PT CRAC, Membawa Ikan Tuna Indonesia Merajai Dunia

Kamis, 02 Mei 2019, 09:15 WIB

Ekspor Ikan tuna RI sukses merajai dunia. | Sumber Foto:kemenperin go id

AGRONET -- Industri perikanan Indonesia meraih pencapaian baru menyusul upaya pemerintah untuk meningkatkan pasokan, melindungi mata pencaharian nelayan, dan melarang kapal asing

Kabar menggembirakan datang dari PT Citraraja Ampat Canning (CRAC), perusahaan perikanan tuna sirip kuning berbasis kapal perikanan gandar (pole and line). berhasil mengantongi sertifikasi standar emas oleh Marine Stewardship Council (MSC), lembaga swadaya internasional yang menetapkan standar untuk perikanan berkelanjutan di seluruh dunia. 

MSC memberikan sertifikasi ini pada 22 November 2018 lalu, dan menjadikan perusahaan yang berbasis di Sorong, Papua Barat ini yang pertama yang mendapat sertifikasi untuk praktik perikanan berkelanjutan di Indonesia dan yang kedua di Asia Tenggara. Adanya sertifikat MSC semakin menguatkan produksi ikan tuna dari Indonesia di pasaran dunia. Kualitas ekspor ikan tuna makin meningkat dan mampu menjadi terbaik. 

Peluang untuk dilirik di pasar ekspor kian terbuka. Sebut saja pengecer terbesar Sainsbury dan Swiss di Inggris, Migros termasuk perusahaan-perusahaan yang telah berkomitmen pada sumber produk-produk perikanan bersertifikat. 

MSC sebagai melindungi mata pencaharian, pasokan pangan laut, dan menjaga kelestarian lautan yang sehat untuk generasi mendatang. PT Citraraja Ampat Canning yang berbasis di Sorong, Papua Barat merupakan perusahaan perikanan tuna pertama yang mendapat sertifikasi untuk praktik perikanan berkelanjutan di Indonesia, juga di Asia Tenggara. 

Sertifikat MSC Eco-Label termasuk bagian dari peluang pemanfaatan pasar internasional melalui pelaksanaan Fisheries Improvement Program (FIP). Program ini bertujuan mempercepat tercapainya pengelolaan stok sumber daya tuna yang berkelanjutan. 

“Kita bersyukur bahwa satu perusahaan kita di Sorong, yaitu PT Citra Raja Ampat telah mendapatkan Sertifkat MSC-Eco Label. Diharapkan sertifikat ini dapat membuka akses jalan bagi perusahaan perikanan tuna lainnya untuk memperoleh sertifikat yang sama. Sertifikat juga tidak hanya menjadi pengakuan internasional, tetapi di beberapa negara lain dapat meningkatkan keuntungan pasar sebesar 16 persen,” kata Direktur Jenderal Perikanan Tangkap Kementerian Kelautan dan Perikanan RI, M Zulficar Mochtar. 

“Upaya yang dilakukan oleh perusahaan untuk mencapai sertifikasi MSC akan membantu melindungi mata pencaharian, pasokan makanan laut, dan lautan yang sehat untuk generasi mendatang,” kata Patrick Caleo, direktur Asia Pasifik di MSC, seperti dikutip The Guardian.

“Kami berharap perikanan lain mengikuti jejak PT CRAC dengan bergabung dengan gerakan global untuk keberlanjutan makanan laut,” lanjutnya.

Status baru CRAC akan menciptakan peluang baru di pasar ekspor. Pengecer terbesar Sainsbury dan Swiss di Inggris, Migros, adalah di antara perusahaan-perusahaan yang telah berkomitmen pada sumber preferensial produk-produk perikanan gandar bersertifikat.

CEO PT CRAC, Ali Wibisono mengatakan perusahaan telah menerapkan praktik berkelanjutan sejak didirikan pada tahun 1975. Adapun penangkapan ikan dengan kapal pole and line telah dilakukan di Indonesia selama beberapa generasi.

Namun, untuk memenuhi standar internasional, perlu untuk mengumpulkan data yang luas, menerapkan program pengamat di kapal untuk melaporkan hasil tangkapan tuna dan ikan umpan serta interaksi dengan spesies yang rentan.

“Dengan memiliki sertifikasi tersebut merupakan momen yang membanggakan dan benar-benar meningkatkan kehadiran kita. Ini adalah tonggak penting bagi negara, tetapi keberlanjutan sumber daya lebih dari segalanya,” ungkap Ali kepada The Guardian.

 “Perikanan kami juga sangat penting bagi masyarakat Indonesia, karena menyediakan banyak lapangan pekerjaan, makanan, dan mata pencaharian pendukung,” lanjutnya.

PT CRAC memiliki 35 kapal pole and line dengan total pekerja mencapai 750 orang. Dia mengatakan 25?ri tuna yang ditangkap akan dijual ke pasar lokal sementara masing-masing dari 750 nelayan akan membawa sebagian hasil tangkapan ke rumah untuk keluarga mereka.

Ali menambahkan, “Sertifikasi juga akan meningkatkan reputasi produk Sorong di pasar ekspor serta memiliki dampak positif pada pasar tenaga kerja lokal. Akan ada peluang kerja bagi para nelayan kapal pole and line serta para pekerja di pabrik ikan Sorong. Ini akan menarik perikanan dengan kapal selain pole and line untuk mengikuti langkah kami dan meningkatkan perputaran ekonomi di wilayah ini.”

Secara global, perikanan tuna memiliki nilai lebih dari US$40 miliar (Rp560 triliun miliar) tiap tahunnya, sehingga pelestarian spesies ini penting untuk mempertahankan ekosistem laut dan masyarakat pesisir yang mengandalkan industri ini untuk makanan dan pendapatan.

Indonesia menjadi negara penghasil tuna terbesar di dunia dengan total ikan yang didaratkan lebih dari 620.000 metrik ton pada 2014, menurut data terbaru yang diterbitkan oleh Pew Charitable Trusts.

Mayoritas tuna yang didaratkan di seluruh dunia diambil oleh kapal kapal dengan jaring pukat cincin untuk menangkap sekelompok ikan, terutama ikan cakalang dan tuna sirip kuning.

Meskipun nelayan pukat cincin yang beroperasi di zona ekonomi Indonesia mencatat hasil tangkapan terbesar, dampak lingkungannya jauh lebih besar daripada kapal pole and line yang jumlahnya mencapai 50.000 metrik ton per tahun, menurut perkiraan pemerintah.

Di masa lalu, mayoritas nelayan Indonesia menggunakan kapal kecil yang beroperasi tanpa manajemen yang tepat, tetapi langkah-langkah yang diambil oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan mulai membuahkan hasil, ungkap managing director International Pole & Line Foundation (IPNLF), Martin Purves.

"Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti telah memimpin dunia dalam hal menangani penangkapan ikan ilegal di Indonesia, Salah satu upayanya termasuk usaha penyitaan kapal atau penghancuran kapal ilegal. Selain itu, ada banyak hal yang dilakukan untuk meningkatkan kerangka kerja legislatif dan transparansi," ungkapnya.(234)

BERITA TERKAIT