M. Iqbal, Spiritualitas, dan fintech iGrow

Minggu, 22 April 2018, 19:32 WIB

Muhaimin Iqbal

AGRONET – Spiritualitas agro, penggunaan istilah ini sulit dihindari jika mau menggambarkan sosok Muhaimin Iqbal secara tepat. Sosok yang namanya mulai dikenal setelah mengembangkan kebun kurma di Jonggol Farm, Bogor.  Kemudian usahanya di bidang agrobisnis berkembang luas, termasuk ke dunia fintech --teknologi keuangan-- bidang agro yang pertama, yakni iGrow. Semua itu berawal dari spiritualitas.

Ya, spiritualitas memang sudah menjadi bagian dari diri Iqbal --panggilannya--  sejak kecil. Ia lahir dan besar di lingkungan pesantren. Di Tanjung Anom, Nganjuk, Jawa Timur. Ayahnya, Imam Hambali, adalah pengasuh pesantren. Apalagi saat itu ada sosok kyai kharismatis di Tanjung Anom, yakni Kyai Kusnun yang memimpin Pesantren Sabilil Muttaqien (PSM) setempat.

Keseharian Kyai Kusnun ini banyak di masjid. Kyai santun dan sederhana tidak suka berceramah, melainkan lebih sering memimpin berzikir. Zikirnya mengikuti Tarekat Sathariyah yang diamalkan pasukan Diponegoro dan kemudian dibawa ke Jawa Timur oleh para prajurit pelarian setelah Diponegoro ditangkap Belanda. “Ayah saya ikut kegiatannya Kyai Kusnun,” papar Iqbal.

Dari sanalah nilai spiritualitas Iqbal kecil ikut terbangun. Sosok kelahiran 17 Maret 1963 ini menempuh pendidikan hingga SMP di daerahnya sendiri. Berkeinginan mendapat pendidikan yang lebih baik membuat keluarga pun mengirimnya ke Yogya, pusatnya Muhammadiyah sejak masa KH Ahmad Dahlan mendirikan organisasi tersebut tahun 1912 silam.

Iqbal bersekolah di SMA Muhammadiyah terbaik. Sekolah tersebut adalah SMA Muhammadiyah I Yogya, yang lebih dikenal sebagai MUHI. Ia menjadi lulusan terbaiknya. Hal yang mengantarkannya untuk kuliah di Institut Pertanian Bogor. Jurusan Mekanisasi Pertanian dipilihnya, hingga dia tercatat sebagai lulusan terbaik jurusan tersebut dalam 18 tahun sejak jurusan tersebut berdiri.

Maka tak sulit bagi Muhaimin untuk mendapatkan pekerjaan prestisius dan bahkan untuk dapat berkarir secara cepat. Dalam usia muda, dia telah menjadi eksekutif di perusahaan finansial.   Juga meraih berbagai penghargaan internasional. Puncak kariernya adalah saat dia ditunjuk sebagai direktur  PT Asuransi Tugu Pratama, anak perusahaan Pertamina.

Dalam sebuah wawancara, Iqbal mengaku bahwa sebenarnya sudah berulangkali mencoba berwirausaha saat  dia masih bekerja sebagai pimpinan perusahaan swasta. Dalam catatannya, setidaknya ia sudah enam kali gagal. Dia tak ingin gagal kembali untuk ketujuh kalinya. Maka dia pun tak ingin setengah-setengah dalam berwirausaha, dan terjun total ke bisnis. Dia tak dapat mundur lagi karena, dalam istilah dia,  “Kapal saya benar-benar (sudah) saya bakar.”

Untuk berbisnis di bidang pertanian, menurut Iqbal pada Agronet, dirinya tak punya rencana khusus. Awalnya adalah adalah pengajian di kantornya, sebuah ruko di Depok yang dimilikinya, setelah ia meninggalkan karir profesionalnya. Pengajian itu membahas berbagai ayat Al quran, sampai ke Surat Hud ayat 61.

Dalam ayat tersebut dinyatakan, bahwa Nabi Saleh diutus Tuhan untuk mendatangi Kaum Samud. Pada masyarakat tersebut, Nabi Saleh mengajak untuk menyembah Allah. Juga mengingatkan bahwa Allah-lah yang menciptakanmu dari tanah, dan menjadikanmu sebagai pemakmurnya. Bagi Iqbal, itu adalah petunjuk yang sangat jelas. Manusia diciptakan dari tanah, dan manusia harus mengolah tanah untuk memakmurkan dunia.

Isi pengajian itu membekas betul pada Iqbal. Maka dia membulatkan tekad untuk berusaha agrobisnis. Pada awalnya dia memilih komoditas yang disebut langsung dalam Kitab Suci. Usaha madu, hingga menanam buah tin serta zaitun digarapnya. Orang-orang pun banyak mengenalnya sebagai perintis "kebun kurma” yang kini ditiru oleh banyak orang. Jonggol Farm di Bogor menjadi lahan pertamanya dalam beragrobisnis. Itu terjadi pada tahun 2008.

Semangatnya untuk "memakmurkan bumi” dengan beragrobisnis itu membuatnya terus berekspansi. Sebuah perkebunan peninggalan Belanda seluas 600 hektar di Blitar diakuisisinya. Letaknya tak jauh dari Candi Penataran, Blitar. "Di sana saya dapat melakukan berbagai eksperimen pertanian,” kata Iqbal. Hal bukan saja menguatkan pondasinya buat bergrobisnis, namun juga spiritualitasnya.

Petunjuk Allah tentang cara memakmurkan bumi, menurutnya, sangat jelas. “Tinggal menjalankannya saja,” kata Iqbal. Prinsip dasarnya adalah bahwa tanah, air, dan api harus dikelola sebaik-baiknya oleh negara untuk kepentingan masyarakat luas. Tanah berarti pertanian, air berarti sumberdaya air dan juga perikanan sedangkan api adalah energi.

Setelah lebih sewindu menekuni pertanian, Iqbal pun mendalami urusan energi. Ia menyebut hasil terbesar dari pertanian adalah energi. Yakni energi biomassa berupa batang hingga dedaunan. “Hasil dari panen kan tidak seberapa. Yang banyak kan batang dan daun-daunnya,” kata Iqbal. Itulah biomassa.

Dia percaya, sumber energi yang luar biasa adalah matahari. Tetapi, untuk konteks Indonesia yang kaya dengan hujan, yang lebih perlu diolah secara langsung adalah energi biomassa dan bukan energi surya. Untuk menangkap energi surya, perlu dibangun panel-panel yang sangat mahal. Sedangkan di Indonesia, Tuhan sudah menciptakan penangkap energi surya itu berupa berupa dedaunan yang memproses energi melalui fotosintesis.

Itu yang menjadi perhatian Iqbal. Maka dia sekarang terus bereksperimen untuk membuat mesin pengolah biomassa menjadi listrik. Sebuah keinginan yang menurutnya akan sangat makan waktu untuk benar-benar terwujud, namun harus dimulai. "Siapa lagi yang memulai kalau saya juga tidak mau,” katanya. Untuk itu, dia jelas tak dapat sendirian. Dia bahkan harus pula ikut memajukan para petani Indonesia yang secara umum masih sangat tertinggal dalam agrobisnis.

Masalah petani Indonesia, menurut Iqbal, sangat jelas. Namun sampai sekarang bangsa dan negara ini belum mampu memecahkannya. "Masalahnya, petani kita tak terhubung dengan pasar,” katanya. Padahal, jika produksi tak terhubung dengan pasar, ketrampilan Bertani pun tak akan berkembang. Juga, tak akan ada lembaga keuangan yang mau mendanai.

Itu yang menjelaskan mengapa penyaluran kredit perbankan ke pertanian sangat rendah. Hanya sekitar 2,5 persen total kredit. Itu pun lebih banyak dinikmati oleh perusahaan-perusahaan agro besar. Bagi petani kecil nyaris tidak ada. Iqbal tak menampik adanya kredit usaha mikro dan kecil ke para petani. “Itu lebih untuk menunjukkan aspek kepedulian pemerintah,” ujarnya. Namun, itu tidak signifikan buat memajukan pertanian.

Berlatar belakang industri keuangan dan bergerak di agrobisnis membuat Iqbal pun mengembangkan fintech. Langkah awalnya ditempuh pada tahun 2014, dengan membeli perusahaan pengembangan program ‘Badr Interactive’.  Perusahaan inilah yang kemudian mengembangkan fintech iGrow.

Prinsip iGrow ini sederhana saja. Prinsip tersebut adalah untuk dapat melibatkan sebanyak mungkin orang --dalam hal ini investor-- untuk dapat membantu sebanyak orang. Dalam hal ini petani. Nama iGrow sendiri mencerminkan prinsip tersebut. ‘I’ atau ‘saya’ akan menumbuhkan tanaman, pertanian, dan juga memberdayakan petani. Iqbal berharap melalui fintech tersebut orang-orang tidak hanya berinvestasi buat mencari keuntungan, namun juga memiliki kepedulian pada tanaman dan petani.

Meskipun tampak sederhana, operasionalisasi fintech agro ini tidak mudah. Lebih rumit dibanding banyak fintech lain, misalnya yang urusan gadai atau simpan pinjam. Hal teknis Teknologi Informasi dalam usaha fintech ini sama sekali bukan persoalan. Ia menilai tim iGrow sangat memadai dalam urusan ini. Tantangan terbesarnya justru berada di lapangan.

"Usaha tani yang kita biayai harus benar-benar terkoneksi dengan pasar,” kata Iqbal. “Tentu saja teknis budidayanya harus sangat bagus.” Padahal belum banyak petani atau kelompok tani yang siap dengan kedua hal tersebut. Meskipun begitu, iGrow terus juga tumbuh hingga kini telah melayani ribuan pekerja tani yang mencakup sekitar 1.500 hektar usaha pertanian.

Sekarang banyak perusahaan fintech yang bermunculan mengikuti jejak iGrow. Semua berlomba untuk memberikan ‘pengalaman terbaik’ bertani tanpa harus kotor tangan. Setiap investor dapat mengikuti lewat akun masing-masing, saat benihnya ditanam. Juga melihat tahap demi tahap pertumbuhannya, hingga saat panennya nanti. Model layanan iGrow yang seperti itu  juga model layanan fintech agro lainnya.

Tak khawatir dengan menjamurnya fintech agro? Iqbal yang juga memiliki usaha Tanjung Lesung Agropolitan di Banten ini menggeleng. "Yang harus digarap di Indonesia masih sangat luas. Masih perlu puluhan fintech agro lainnya untuk memajukan pertanian kita,” kata Iqbal. Diakuinya bahwa jalan masih sangat panjang untuk membuat dunia agro maju. Termasuk melalui pendekatan fintech. Namun, menurutnya, tetap harus ada yang terus menekuninya.

Penghargaan demi penghargaan memang telah diraihnya, termasuk pengakuan masyarakat pertanian atas berbagai usaha yang dirintisnya. Yang terakhir adalah menyangkut fintech iGrow yang dikembangkannya, yang pada tahun 2017 dinyatakan sebagai start up terbaik di Asia Tenggara karena memberi manfaat nyata pada masyarakat dalam lomba yang diselenggarakan PBB di Bangkok. Kemenangan itu mengantarkan iGrow untuk mengikuti kompetisi tingkat dunia pada 2018 ini di Silicon Valley, Amerika Serikat.

Pengakuan juga datang dari pemerintah Australia yang memberikan bantuan lewat Frontier Innovative Award juga dari lembaga Global Bond, Turki. Namun Iqbal merasa masih sangat banyak yang harus dia kerjakan agar manfaatnya benar-benar dirasakan secara luas. Dia paham betul ajaran agama bahwa "sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi sebanyak mungkin manusia lainnya.” Iqbal pun beragrobisnis sebagai zikir dan jalan spiritualnya. (312)

BERITA TERKAIT