Ikan Gurami Membawa Adi Laris Berbagi Ilmu

Senin, 26 Maret 2018, 00:15 WIB

Adi Sadewa

AGRONET-Pekerjaannya relatif mapan untuk ukuran sarjana yang baru lulus kuliah. Apalagi, bidang yang digelutinya juga sesuai dengan latar belakang pendidikannya. Namun pertimbangan keluarga justru membuatnya kian mandiri untuk membuka usaha sendiri.

Setelah merampungkan kuliah di jurusan perikanan Universitas Brawijaya Malang, K Adi Sadewa pun bergabung dengan perusahaan budi daya udang windu di wilayah Tuban, Jawa Timur. Ia menikmati pekerjaannya di usaha perikanan itu.

Ketika sedang getol bekerja, ternyata istrinya diangkat sebagai guru di Ngunut, Tulungagung, Jawa Timur yang juga tempat kelahiran Adi. Tak ingin jauh dari keluarga, Adi memutuskan keluar dari pekerjaannya dan kembali ke kota kelahirannya.

Itu terjadi tahun 2000. Adi kembali pulang hanya dengan pertimbangan ingin selalu bersama anak dan istri. Merasa punya bekal memadai di bidang perikanan, ia lalu membuka usaha peternakan ikan gurami.

Dengan modal pas-pasan, ia mengawali usaha dengan membuat empat kolam. Semua ia manfaatkan untuk pembesaran ikan gurami. Ia memulai usahanya dengan membeli telur ikan gurami untuk dipeliharan lalu dibesarkan. “Saya tak memulai dengan membeli benih ikan gurami karena harganya jauh lebih mahal sedangkan modal saya terbatas,” papar ayah dua anak ini.

Ieamembandingkan, saat ini harga ikan gurami umur 3 bulan sekitar Rp1.200. Sedangkan harga telurnya per bji hanya Rp70. Adi memilih bekerja keras memelihara telur gurami agar menjadi ikan dan laku dijual daripada membesarkan ikannya.

Sebagaimana usaha rintisan pada umumnya, Adi juga menemukan banyak tantangan.”Kendala utamanya adalah penyakit,” ungkapnya. Tentu saja ia juga mengupayakan untuk mengobati ikan-ikannya dari serangan penyakit.

Kendala lainnya adalah soal harga. Ia pernah mengalami saat panen ikan gurami, ternyata harganya anjlok. Maka, kerugian pun tak terhindarkan. Bisa balik modal pun sudah untung bagi dia. Meski begitu, Adi tak putus asa. Ia merasa tak punya pilihan dan bertekat untuk terus mengeluti usahanya tersebut.  

Secara perlahan, keuletannya mulai menampakkan hasil. Ikan guraminya sudah bisa dipanen dan mulai memberi hasil, Keadaan ini membuatnya kian bersemangat. Lagi pula, dia sudah menemukan konsep atau formulanya.

“Hal terpenting dari beternak ika gurami adalah mengembalikan habitat kepada kondisi aslinya. Selain mutu bibit bagus, kesetimbangan ekosistem perairan harus dijaga sedemikian rupa agar berjalan sesuai kodratnya atau mendekati habitat asli bagi ikan tersebut,” tutur Adi.

Kondisi merekayasa agar lingkungan air kolam seperti keadaan asli bagi lingkungan gurami,  otomatis akan membuat ikan tersebut lebih tahan gangguan penyakit. Pertumbuhan ikan pun menjadi jauh lebih optimal.

Setelah relatif berjalan dengan baik, Adi pun menambah jumlah kolamnya. Akan tetapi, lantaran keterbatasan lahan, dia hanya bisa menambah dua kolam sehingga kini semuanya ada enam kolam. Dengan enam kolam, Adi kini secara keseluruhan memiliki 6.000 ekor ikan gurami di peternakannya.

Setiap tiga bulan sekali, dia bisa memanen gurami sekitar enam hingga tujuh kwintal. Bila harga gurami rata-rata Rp3 juta per kwintal, maka hasil kotor yang dia peroleh dalam tiga bulan sekitar Rp21 juta. Rata-rata gurami yang dia jual per ekornya memiliki berat 0,5 kg (5 ons) hingga 7 ons. Di angka bobot inilah ikan gurami paling banyak dicari.

Menurut Adi, selama ini sudah ada pedagang yang menampung hasil panen guraminya. Itu membuatnya tak perlu repot-repot memasarkan ikan hasil panenannya.

Lantaran merasa memiliki ilmu perikanan yang ia peroleh saat kuliah, Adi kian menekuni seluk-beluk teknis beternak ikan gurami. Jadilah dia mendalami pengetahuan itu dan justru kurang memikirkan perluasan skala usahanya. Selain lahan yang dimliki terbatas, ia pun merasa tak mungkin membuka usahanya di tempat yang lokasinya berjauhan.

Adi kian mendalami hal-ihwal yang secara teknis terkait dengan budi daya gurami. Menggabungan antara ilmu dan praktik yang sehari-hari ia kerjakan, Adi mampu menemukan cara efektif beternak gurami yang bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah dan sesuai dengan kondisi lapangan. Ia membuat konsep dan materi tata cara beternak ikan gurami secara menyeluruh.

Keadaan ini membuat Adi justru laris ntuk dimintai berbagai pihak agar berbagi ilmu beternak ikan gurami. “Akhrinya justru dunia saya lebih tersita di bidang penyebaran ilmu beternak ikan gurami,” kata Adi. Sebenarnya, ia pernah pula mengembangkan peternakan lele. Namun kurangnya fokus di lapangan menjadikan peternakan lele ini ia hentikan.

Ia masih terus menggeluti peternakan ikan guraminya, akan tetapi aktivitasnya dalam penyebaran ilmu beternak ikan gurami kian bertambah. Tak hanya di sekitar wilayah Tulungagung saja Adi berbagi ilmu namun juga di banyak tempat.

Ia pernah memberikan pelatihan di Lombok, Nusa Tenggara Barat. Beberapa kali diundang untuk berceramah atau menjad narasumber pelatihan di Depok, Boyolali (Jawa Tengah), Semarang, serta beberapa wilayah lainnya. Apalagi jika bulan September-Oktober, jadwalnya dalam  memberi pelatihan atau sebagai narasumber untuk seminar atau sarasehan kian padat.

Adi akan terus menekui dua dunia yang saling menunjang dan memberinya bekal pengalaman utuh sebagai peternak ikan dan narasumber pelatihan. Banyak dinas peternakan daerah yang telah menjadikan Adi sebagai narasumber langganan setia mereka saat mengadakan pelatihan atau seminar beternak ikan, utamanya gurami. Bagi dia, dua dunia ini telah melengkapinya sebagai insan yang utuh di dunia budi daya ikan air tawar. (442)

BERITA TERKAIT

Komunitas