Agus Purwito Mimpikan Ekspor Buah Indonesia

Minggu, 11 Pebruari 2018, 23:41 WIB

Wakil Rektor IPB, Dr Ir Agus Purwito MSc. Agr

AGRONET-Cita-citanya semula menjadi seorang peneliti. Bergelut di lingkungan laboratorium merupakan dambaannya sejak dulu. Namun, harapan itu ternyata terus berkembang dan membawanya ke arah lingkungan yang berbeda.

Faktor lingkungan dan pergaulan ikut berpengaruh dalam perjalanan hidupnya. Apalagi, teman-teman dan koleganya menilai, ia memiliki jiwa kepemimpinan yang tinggi. Itu sebabnya teman-temannya mendorong untuk memanfaatkan juga kelebihan yang dimiliki tersebut.

Dr Ir Agus Purwito MSc. Agr, nama pria itu, memulai langkah untuk menapaki masa depannya dengan menjadi dosen pada Institut Pertanian Bogor (IPB) pada 1987, setelah lulus dari Departemen Agronomi IPB. Ia lalu menempuh pendidikan master di Universitas Gottingen, Jerman dengan konsentrasi kultur jaringan. Jenjang S3 dia selesaikan di IPB dalam bidang bioteknologi dan kultur jaringan. Dunianya memang tak jauh dari perkebunan, buah-buahan, tanaman hias, hortikutura, serta bioteknologi.

Kariernya sebagai staf pengajar di IPB terus berkembang. Ia pernah menjadi kepala bagian, sekretaris eksekutif rektor, serta kepala kantor manajemen mutu. Pria berusia 54 tahun itu juga dua kali menjabat sebagai kepala Departemen Agronomi dan Hortikultura Fakultas Pertanian (Faperta) IPB. Saat itu pula, tahun 2013, Agus terpilh sebagai ketua program studi berprestasi peringkat 1 nasional. Agus lalu menjabat sebagai dekan di fakultas yang sama. Di masa kepemimpinannya, Faperta IPB mendapat anugerah ISO (International Organization for Standardization) manajemen dan ISO laboratorium.

Meski telah memikul seabrek posisi dan berprestasi, dia senantiasa berpenamplan sederhana. Bahkan, ia tetap merendah saat disinggung posisinya yang kian memiliki tanggung jawab besar. “Tugas utama saya dalam semua jabatan yang saya tekuni adalah membantu orang-orang hebat,” tuturnya beberapa waktu lalu.

Dia memiliki prinsip hidup yang tidak muluk-muluk dalam menempuh kariernya. “Mulailah dari yang kecil. Jangan menuda pekerjaan dan selalu menjaga kebersamaan,” paparnya. Itulah yang sekaligus menjadi visinya.

Dia mengutarakan, faperta akan selalu menjadi fokus utama masyarakat dalam bidang pertanian. “Saat orang membahas pertanian, pasti yang jadi perhatian utama adalah soal tanaman.  Itu otomatis,” tuturnya.

Hal itu menjadi tugas utama fakultas pertanian untuk mengambil peran lebih optimal. Fungsi faperta yang paling penting, kata Agus, adalah meningkatkan kulitas dan kuantitas produksi, mengendalikan hama dan penyakit tanaman, serta memastikan apakah ungsi tanah sudah sesuai denngan kebutuhan tanaman,” jelas dia.

Sekarang ini, Faperta IPB telah menjadi rujukan nasional pertanian. Fakultas ini juga banyak membuat program-program di Kementerian Pertanian. Faperta IPB terus gencar melakukan kampanye makan buah nasional, termasuk mengadakan Festival Bunga dan Buah Nusantara (FBBN) selama tiga tahun terus-menerus. Akhrinya pemerintah mengambil kegiatan ini sebagai Fruit Indonesia sejak 2016. “Kami ingin agar Indonesia menjadi pengekspor buah-buahan Nusantara terbesar pada 2045,” ungkapnya.

Belum dua pekan ini Agus juga mengemban amanat baru. Majelis Wali Amanat (MWA) IPB melantiknya sebagai wakil rektor IPB  bidang sumber daya, perencanaan, dan keuangan. Tentu tugas dan tanggung jawabnya kian berat. Agus mendapat tugas khusus pula untuk trus meningkatkan tata kelola perguruan tinggi atau good university governance (GUG).

Tata kelola di IPB, kata dia, harus ditingkatkan terkait transparansi, akuntabilitas, kepatuhan terhadap peraturan-perundangan, kesadaran, dan responsibilitas. Agus menjelaskan, GUG ini memiliki peran penting karena ini merupakan tuntutan perguruan tinggi, pemerintah, dan masyarakat,” ujarnya.

Untuk bagian perencanaan, ia akan terus meningkatkan keterlibatan dari seluruh unit di IPB. Perencanaan yang bersifat dari bawah akan terus didorong supaya rencana-rencana yang tercipta bukan hanya milik tiap unit tetapi memang perencanaan seluruh IPB. Hal ini akan menjadi perhatian IPB untuk jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panang.

Program lain yang menjadi perhatian adalah peningkatan kesejahteraan.  Dalam era transparansi dan akuntabilitas ini, paparnya, sumbangsih dan pemikiran semua pihak bisa menjadi masukan untuk peningkatan kesejahteraan bagi lembaga atau personel yang bersangkutan.

Agus memiliki pemikiran untuk memberikan kewenangan lebih kepada fakultas sehingga gairah unit untuk mengembangkan diri bisa menjadi lebih besar. “Salah satu kegiatan penting lainnya adalah imeningkatkan teknologi informasi (TI). Apabila TI-nya kuat, maka banyak hal bisa dilakukan secara efisien,” jelasnya.

Ia memaparkan perlunya regenerasi.  Regenerasi dari pemerintah dinilainya relatif terbatas dan formasinya amat seikit. Oleh sebab itu, ia juga menggagas perlunya merekrut dosen dengan perjanjian kerja atau merekrut dosen yang sudah punya nomor induk dosen nasional (NIDN) agar kampus lebih berkembang dan inovatif. Kalau tidak dilakukan hal itu, tuturnya, bisa-bisa IPB disalahkan sejarah.

Ia menekankan perlunya bekerja keras, ikhlas, dan cerdas dengan mengutamakan kepentingan orang banyak. Insya-Allah kita bisa menatap masa depan dengan lebih baik,” kata Agus.  (442)

Agronesia Utama
Komunitas