PT Great Giant Pineapple Siap Bersaing di Era Industri 4.0

Sabtu, 01 Desember 2018, 13:02 WIB

Nanas dalam kaleng, produk andalan PT GPP menembus pasar ekspor | Sumber Foto:PT GPP

AGRONET--Memasuki era industri 4.0 sejumlah stategi telah dirancang dalam menghadapi persaingan global. Presiden Joko Widodo dalam acara penutupan Rapat Pimpinan Nasional Kadin Indonesia (29/11) mendorong para pengusaha memetakan peluang-peluang ekspor. Hal ini sejalan dengan gagasan yang dibuat oleh Kementerian Perindustrian Republik Indonesia (Kemenperin RI).

Salah satunya yakni membuat peta jalan “Making Indonesia 4.0”. Sekretariat Jenderal Kemenperin RI, Haris Munandar menyebutkan, “Melalui komitmen bersama pemerintah, swasta, dan publik, kami telah menyiapkan lima sektor manufaktur yang akan menjadi percontohan dalam memperkuat dasar sturktur industri di Indonesia.”

PT Great Giant Pineapple (GGP) menjadi salah satu industri percontohan dalam sektor makanan dan minuman. PT GGP merupakan produsen nanas segar dan kaleng terbesar kedua di dunia pada tahun 2017. Industri ini mampu meningkatkan nilai bahan baku lokal dan menyerap lebih dari 20 ribu tenaga kerja. Jika terintegrasi dengan lahan pertanian nanas milik petani yang menjadi mitra GGP, maka perusahaan ini menjadi perusahaan nanas terbesar di dunia.

Menteri Perindustrian, Airlangga Hartato saat lawatan ke PT GGP di Tebinggi, Lampung Tengah (23/11) menyebutkan, “GGP telah mengembangan lahan pertanian hingga 33 ribu hektar. Hal ini dapat mendukung tersedianya bahan baku yang nantinya akan meningkatkan nilai ekspor bidang pertanian.” Dalam satu tahun, nilai ekspor GGP mencapai 300 juta USD.

Sebanyak 12 ribu kontainer nanas kaleng dipasarkan ke lebih dari 60 negara. Guna memacu daya saingnya, PT GGP telah mendapatkan fasilitas subkontrak kawasan berikat yang baru diberikan pertama kali oleh pemerintah pada akhir maret lalu. Direktur Urusan Hubungan Pemerintah PT GGP, Welly Sugiono mengatakan, “Adanya fasilitas ini diharapkan mampu menekan faktor biaya produksi menjadi lebih efisien.“

Jika biaya produksi dapat ditekan, hasil panen kelompok tani dapat meningkat. Selain itu PT GGP juga telah menerapkan manajemen zero waste production dan membentuk ekosistem rantai pasok yang terintegrasi dari hulu ke hilir di seluruh rantai nilai usahanya. Apresiasi pun disampaikan oleh Direktur Industri Minuman, Hasil Tembakau, dan Bahan Penyegar Kemenperin, Abdul Rochim, “PT GGP memberi harapan besar untuk masa depan industri makan dan minuman nasional,” sebutnya.

Abdul Rochim menjelaskan bahwa pertumbuhan industri makanan dan minuman pada periode Januari hingga September 2018 telah meningkat 9,74 persen. Dengan nilai investasi Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) pada semester pertama tahun 2018 untuk sektor industri makanan mencapai Rp20,1 triliun dan industri minuman sebesar Rp1,3 triliun. Sedangkan, nilai investasi Penanaman Modal Asing (PMA) sektor industri makanan mencapai 498,07 juta USD dan sektor industri minuman sebesar 62,52 Juta USD. (269)

BERITA TERKAIT