PT MEU, Membawa Manggis Cibolang Terbang ke Tiongkok

Selasa, 21 Mei 2019, 10:19 WIB

Direktur Operasional PT. Manggis Elok, Ihsan berjabat tangan dengan Mentan Andi Amran Sulaiman saat launching buah manggis ke Tiongkok, akhir Februari lalu. | Sumber Foto:Dok Kementan

AGRONET -- Sukabumi  kini juga dikenal  hingga mancanegara  karena buah manggisnya. Bupati Sukabumi, Marwan Hamami yang baru tiga tahun menjabat telah berhasil mendongkrak produksi  dan kualitas manggis Sukabumi  sehingga mampu bersaing di pasar internasional.

Sukabumi merupakan salah satu sentra pertanaman manggis di Jawa Barat, bersanding dengan sentra lainnya dari Sumatera Barat, Jawa Timur, Bali, NTB maupun Banten.

Adalah PT Manggis Elok Utama, perusahaan yang berlokasi di Desa Cibolang, Cisaat, Sukabumi yang  berperan sehingga Sukabumi berhasil mengekspor buah manggis,  hasil pertaniannya sampai ke Tiongkok dan Vietnam.  Awal tahun 2019 ini  manggis yang diekspor PT Manggis Elok Utama sebanyak 933 ton dengan nilai mencapai Rp2,76 miliar.   

"Ekspor manggis ke Tiongkok rata-rata 500 kontainer per musim. Satu kontainer biasanya 18-20 ton," ujar Direktur Operasional PT. Manggis Elok Utama, Ichsan.

Ia menyatakan bahwa  seluruh manggis yang diekspor tersebut merupakan hasil kemitraan dengan delapan kelompok tani di Sukabumi. 

Ekspor manggis ke Tiongkok tak ada kuotanya. Artinya, berapapun banyaknya manggis yang diekspor bisa masuk ke negara tersebut. "Tiongkok memang salah satu pasar yang sangat prospektif.  Dengan volume ekspor 300-400 ton/ musim," papar Ichsan.

Selain ke Tiongkok, PT Manggis Elok Utama juga mengekspor manggis ke Australia dan Singapura. Menurut Ichsan, Australia dan Singapura memang termasuk pasar ekspor yang potensial, namun pasar Tiongkok lebih memiliki kepastian karena tidak ada batasan kuantitas ekspor. "Misalnya rata-rata perbandingan kalau ekspor ke Australia hanya 1 ton, sedangkan pendapatan kita sampai 10 ton per hari. Ke Tiongkok tidak ada batasan, sehingga berapa pun ada barang, langsung kami kirim," ujar ichsan kembali.

Walaupun masih kalah bersaing dengan Thailand, terutama terkait harga, tidak membuat keyakinan dan kepercayaaan diri dari PT Manggis Elok Utama turun. Manggis yang diekspor dari PT Manggis Elok Utama merupakan Manggis pilihan dengan kualitas tinggi, jadi tak perlu takut menurutnya.

"Kalau harga sih kita fluktuatif, biasanya dihargai Rp15.000 hingga Rp20.000. Tergantung kondisi pasar sebenarnya. Kebetulan saat ini lagi ada Thailand juga masuk ke Tiongkok, jadi harga tidak terlalu tinggi. Kalau misalnya musim panen di Thailand sudah habis, biasanya harga jadi baik," jelasnya.

“Buah manggis tanah air tak kalah kualitasnya dengan produk negara lain, Kita hanya kalah di operasional dan jarak. Kalau barang kita nyampai Tiongkok 13 hari. Thailand hanya hitungan hari, ya paling tiga hari sudah sampai di pasar," sambung Ichsan.

Ichsan memuji kebijakan Manteri Pertanian (Mentan) Andi Sulaiman yang telah memberikan kemudahan pengurusan izin ekspor.  Tidak lagi memakan waktu berbulan-bulan.

"Perijinan sudah tidak lagi masalah. Hambatan kita sekarang adalah mengedukasi petani, bagaimana cara meningkatkan produksinya lebih baik," katanya.

Buah manggis siap ekspor dari Sukabumi masih akan terus berlangsung hingga bulan Juli. "Biasanya ekspor kita berjalan dari bulan Oktober hingga April, tapi sekarang hingga Juli," tutur Ichsan.

Data Badan Pusat Statistik menunjukkan, volume ekspor manggis pada 2018 sebesar 38.830 ton, naik 324 persen dibandingkan 2017 yang hanya 9.167 ton. Nilai ekspor manggis sepanjang 2018 mencapai Rp474 miliar naik 778 persen dibandingkan 2017 Rp54 miliar. 

Meningkatnya jumlah ekspor iitu karena pemerintah membuat regulasi dan tentunya terus berkomunikasi dengan negara tujuan ekspor agar produk pertanian dari Indonesia bisa diterima langsung tanpa harus singgah ke negara lain. (234)