Kemitraan Pertanian Berkelanjutan PISAgro

Jumat, 08 Pebruari 2019, 11:30 WIB

Kemitraan Pertanian Berkelanjutan PISAgro, Menjaga Ketahanan Pangan Nasional | Sumber Foto:Dok PISAgro

AGRONET -- Kementerian Pertanian (Kementan) dan Partnership for Indonesia Sustainable Agriculture (PISAgro) bersepakat untuk kerja sama membangun klaster pertanian di Indonesia. Kesepakatan itu guna percepatan pembangunan pertanian, terutama untuk peningkatan daya saing produk pertanian berkualitas ekspor.

Sekretaris Jenderal Kementan, Syukur Iwantoro yang memberikan sambutan saat pencanangan kerjasama tersebut akhir tahun lalu menegaskan, membangun pertanian tidak cukup hanya dilakukan pemerintah tetapi membutuhkan kerja sama dengan berbagai pemangku kepentingan. 

“Kementan siap mengkoordinasikan program dan kegiatannya agar bersinergi dengan kegiatan kemitraan yang telah dilakukan oleh perusahaan swasta termasuk dengan perusahaan yang tergabung dalam PISAgro,” ujar Syukur.

PISAgro, bermitra untuk pembangunan pertanian berkelanjutan

BERITA TERKAIT

Berawal dari pertemuan Forum Ekonomi Dunia tingkat Asia Timur di Jakarta, bulan Juni 2011, wakil Menteri Pertanian dan wakil Menteri Perdagangan Indonesia mencetuskan konsep wadah kemitraan pertanian yang berkelanjutan.  Wadah kemitraan publik-swasta ini bertujuan untuk mendukung Pemerintah dalam menjaga ketahanan pangan nasional. Cara yang ditempuh adalah dengan meningkatkan produksi komoditas pertanian secara berkelanjutan dan meningkatkan kesejahteraan petani kecil.

Pada tanggal 20 April 2012 dibentuk suatu program kemitraan bernama Partnership for Indonesia’s Sustainable Agriculture (PISAgro) atau Kemitraan Pertanian Berkelanjutan. Kemitraan yang beranggotakan instansi pemerintah, lembaga pendidikan dan pelatihan, perusahaan swasta nasional, perusahaan multinasional, lembaga keuangan, dan pihak luar negeri.

Di awal pembentukan PISAgro, ada 7 perusahaan multinasional yang menyambut baik dan mendukung program PISAgro. Ke 7 perusahaan inilah yang kemudian disebut sebagai Dewan Pendiri. Mereka adalah perusahaan Nestle, Sinarmas, Indofood, Unilever, Bayer Indonesia, Syngenta Indonesia dan Mc Kinsey Indonesia.

Visi kemitraan PISAgro adalah peningkatan 20% produksi pertanian, peningkatan 20% pendapatan petani, dan penurunan 20% gas rumah kaca dalam satu dekade. Peningkatan produksi dicapai dengan meningkatkan pengetahuan, menyediakan akses teknologi dan keuangan, serta memberi bibit unggul pada petani.

Untuk meningkatkan pendapatan, petani memperoleh pengikatan perjanjian standar untuk memastikan penyerapan hasil panen  serta meningkatkan pengetahuan pengolahan paska panen. Untuk menurunkan gas rumah kaca, diupayakan intensifikasi pertanian dan meningkatkan penggunaan lahan untuk mencegah penggundulan hutan.

PISAgro menargetkan bakal memperluas cakupan proyek dan petani binaan mereka pada tahun 2020. Tujuannya untuk meningkatkan produktivitas serta membantu akses industri pada bahan baku agrikultur.

Martini Indrawati, Direktur Eksekutif PISAgro

Martini Indrawati, Direktur Eksekutif PISAgro menyatakan saat ini jumlah petani binaan dalam lembaga berjumlah 400.000 per awal tahun 2018. Angka ini naik dari posisi tahun 2016 yang sebanyak 307.387 petani.

"Target besarnya pada tahun 2020 nanti akan ada satu juta petani binaan, caranya dengan memperbanyak kerjasama eksternal, kolaborasi dengan pemerintah, meningkatkan pembagian informasi pengalaman sukses," kata Martini kepada AGRONET.

Menurut Martini, kini jumlah perusahaan yang jadi anggota PISAgro telah menjadi 23 perusahaan dengan jumlah partner sebanyak 70.

Perusahaan yang terlibat antara lain Bayer Indonesia, Cargil Indonesia, Dow AgroSciences, Great Giant Pineapple, Indofood, Kirana Megatara, KIBIF, Louis Dreyfus Company, McKinsey & Company Indonesia, Nestle Indonesia, Rabobank Indonesia, Sinar Mas, Syngenta Indonesia, Unilever Indonesia, Yara Indonesia, Telkomsel, Koltiva, Bank BTPN, BNI, Bank Andara, BRI, BRI Agro, PTPN, sarana tani, IPB, UGM, BPR Pesisir Akbar, Kementerian Pertanian, Kementerian Pendidikan dan Budaya, Invivo Indonesia, Koperasi, Balai Insiminasi Buatan Singosari, PT Suryonusa Agromakmur, PT Triputra Agro Persada (TAP), Instiper, STIPAP Medan, LPP Yogyakarta Universitas Mataram, Tiga Pilar Sejahtera, Triputra Agro Persada, Indonesia Palm Oil Association (GAPKI), Bulog, Pemerintah Daerah, SPKS (Palm Oil Smallholders Union, Australian Government Department of Foreign Affair & Trade (DFAT), International Finance Corporation (IFC), Mercy Corps Indonesia, Sustainable Trade Initiative (IDH), Swisscontact, UTZ Certified, 8villages, Rainforest Alliance, Vasgam, Winrock International, Sregrip GIZ, Eragano, Kubota, dan Fice Vocational Highschool (SMKs).

Fokus bantuan PISAgro ini terdapat pada komoditas kakao, kopi, jagung, susu, hortikultur, minyak kelapa sawit, kentang, karet, kacang kedelai dan daging sapi.

Ada beberapa tantangan yang dihadapi dalam menjalankan program ini. Saat ini feeder perusahaan besar yang menjadi mitra dari PISAgro masih menjadi kendala. Akibat tingginya resiko usaha pertanian membuat perusahaan keuangan seperti perbankan dan asuransi masih enggan memberikan bantuan permodalan.

Di sisi lain, pemerintah memerlukan regulasi terkait dengan sertifikasi bibit. Saat ini masih banyak bibit berkualitas kurang baik. Ini menimbulkan kerugian yang cukup tinggi, terlebih jika bibit yang ditanam merupakan tanaman perkebunan, seperti kelapa sawit. Untuk memperluas skala pengembangan, masih diperlukan dialog antara PISAgro, Kementerian Koordinator, dan Kementerian sektoral.

Kegiatan ini telah memacu peningkatan produktivitas petani, peningkatan manajemen budidaya pertanian dengan GAP (Good Agricultural Practice), peningkatan pendapatan petani, dan akses kepada pasar yang lebih luas.

Untuk saat ini luas lahan yang berada di bawah penanganan PISAgro sejumlah 259.433 hektar. Targetnya tahun 2020 akan bertambah menjadi 2 juta ha.

Realisasi investasi dengan pola kemitraan diharapkan memudahkan usaha petani, karena selama ini petani terkendala dengan akses permodalan dan kesulitan memperoleh harga yang pantas di pasar saat musim panen.

Kelompok Kerja Pemberdayaan

Pada tahun 2018 PISAgro membentuk 12 kelompok kerja (working group). Sepuluh grup mengelola sepuluh komoditas, satu grup sebagai lembaga keuangan, dan satu sebagai lembaga pelatihan. Sepuluh komoditas yang menjadi fokus adalah coklat, kopi, jagung, susu, tanaman hortikultur, kelapa sawit, kentang, karet, kedelai, dan penggemukan sapi.

Setiap kelompok kerja bertugas mengembangkan rantai nilai (value chain) dan memetakan rencana kerja untuk masing-masing komoditas. Ini mencakup kebutuhan pokok produksi, target produksi, target pelatihan, dan jangka waktu proyek. Setiap kelompok kerja membuat satu proyek percontohan yang melibatkan mitra kerja. Dalam pelaksanaannya, proyek  percontohan tersebut akan mengaplikasikan rantai nilai berupa pelatihan manajemen budidaya untuk mengakses pembiayaan dan pasar.

Hingga saat ini PISAgro telah menandatangani nota kesepahaman dengan lembaga keuangan BRI Agro dan BPDP-KS untuk memberikan akses keuangan kepada petani sawit dalam mendukung program replanting. Para pemangku kepentingan setuju mendukung 750 petani dalam 12 bulan pada lahan seluas 1.500 hektar. Dari kerjasama ini diharapkan visi PISAgro 20-20-20 dapat sampai pada para pemangku kepentingan untuk meningkatkan feeder kepada petani.

PISAgro juga berpartisipasi dalam studi lapangan Grow Asia, proyek kopi keberlanjutan yang dipimpin Nestle Indonesia di Lampung. Hasil studi lapangan menunjukkan keberhasilan kemitraan antara petani dengan para pemangku kepentingan dalam pengembangan produktifitas petani kopi di Tanggamus, Lampung.

Salah satu contoh keberhasilan PISAgro tampak dalam kegiatan kelompok kerja jagung. Dengan luas lahan yang berhasil ditingkatkan dari 1,5 hektar menjadi 2 hektare, produksi meningkat dari 8 ton per hektar menjadi 8,5 ton per hektar. Intervensi dilakukan dengan cara meningkatkan akses pembiayaan dan layanan keuangan, pemanfaatan akses bibit jagung hibrida, penyediaan teknologi, hingga akses pasar. Ujungnya pendapatan bersih petani meroket, dari Rp 6,4 juta menjadi hampir tiga kali lipat, yaitu sebesar Rp 17,5 juta.

Salah satu pilot project yang sudah dilaksanakan melalui Monsanto yaitu, pemberdayaan 100 petani di Mojokerto-Jawa Timur di lahan seluas 50 hektar. Sedangkan Syngenta menjalankan program kemitraanya di Dompu-Nusa Tenggara Timur dengan melibatkan 150 petani jagung.

Untuk pengembangan komoditas lain, seperti kelapa sawit, karet, kakao dan produk horti, PIS Agro juga menyiapkan investasi sebesar Rp 233 miliar yang merupakan komitmen investasi dari beberapa perusahaan multinasional lain dengan menggandeng Bank Mandiri dan McKinsey Indonesia.

Beberapa perusahaan yang tergabung dalam PISAgro telah merintis kemitraan dengan para petani. Di antaranya untuk pengembangan komoditas kopi di Tanggamus (Lampung), kakao di Luwu Raya (Sulsel), karet di Jambi, kedelai di Banyuwangi (Jawa Timur), kentang di Jawa dan Sumatera, dan sapi perah di Jawa Timur. 

Kegiatan PISAgro sangat berpotensi untuk direplikasi ke wilayah lain. Melalui kemitraan yang dibangun melalui PISAgro, diharapkan petani, peternak, dan nelayan mampu meningkatkan kapasitas usaha dan mendapatkan akses pasar, baik lokal maupun internasional. Rantai nilai yang selama ini dianggap terlalu panjang, yang selalu menjerat petani, diharapkan dapat dipangkas dengan kemitraan yang dibangun oleh PIS Agro dan mitra-mitranya.

Fokus Pengembangan SDM Pertanian

Martini mengatakan, pentingnya pendidikan vokasi untuk pengembangan SDM Pertanian yang akan mendukung keberlanjutan pertanian yang menjadi masalah saat ini. Pencanangan kerja sama PISAgro dengan Kementerian Pertanian untuk menguatkan pembangunan SDM di 7 Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) akhir tahun lalu adalah salah satu bentuk komitmen PISAgro.

"Dengan lahan yang semakin sempit dan berkurangnya petani, tentunya penyiapan SDM Pertanian oleh Polbangtan dapat menjadi jawaban," katanya. Lebih lanjut dikatakan, ke depannya akan diadakan pendampingan oleh PISAgro dengan memberikan pendidikan melalui kuliah umum.

"Perusahaan yang akan memberikan kuliah umum ke siswa/mahasiswa, dibuat schedule, dilakukan pemantauan dan melihat potensi yang bisa dikerjasamakan, beberapa perusahaan dan tim kerja vokasi memberikan program terkait kebutuhan perusahaan." beber Martini mewakili PISAgro.(234)

BERITA TERKAIT