'Merah Putih’ Slamet Sang Raja Puyuh

Minggu, 28 Januari 2018, 21:55 WIB

Slamet Wuryadi, ingin mengembangkan puyuh di Indonesia

AGRONET – “Puyuh itu unggas merah putih, unggas lokal asli Indonesia. Kalau (peternakan) puyuh berkembang, rakyat akan makmur dan sehat.”  Itu bukan kata-kata politisi. Itu ucapan seorang peternak puyuh di Cikembar, Sukabumi, Jawa Barat. Siapa lagi peternak itu kalau bukan Slamet Wuryadi yang juga dikenal sebagai Raja Puyuh Indonesia.

Buat Slamet, ucapannya tersebut bukan basa-basi. Ia sudah membuktikannya secara nyata bagaimana puyuh telah mengubah jalan hidupnya. Juga mengubah jalan hidup banyak orang lain. Maka ia bukan hanya beternak puyuh. Ia juga tak lelah mengajak orang lain untuk memelihara unggas kecil yang sangat menguntungkan itu. Menurutnya, Indonesia perlu lebih banyak lagi peternak puyuh.

Pandangan Slamet itu tak lepas dari pengalamannya sendiri. Lulus SMA di Jepara, Jawa Tengah, ia hijrah ke Bogor untuk kuliah di Institut Pertanian Bogor. "Bekal saya restu ibu dan empat potong baju,”  katanya, mengenang. Kuliah inilah yang mengantarkannya ke dunia peternakan dan bukan dunia ukir mengukir seperti banyak dilakukan banyak warga Jepara lain.

Bekerja di korporasi peternakan Sierad, menjadi awal kariernya selepas kuliah. Kemudian ia mendapat kesempatan penting untuk menguasai ilmu dan praktik budi daya puyuh saat dipercaya menjadi manajer PT Golden Quail Farm, sebuah peternakan puyuh terbesar di Asia yang berada di Sukabumi. Inilah awal baginya untuk berkiprah di Sukabumi walaupun ia tak lagi bekerja di perusahaan itu.

Berbekal pengalamannya tersebut, Slamet pun menapaki hidup baru sebagai peternak puyuh di Cikembar Sukabumi. “Saya memulai dari nol,” katanya mengenang awal memulai usahanya. Itulah salah satu kelebihan dari beternak puyuh. Yakni dapat dimulai dengan modal sangat kecil. Hal yang praktis untuk dicoba bagi siapa pun.

Ternak puyuh yang dikembangkan Slamet pun cepat berkembang. Menurutnya, hal itu terjadi pertama-tama karena beternak puyuh memang mudah. Kedua, dengan ilmu yang dimilikinya sejak dari kampus maupun saat bekerja sebelumnya, ia terus mengkaji dan meneliti agar usahanya makin efisien. Salah satu penelitian terpentingnya adalah pemuliaan mutu genetik puyuh yang dipeliharanya.

Untuk menyebarluaskan budi daya puyuh, Slamet pun membentuk kelompok tani pada 2002. Ia dipilih menjadi ketuanya. Selain itu, ia pun membangun PT Slamet Quail Farm, yang kini tumbuh menjadi salah satu peternakan puyuh terbesar di Indonesia. Dari sana, ia mampu merumuskan apa yang disebutnya sebagai SOP (standard operating procedure) untuk memelihara puyuh secara efisien. Sebuah temuan yang ia patenkan. Tapi ia berikan gratis SOP itu pada siapa pun yang belajar ternak puyuh padanya.

Slamet menyebut, bahwa beternak puyuh itu "rakyat banget.”  Siapa saja dapat beternak puyuh, dan tidak harus pengusaha besar. Telur puyuh, disebutnya sebagai sumber gizi yang murah meriah bagi masyarakat. Hampir di setiap terminal bus, telur puyuh menjadi semacam jualan wajib para pengasong sebagaimana tahu goreng. "Bergizi, murah, dan bikin kenyang,” kata Sudarmi, seorang nenek yang biasa membelikan telur puyuh rebus untuk cucunya.

Karena itu, Slamet pun menjuluki ternak puyuh sebagai 'mutiara terpendam’ Indonesia. Begitu terpendamnya hingga puyuh hampir tidak pernah muncul di berbagai pameran besar industri peternakan. Padahal, kata Slamet, di antara usaha peternakan lainnya, titik impas atau BEP usaha puyuh termasuk paling cepat. Secara umum, titik impas beternak puyuh dapat tercapai kurang dari dua tahun.

Berbagai upaya ia lakukan untuk mempromosikan puyuh. Di antaranya adalah dengan membuat pemecahan rekor konsumsi serentak telur puyuh. Pada 2016, ia menyiapkan 330 ribu telur puyuh untuk dikonsumsi para pelajar. Rekor dunia makan telur puyuh pun terpecahkan. Ia juga membina berbagai kalangan untuk berusaha ternak puyuh. Di antaranya adalah kelompok ibu purna TKI di Sukabumi yang kini menikmati hidup dengan beternak unggas 'blirik’ itu.

Usaha ternak puyuhnya juga menjangkau para perempuan kepala keluarga di Sukabumi. Melalui kelompok yang dibentuknya, mereka pun mengembangkan berbagai makanan olahan berbasis daging maupun telur puyuh. Di antaranya adalah bakso puyuh, telur puyuh asin, abon puyuh, hingga 'steak’ puyuh. Dalam sebuah lomba tingkat provinsi Jawa Barat, bakso puyuh yang mereka kembangkan berhasil meraih juara pertama.

Perlahan tapi pasti, pengakuan upaya Slamet mengampanyekan puyuh pun menguat. Undangan demi undangan berdatangan padanya untuk mengajarkan usaha ternak puyuh.  Bahkan ia pun diundang ke berbagai negara berkaitan dengan pengembangan puyuh, seperti ke Brunei, Korea Selatan, bahkan juga Kenya.  Suatu waktu ia diundang bersama keluarga oleh seorang pengusaha Malaysia, diminta untuk mengembangkan puyuh di sana. Ia ditawari menjadi CEO-nya.

Tentu Slamet menolak. "Saya ingin mengembangkan puyuh di Indonesia dengan semua kalangan masyarakat,” katanya. Ia sama sekali tidak khawatir banyaknya orang yang beternak puyuh akan mengancam usahanya sendiri. Hal tersebut menurutnya karena produksi sekarang baru mampu memasok sekitar 15 persen dari kebutuhan telur puyuh nasional. Ia mengaku masih siap menampung berapa pun telur puyuh yang diproduksi masyarakat.

Untuk menyebarluaskan ilmu perpuyuhan, Slamet juga mengembangkan 'pondok wisausaha’. Mahasiswa dari berbagai wilayah di Indonesia banyak magang di tempatnya. Begitu juga orang-orang yang yang mau belajar beternak puyuh. Kriswiyanto, manajer pondok wirausaha tersebut, menjelaskan bahwa pihaknya siap membantu siapa pun dengan modal berapa pun untuk memulai usaha puyuh. "Kami akan berikan masukan, bagaimana sebaiknya memulai sesuai kondisinya masing-masing,” katanya.

Hal itu sejalan dengan upaya Slamet untuk memasyarakatkan puyuh seluas-seluasnya di Indonesia. Ia ingin membuktikan, bahwa ternak puyuh, yang sering dianggap kurang bergengsi di industri peternakan ini, justru merupakan usaha ternak yang paling pas buat masyarakat umum. Antusiasme ribuan guru SD dan madrasah untuk belajar puyuh padanya sangat menggembirakannya. Apalagi sambutan dari industri pangan yang makin perhatian terhadap produk puyuh. Slamet Quail Farm saat ini setidaknya memasok 4 juta butir telur puyuh hanya pada sebuah industri mie instan, untuk memenuhi produksi mie telur puyuh balado. Belum lagi pasokan ke berbagai usaha lainnya.

Sukses telah diraih Slamet Wuryadi melalui peternakan puyuhnya. Penghargaan demi penghargaan terus diraihnya. Tak hanya di tingkat Sukabumi, namun juga di pronvinsi, dan bahkan secara nasional. Dalam peringatan Hari Pangan se-Dunia yang digelar di Bandung 2013, Slamet dinobatkan sebagai Pelopor Ketahanan Pangan. Setahun kemudian, pada 2014, ia memperoleh penghargaan Nastiti Budidaya Satwa dalam acara yang disaksikan oleh delegasi dari 45 negara. Pada tahun 2015, ia diundang Presiden Joko Widodo untuk menerima Penghargaan Adhikarya Pangan Nusantara.

Meskipun sukses telah diraih dan ia telah menjadi milyuner, Slamet merasa perlu untuk terus menambah ilmu. Ia pun melanjutkan studi pasca sarjananya ke Universitas Wiyana Mukti , Sumedang, yang menjadi bagian dari salah satu lembaga pendidikan pertanian tertua di Indonesia, sebelum kemudian menempuh program doktoralnya di IPB.

“Saya ingin menjadi profesor puyuh,” katanya sambil tersenyum. Ia ingin seluruh bangsa ini mencintai puyuh dengan cara mengonsumsi produksnya serta ikut membudidayakannya karena puyuh memang sungguh ternak 'merah-putih’ Indonesia. (312)

BERITA TERKAIT