biasanya dipelihara oleh penghoby yang berada di desa-desa.  Tanpa ragu anggota Komunas ‘berburu’ ayam kate tersebut.

Ayam kate merupakan salah satu jenis ayam perioritas yang dipopulerkan Komunas.  Dulu, harga ayam kate sempat jatuh saat ayam serama booming dipasaran.  Komunas mengambil langkah membuat kontes ayam kate di TMII, baru 2 kali kontes harga ayam kate mulai meningkat. 

Berbekal dari kontes yang diadakan, kini Komunas sudah memiliki standarisasi ayam kate.  Ayam kate unggul memiliki jengger yang berdiri, bentuk ekor seperti pedang, dan sayap yang menggantung.  Selain ayam kate, pelestarian ayam hutan hijau pun dilakukan Komunas.  Bentuk tubuh yang kecil, serta suara yang nyaring menjadi ciri khas ayam hutan ini.

Jenis unggas lokal yang menjadi perioritas utama untuk diperioritaskan yakni ayam cemani.  Ayam Hitam unggas asli indonesia ini bukanlah ayam mistik.  Warnanya yang elegan menjadikan ayam ini bernilai jual tinggi.  Seperti halnya ayam cemani, ayam laga pun bernilai jual tinggi.

Komunas mencoba meubah persepesi ayam laga sebagai ayam aduan.  Ferry dan  Sutejo telah mempopularitaskan kontes ayam laga tanpa bertarung.  Sutejo menyebutkan “Kontesnya hanya di lihat keindahannya saja.”  Seperti tinju lah tajinya di bungkus, ronde di batasi, tambahnya. 

Ayam laga, Ayam cemani, Ayam Kate, dan Ayam Hutan Hijau adalah sebagain kecil unggas lokal yang kembali dipopularitaskan Komunas.  Komunas pun berharap komunitas ini dapat lebih diakui oleh pemerintah, sebagaimana komunitas ternak lainnya.  Dengan langkah kecil yang Komunas kerjakan menjadi langkah awal berkembangnya unggas nasional. (269)