Pertanian Terpadu ala Mas’ut

Minggu, 25 Pebruari 2018, 21:55 WIB

H Masut sedang memberikan penjelasan pada tamu-tamunya.

AGRONET-Mas’ut Imam Santoso merupakan sosok yang memiliki jiwa pantang menyerah. Usianya kini sudah memasuki 81 tahun. Namun, penampilan dan gerakannnya tampak tetap energik. Ia masih sering terlihat berada di sawah untuk mengawasi tanaman padinya.

Lahir sebelum perang kemerdekaan di Srengat, Blitar, Jawa Timur, pria dari keluarga sederhana ini sempat menempuh pendidikan SD, SMP, hingga SMA. Jenjang pendidikan itu dijalaninya di sekolah swasta. “Sekolah negeri tak ada yang menerima saya,” kilah Mas’ut.

Pada masa itu, murid sekolah swasta harus ikut ujian negara untuk mendapatkan ijazah. Mas’ut menempuh ujian negara secara bersamaan untuk pendidikan SMP dan SMA pada 1959. Selepas itu, ia juga melanjutkan pendidikan tinggi di universitas swasta namun terhenti hingga sarjana muda dengan alasan biaya yang tak mencukupi.

Merasa berbekal pendidikan cukup, Mas’ut mencoba peruntungan ke Jakarta. Di ibu kota, Mas’ut menjadi pedagang. Sayur-mayur adalah komoditas yang ia geluti di Pasar Senen, Jakarta. Selama hampir delapan tahun dia menjadi pedagang sayur. Karena dagangnnya tak terlalu berkembang, ia pun berpindah ke Pasar Kramat Jati, Pasar Rebo, Jakarta. Ternyata di tempat baru itu kehidupannya tak menjadi lebih baik.

Mas’ut lalu pulang kampung. Meski begitu, ia tak merasa mengalami kegagalan. Kehidupan di Jakarta yang begitu keras dia anggap sebagai tambahan bekal untuk tidak gampang menyerah. “Saya di kampung memulai dengan beternak ayam sekitar tahun 1974,” kata Mas’ut.

Dengan pnuh ketelatenan dan mental yang sudah tahan banting, dia tekuni dunia baru tersebut. Usahanya pun sempat pasang-surut. Meski begitu, dia tak mundur. Kian lama peternakan ayam petelurnya semakin berkembang.

Sejak itulah dia memikirkan bagaimana membuat usaha peternakannya tak gampang gulung tikar, andai ada gejolak atau gangguan ekonomi. Mulailah ia berpikir tentang perlunya beternak secara terintegrasi. “Ini artinya harus saling menunjang antara satu jenis usaha ternak dengan lainnya,’’ papar Mas’ut.

Ia berpikiran, bahwa sumber penghasilan peternak atau pengusaha sebaiknya jangan hanya satu. Bila hanya satu dan itu terganggu atau bahkan macet, maka akan gulung tikar si peternak tersebut. Mas’ut lalu mencoba beternak lele.

Kotoran-kotoran ayam tidak langsung dia buang akan tetapi dia biarkan beberapa pekan. Dalam kotoran ayam itu akan muncul ceremenje, yakni sebangsa kecoa yang tidak memiliki sayap. “Itu makanan yang amat bergizi bagi lele,” papar dia.

Sukses dengan ternak ayam dan lele, Mas’ut juga merambah ke ternak sapi. Namun, dia tak sendiri. Dia rangkul teman-temannya untuk memelihara sapi perah. Agar lebih punya posisi tawar, mereka berhimpun dalam koperasi susu Rukun Santoso yang beranggotakan 25 orang peternak sapi perah. Mas’ut dipilih sebagai ketua.

Mereka mencari pasar susu segar ke berbagai tempat. Justru susu mentah mereka akhirnya diterima oleh pabrik susu di luar Jatim. Meski begitu, ini hanya berjalan setahun karena pemasok lain mengancam agar menghentikan kiriman susu jika Koperasi Rukun Santoso masih tetap dilibatkan. Hal ini ternyata benar-benar terjadi. Rukun Santoso pun kelabakan. Sebagai ketua, Mas’ut lalu keliling mencari penampung baru susu dari koperasinya.

Ia pergi ke Jakarta dan Jawa Barat dengan modal nekat dan tak jarang tidur di masjid. Saat berada di Bandung, di Koperasi Pasir Jambu, dia dikenalkan oleh temannya pada seorang kepala bagian pembelian sebuah pabrik susu di Jakarta. Ternyata orang itu sedang mencari pasokan susu segar. Maka, kesepakatan pun terjadi antara Mas’ut dengan orang itu. Mereka sanggup menampung 5.000 liter susu sapi dari kelompok Mas’ut sejak awal 2003. Betapa senangnya Mas’ut, juga teman-temannya yang berhimpun di Koperasi Rukun Santoso.

Mas’ut juga mengembangkan peternakan bebek. Lagi-lagi yang dia pasok adalah telurnya. “Kami tidak menjual dagingnya,” kata dia. Kotoran bebek dan kotoran sapi inilah yang dia olah untuk menjadi pupuk organik bekerja sama dengan Petrokimia Gresik, Jawa Timur. Mas’ut pun memiliki pabrik pupuk.

Jadilah akhirnya Mas’ut mengembangkan usaha ternak ayam petelur, bebek, sapi, gurami, dan lele. Karena juga mampu menghasilkan pupuk organik, dia lalu menggarap sawah untuk ditanami padi. Dia benar-bener mengembangkan pertanian terpadu.

Omzet usahanya per bulan sudah mencapai miliaran rupiah selama bertahun-tahun. Walau begitu, dia mengakui, belakangan ini usaha ternak ayam dan bebeknya mengalami penurunan.Dia menjelaskan, hal itu juga dialami oleh banyak peternak lainnya.

Ayam petelurnya kini sekitar 100.000 ekor. Bebeknya masih ada sekitar 10.000 ekor. Sapinya juga masi ada puluhan ekor. Justru lele dan guraminya yang relatif masih stabil. Khusus soal sawah, Mas’ut tak mau menyebut luasnya lahan yang dimiliki.

Sukses itu membuat Mas’ut ingin menularkan pengalamannya. Untuk itu, dia juga telah menerbitkan buku dengan judul: Mau Kaya? Ayo Saya Ajari Integrated Farming. Buku ini sempat laris. Sekarang pun masih lumayan banyak permintaan atas buku tersebut.

Menyadari usianya yang semakin lanjut, Mas’ut mulai menerapkan regenerasi. Para menantunya kini terlibat dalam pengelolaan pertanian terpadunya. “Saya jaga tubuh yang sudah tidak muda ini. Saya kurangi aktivitas saya. Karena dua anak saya perempuan, menantu saya yang terlibat dalam usaha kami,” ungkap Mas’ut.

Sekalipun sudah mapan, Mas’ut tak ingin berhenti berkiprah. Hasrat untuk berbagi ilmu tetap kuat melekat pada dirinya. Dia pun menggandeng beberapa tokoh antara lain: Ric Widodo, yang berpengalaman mengelola perkebunan, tokoh peternak unggas Marmin Siswoyo, dan beberapa profesional bidang lain. Mereka mendirikan Lembaga Kesejahteraan Masyarakat Mandiri T5 (LKMM-T5). Proyeknya, membuat Blitar selatan yang gersang menjadi perkebunan sawit, tanaman jarak pagar, pembibitan sapi, dan pabrik pupuk organik. (442)

BERITA TERKAIT